ceritanetsitus karya tulis, edisi 190 kamis 100422

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

novel Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

Kedatangan Fetty di rumah konrakan kontan saja mengundang banyak pertanyaan. Fetty dan Tia sempat satu malam menginap di rumah kontrakanku dengan status tidak jelas, begitulah normanya, walaupun Tia bukan orang asing karena sudah sering nongkrong di kontrakan bersama teman-teman LPM.

“Lif, kamu tidak bisa menyimpan WTS itu di rumah kontrakanmu. Ini akan menjadi aib!” Pak RT menegurku keras.

Dia memrintahkan putranya untuk memanggilku ke rumahnya. Ketika aku masuk ke dalam rumahnya, sudah ada lima orang menungguku.

“Kamu pulo, Lif. Cak kegala’an ngajak betino yang gawenyo mak itu. Awak budak IAIN, malah ngajak betino dak jelas!” tetanggaku di sebelah kanan juga ikut pasang suara tinggi.

“Pak, aku ni nolong Fetty. Bukan kareno ado apo-apo. Nian, Pak!. Dio tu korban penggerebegan di Semarang. Nah, kareno dio budak Plembang, mako aku bawak balek, dari pada maluke Plembang di kampung uwong. Kito yang dak lemak,” aku menjelaskan ke forum di rumah Pak RT.

“Tapi kami warga di sini tidak ingin Fetty ada di sini” kata pria yang tinggal di seberang rumahku.

“Yang mau mengajak Fetty tinggal di sini itu siapa? Sekarang ini kan sementara, sebelum Fetty menemukan saudaranya di Palembang. Kalau sudah bertemu dengan saudaranya, ya kita serahkan pada mereka,” jelasku agak meninggi.

“Ngapo pulo kau ini bawa-bawa lonte ke kampung ini," tegas Pak RT lagi.

“Oi, Mang! nak lonte, nak germo, nak kiai, galo-galo tetep manusio! Apo salah aku nolong uwong, macem Fetty!? Apo dak bepikir kalu seandainya yang tetimpo masalah cak Fetty ini anggota keluarga kamu?! Sedih kito kalu njingok cak mano Fetty dan kawan-kawannyo diperlakukan cak kambing oleh aparat!”

Aku tidak menyangka aku jadi ikut-ikutan bersuara keras, untuk Fetty, yang ternyata kembali menggeluti dunia hitam. Hari itu juga kami cari rumah pamannya. Walau bibinya tampak tak terlalu suka Fetty tinggal di situ, aku berhasil meninggalkan Fetty di sana.

Namun beberapa hari kemudian, subuh-subuh, Fetty mengetuk pintu kontrakan. .

“Ngapo pagi-pagi mak ini ke sini, Fet?!” tanyaku pada Fetty yang tampak ketakutan.

“Aku diusir samo mamang aku,” kata Fetty berkisah.
“Ngapo sampe kau diusir?” selidikku.
“Dio minta jatah ini naa!” kata Fetty sambil menunjukkan isyarat ke arah kelaminnya.
“Kalu gilo mamang kau tu!’ aku meragukan cerita tentang pamannya.
“Dak tahu. Mungkin la Gilo nian,” ujar Fetty sambil sesekali meneguk kopi dan mengisap rokok Mild kesukaannya.
“Apo bibik kau dak katek?”
“Bibik aku la seminggu di Padang. Katonyo ado dulurnya yang ninggal. Dari pada dituduh ngrusak rumah tanggo bibik aku, lebih baik aku tolak.”
“Laju kau diusirnyo?!”
“Yo kareno aku nolak kendak dio, mungkin. Laju dio benci samo aku. Laju ngusir aku mentah-mentah.”

Aku diam, antara tidak tahu mau berkomentar apa dan meragukan ceritanya.

“Yang kupikirke sekarang ini Herma, anak aku yang masih di rumah mamang. Aku takut diao jadi sasaran,” mata Fetty seketika mulai mengembun. Ada sesobek kasih ibu yang tergambar disana.

Walau hasil hubungan gelap dengan seorang bos, tetapi Herma tetap saja darah dagingnya. Seketika aku juga merasakan keharuan. Aku kemudian ingat kembali saat ibuku menangis melepas kepergianku ke pesantren. Aku merasakan ada setitik cahaya dalam diri Fetty, walau cahaya itu kini sedang terhalang oleh kebutuhan dan tuntutan hidup.

Fetty dan teman-teman PSK-nya membutuhkan kepedulian dari semua pihak. Bukan hanya sekedar diberi pelatihan pro-forma, tetapi juga harus diberi lahan untuk bekerja. Benar kata Imam Ali Bin Abi Thalib ; kaddal fakru ayyakuna kufron (kefakiran itu akan sangat dekat dengan ke-kafiran). Tapi siapa yang mau peduli pada Fetty?
***
bersambung

Nyanyian Gagak
Aminatul Faizah

Menguak Logika Terorisme
Gendhotwukir

ceritanet©listonpsiregar2000