ceritanetsitus karya tulis, edisi 190 kamis 100422

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

cerpen Nyanyian Gagak
Aminatul Faizah

Pernahkah kau terbayang akan terlahir dalam sebuah sosok yang menakutkan: sebagai penjagal nyawa dan penghempas asah. Hanya mendengar suaramu mereka takut akan kematian. Tapi setidaknya aku beruntung masih bisa berkawan dengan melati, mawar, dan kenanga. Tiga perawan indah namun nista yang mengiringi perpisahan yang menyakitkan. Bagaimana mungkin mereka tak berduka? Sedang berpuluh-puluh buliran itu tergerai jatuh tiada harganya di sana. Di tanah tak bertuan tempat manusia yang menanti, yang terlupakan dan yang diperhitungkan.

Aku saksinya.

Atas teriakan maaf, atas tawa kesabaran, atas keihlasan, kepasrahan, penghianatan, tangis pilu keterlambatan, atas kesadaran dan hanya di sanalah aku melihat kepedihan dan juga keadilan. Aku tak seberuntung teman-teman yang tak menyaksikannya dalam jangka waktu lama. Aku juga tak seberuntung kutilang yang terbangun saat fajar, terbang bermain dengan awan dan berdendang gila kala siang dan kembali kala malam tiba.

Aku bangsa mereka, namun kenapa Tuhan begitu tega menjadikanku mahluk yang hanya berdiam menanggung semua takdir kelamku. Bernyanyi kala akan ada yang kehilangan dan ketika kami bersuara akan ada yang pergi. Terkutuklah kami!

“Awas ada gagak datang!” kata kutilang suatu masa saat ia bertengger di dekatku.

Aku merasa heran karena ini rumahku. Harusnya aku yang layak teriak demikian: kau pendatang yang menyesatkan.

Aku terdiam.

Sudah biasa aku mendengarnya. Sementara istri kutilang tengah memeluk anaknya dengan erat. Siapa pikir aku ini apa? Aku jua mahluk yang sama dengan mereka. sayangnya aku terlahir dalam raga yang kubenci. Aku jua adalah mahluk ambang kematian yang bagaimanapun juga tak mampu mengelak atau bahkan menanggalkan jubah keseramanku dan menjadi mahluk bugil yang mengagumkan. Layaknya tubuh-tubuh yang berjejar rapi kala malam tiba.

“Aku tak datang tapi ini rumahku. Ini tempat ambang dan ini milikku. Tanah dimana ku dilahirkan.”

“Kami tahu,” kata kutilang jantan dengan jambul senada dengan ekor.

“Lalu.”

“Tanah kami tergilakan. Tertindas antara dibuang sayang dan tiada hak untuk kami, tiada yang murni dan yang ada hanya iklim kegilaan mengikuti.”

Aku terdiam.

Terbisu dalam iklim yang selalu bertanya. Aku hanya sebuah saksi atas penjara dan keadilan sejati. Hanya saksi tanpa kumengerti apa dosanya. Dosa mereka yang terlahir di luar tanahku yang jika aku kesana, kutukan akan datang. Tapi aku acungi jempol juga bagi mereka, mahluk munggil yang berani karena tak memiliki pilihan. Aku tersenyum namun aku tak berani bersenandung karena jika kulakukan maka akan ada yang mati. Mahluk lain akan membayar mahal senandung serak laguku.

“Ya…. Pimpinan tanahmu memang gila. Menari-nari dengan sesuatu yang mereka buat. Tersibukan dengan tawa dan tangis yang tiada masalah dan menghilang dalam bara. Mengusir luka dengan menari bukan melampangkan dada.”

“Tapi tak semuanya. Ada yang tidak... kau tahu kami berjumpa dengan yang baik di antara ladang kegilaan dan kengerian dan kau tahu ada yang baru.”

Aku melirik kutilang itu: dia menaikan jambulnya sementara wanita dan anaknya mulai terlelap dalam kelelahan. Dia menaikan jambulnya lagi. Bernyanyi dengan merdunya mengiring nina bobok keluarganya. Dan seketika semuanya seolah terhenti menyimak nyanyian itu. Aku iri dan terus menatapnya, menghayati lagunya, dan aku tahu ia tengah merindu pada tanah yang terasing.

“Ku tilang…. Ku tilang….. rumah…… adu…..hilang. Addduuuu….. pulllanng……. Tanah……nian…… hilanggg…….yang gillllaaa…..yangg…buat….”

Aku tersenyum miris dan ingin kusahut dengan senandung kepedihanku. Tapi aku urungkan: mana mungkin aku berani mengilangkan nyawa yang telah kehilangan. Yang berani memberanikan diri mendekatiku, mengukur nyali karena tiada punya pilihan.

“Kau tahu ia cantik, secantik kaumnya. Masih belum terjangkit wabah, terindukan namun mengasingkan diri, terdiam dan kau tahu. ia cukup bijaksana untuk dikatakan manusia, cukup murni dan beku untuk tersentuh wabah dan cukup waras hingga kegilaan tiada berani mendatanginya.”

Aku hanya terdiam.

Tiada peduli dan kubiarkan ia terlelap layaknya anak dan wanitanya. Aku mulai mengepakkan sayap membelah cakrawala dengan latar hitam berbingkai merah darah. Tanpa suara, tanpa senandung, aku berkelana dan meneliti setiap jengkal tanah yang telah mewabah. Aku yakin besok aku akan banyak bersenandung. Bersenandung karena aku tiada akan bersedih. Aku bersenandung karena mereka mewabah. Hanya senandungku yang akan mampu mengangkat mereka, melepas mereka, menempatkan mereka pada suatu tempat yang tiada ada perkara, hanya pertanggung jawaban. Itu hanya pikiran konyolku. Karena jika aku melihatnya, melihat kematian merenggut, maka aku tahu...

Aku tahu betapa itu menyakitkan.

Mereka menari di bawah malam kala mahluk normal lainnya tidur dan esoknya mereka akan berjalan tiada henti tanpa ada yang memasuki akal. Terdiam terpaku, kala angkah berubah dan menulis yang tiada terjadi seolah-olah sesuatu ramalan yang nyata. Ramalan yang ditunggu dan mereka yakini. Dia terjungkal dan hampir terjungkal saat menelusuri antara yang hitam diantara yang hitam. Apa ini? tukasnya. Namun ia tiada peduli. Mungkin itu adalah bagian dari wabah yang menjangkit.

Lalu ada mereka yang menyulut dengan sadar tuan api. Lalu bersorak riang diantara pijaran api yang menghanguskan. Anehnya malah ia nikmati abu jasatnya bak dunia yang baru.

Gagak menggelengkan kepala. Inikah bagian yang ia lindungi? Ia kecewa namun tak mau menghilangkan yang pernah ada karena baginya mati itu sakit. Dia terbang melintasi langit gelap dengan samaran awan yang terlelap dengan beban kecewa yang memuncak.

Seberkas cahaya yang menyilaukan mata nampak terlihat. Mulutnya ternganga saat ia menatapnya, ia terpana melihatnya yang berbalut. Berbalut dalam derajat terendah dari kebingungan. Gagak melihat mereka menari-nari. Ia kebingungan. Dihempaskannya sayapnya dan bersenandung seolah ingin jadi pahlawan yang melepaskan kedukaan. Dia yakini itu. namun itu tidaklah memasuki akal bagi yang tertolong. Caci maki terdengar di telinganya. Bahwa mereka lebih baik mewabah. Berputar diantara kengerian dan eforia yang utopis.

Lalu ia berhenti sejenak. Dilihatnya yang putih bersinar diantara yang hitam. Sesosok merpati, ia rasa bukan…. merpati kalah elok dibandingkan mahluk, mahluk setengah manusia dan setengah dewa yang berjalan sebari memandang. Lalu mahluk itu menyepi. Meninggali kawasan antara ambang kehidupan dan kematian. Manusia memandang mahluk suci itu bak kesaingan. Keasingan atas duniawi yang mewabah dianggaplah normal. Cercaan bagai hempasan angin yang menanggalkan kelopak mawar, melati, dan kenanga. Tapi mahluk itu hanya terdiam. Ia tahu… dengan pasti kalaulah menghadapi manusia yang terwabah hanyalah bersabar.

Secara naluri gagak bersimpati. Awalnya biasa namun gagak tak bisa tidur di siang hari karena memikirkannya. Memikirkan manusia setengah dewa dengan gaun yang menjuntai. Menari-nari diantara hempasan kenanga, melati, dan mawar. Ia juga mendengar nyanyian itu: nyanyian yang merdu hingga burung-burung itu ikut bernyanyi. Ia ingin bernyanyi juga, ingin seperti burung bulbul, parkit, merpati, dara, kutilang dan siapapun, bahkan burung hantu. Hanya gagak yang harus berdiam diri memegang teguh kodratnya sebagai burung pencabut nyawa.

“Apa itu temanmu?” tanya mahluk itu pada burung hantu.

“Uhhhhuuuu….uhhhhuuuu.”

“Temanmu yang malang, tidakkah kau ingin mendengar nyanyiannya.”

Burung hantu hanya terdiam. Ia lalu bercerita tentang nyanyian kelam pencabut nyawa milik gagak. Gagak hanya terdiam dalam lamunannya. Ia terus menatap percakapan mahluk dengan gaun putih menjuntai itu. Wanita itu lalu tersenyum. Ia melambaikan senyuman seketika. Gagak meluluh hatinya. Ia merasakan apa itu cinta untuk pertama kalinya. ia merasa begitu senang karena untuk pertama kalinya seorang mahluk suci dan murni memahlukannya.

“Ayooo.. kemarilah….!!! Bersamaku…,” katanya sambil melambaikan tangan.

Gagak menolak, tapi ia merasa luluh saat mahluk suci itu bernyanyi. Entah darimana suara merdu itu. suara yang membuat sesaat bumi terdiam dan wabah itu terhenti. Begitu hening, lembut, maknawi dan beribu-ribu panah itu tertancap. Gagak terkena. Ia tak bisa mengelak dari racun kasmaran itu, mahluk itu dengan tangan yang sempurna mengelus tubuh gagak seolah ia tak sadar kalau ia bermain dengan detik kematian sendiri.

Mahluk lainnya bersembunyi dalam sarangnya, menyembunyikan dirinya dari segala hal yang akan membangunkannya. Ia takut malaikat kematian yang terlepas dari tempat asalnya menjemputnya. Sia-sia memang namun, ia ingin nikmati dunia ini. barang sejenak.

“Kau pendiam sekali... tubuhmu kurus, apakah kau pernah bahagia?”

Gagak hanya menggeleng menyembunyikan duka dalam kekelaman yang ia bawa.

“Apa kau menderita?”

Gagak juga tediam. Tiada lebih menderita dibandingkan terlahir sebagai mahluk symbol petaka.

“Kematian yang mereka takutkan bukanlah buruk.”

Gagak menoleh.

“Kematian bukanlah akhir yang membawa petaka bagi kita. Kadang kau tahu kematian adalah bagian dari sirklus kehidupan. Bagi yang tertindas dan baik: kematian adalah pembebasan.”

Gagak terdiam, lalu bibir manis memerah itu menyentuhnya. Menyentuh ubun-ubun yang hampir membatu. Ketenangan memasuki ruang terdalam dari hati yang merasa membawa kutukan.

“Kau harus jalani hidupmu. Menyanyilah bersamaku karena kau bagian dari takdir ini.”

Gagak menatap mata teduh yang tiada membawa kebohongan. Dia percaya dan membuka mulutnya. Membiarkan manusia yang mewabah mendengarnya. Tanpa kobaran api satu persatu manusia itu melayang dalam mimbar dengan penuh keadilan. Terbebas dari wabah dan mereka tak tahu kenapa. Ada yang pergi dengan luka, ada yang panik dan ada yang bahagia.

Manusia dalam bebagai perasaan melayang-layang melewati ambang itu. seperti hembusan angin yang dasyat namun gagak tak peduli. Ia benyanyi, ia sadar bukan salahnya. Ini siklus kehidupan. Harusnya ia terima, bukan terpuruk dalam kekelamannya sendiri. Siklus bukan salahnya, Tuhan yang merangkainya: merangkai sebuah masa yang seimbang termasuk dirinya. Ia sadar bahwa sekarang butuh keseimbangan.

“Belum terlambat,” kata mahluk itu dengan senyuman yang menghipnotis.

Ia sadar lalu membuka selebar-lebarnya pita suara itu dan dilihatnya mahluk itu bagian dari mereka. Mahluk itu terbang meninggalkan jasatnya. Bak kepompong yang merekahkan kupu-kupu. Tapi mahluk itu tak hendak pergi. Ia terus tersenyum berada di samping gagak. Sementara gagak agak sedikit gusar.

“Keseimbangan.” bisiknya.

Disentuhnya dada gagak untuk menyakinkan bahwa itu adalah keseimbangan. Gagak berani melakukannya. Dengan menutup matanya dan bulir air mata yang menuruni pipinya. Ia bernyanyi. Sementara mahluk berbenar itu menikmatinya. Jasadnya menari-nari. Seolah ini yang seharusnya terjadi.

“Gak….ngakkkk…. ngakkkkk……ggagggakkkk”
 
Gagak terus benyanyi…… bernyanyi…..bernyanyi.... dan mahluk itu terus mendampinginya.

Ia tahu, dengan begini ia mampu melepaskan wabah itu dari mereka. mengembalikan kebebasan bagi mahluk yang disebut manusia. Membebaskan mereka meski dengan kematian, dan untuk pertama kalinya gagak bahagia. Ia merasa menjadi mahluk yang bebas dan tak menyesali terlahir sebagai mahluk hitam. Ia sadar ia bagian dari takdir dan hanya memainkan perannya sebagai ciptaanNya. Bukan pilihannya terlahir sebagai pelambang pencabut nyawa. Ia seolah ingin menahan itu, dengan menumpuk semua beban di pundaknya dan itu sebuah pilihan yang salah. Ia ingin mahluk lainnya tetap lestari, namun apa daya mereka telah terwabah. Percuma juga dipertahankan karena akan membunuh yang lain.

Mahluk berbenar itu terdiam. Didengarnya lagu itu dengan seksama.

Matanya yang dalam memancarkan sinar kedamaian. Sebuah pembebasa dan juga penyadaran akan takdir baru saja ia lakukan. Tuhan inginkan itu darinya. Jawabanya dengan pelan, mana kala perlahan nafas itu berkurang, ruh itu terbang sedikit demi sedikit meninggalkan jasadnya layaknya air yang mengering. Dia menyentuh gagak itu, bukan untuk menghentikannya melainkan agar gagak terus bernyanyi. bukanya kerongkongannya agar gagak terus bernyanyi,

Ia ikut bernyanyi bersama gagak hingga nafas tertanggalkan. Dia nampak begitu senang menyanyikan lagu kematiannya yang bak pahlawan. Menyanyikan lagu kematian tentangnya yang indah, tentang kematian moral kaumnya, tentang ibu bumi, tentang lagit yang gelap, tentang jiwa yang terkekang dan tentang akal yang tersesat.

Nyanyian itu terdengar begitu merdu.

Sang mewabah terhenti, mereka ketakutan dan tak merasa kalau mereka terkena wabah. Mereka berlari kocar-kacir, bersembunyi di bawah sekam yang melapuk dan diingatnya Tuhan. Kematian masal jawabNya, dan nyayian gagak itu menjadi. Terdengar bak mentari yang mengisi jengkal alam dari jenggala hingga susu. dDipenuhinya rawa perkotaan dengan lengkingannya yang mencekam.

Sebuah musibah, kata mereka lalu diaraknya ombak menuju daratan, menghempaskan kata normal akan jangkauan. Bencana teriak mereka, dengan nyanyian yang penuh semangat dibangunkannya tuan api. Ia terbangun, bukan dari ibu bumi tapi dari cahaya suci. Tuan api, ibu api, anak api dan sanak familinya menari-nari kegirangan. Seolah batasan antara yang muda dan tua tiada berarti. Dia ikut berdendang dengan suara gagak yang merdu. Kata anak muda api, ini adalah lagu riang yang mewakili kita sebagai api. Mahluk penghancur, mahluk jahat. kata mereka.

Lalu ibu api, menatap anak muda bagiannya: “Kita hanya terlahir tanpa pilihan. Yang jahat dalah yang mewabah. Mereka punya pilihan tapi enggan memilih yang baik. Jalani saja takdirmu seperti gagak.”

Anak muda api hanya tersenyum.

Ia kembali menari, dihempasnya akasia, sono, damar, rotan yang mengering. Dan mawar, melati, dan kamboja lambang kematian tersenyum bak serigala berbulu domba.  Mereka senang karena sebentar lagi jayalah kaumnya. Kaum pengantar kematian.

“Terus Gagak…!” teriak melati.

Gagak tak mendengar, ia terlalu asyik bernyanyi. Ia lupa mahluk yang ada disampingnya telah terbang meninggalkannya. Dia terbang dengan senyuman bulan sabit, mengatakan pada Tuhan,

“Telah ku kembalikan ia jadi mahluk yang tak menyiksa dirinya. Ku korbankan itu… dan kini aku siap berada di sampingmu dan siap engkau tugaskan kembali.”

Gagak mendengar suara itu. ia terhenti.

Ia menatap seonggok tubuh putih yang tak kehilangan sinar berada di dekatnya. Ia hendak bersedih dan menangis. Tapi saat menatapnya, seolah rasa bahagia itu ada meski hanya bangkai yang ada di dekatnya. Ia ambil bangkai itu, ia cengkram kuat-kuat dan ia bawa ke sarangnya. Sepanjang perjalanan ia melihat kegelapan dan cahaya surya mulai menyapa. Sejenak bumi menyepi dalam kesadaran akan mahluk mewabah. Mahluk-mahluk dalam seputaran waktu sadar, sadar akan wabah yang menjerat tanpa sadar itu.

“Ah…. Sudah terlambat….," kata gagak

Ya, terlambat untuk sadar dan aku yakin hanya sejengkal gerak bumi pada surya lalu mereka tersadar kembali. Kembali gagak bernyanyi dengan mayat mahluk berbenar itu.***

Menguak Logika Terorisme
Gendhotwukir

Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

ceritanet©listonpsiregar2000