ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 18, Jumat 27 Juli 2001
___________________________________________________

 

laporan Don Santander dari Tapay
Caecilia Kusumowinahyu

Dua bulan lalu, saya berkunjung ke Peru dan berjumpa dengan seorang pria yang amat luar biasa. Namanya Don Felipe Ochoa Villalonga. Atau lebih terkenal dengan nama Don Santander. Ini nama pilihan penduduk setempat untuk sang Don. Rupanya sudah jadi kebiasaan, tak jadi soal nama apa yang diberikan ketika lahir kepada anak laki-laki pertama keluarga Ochoa Villalonga, pokoknya setelah dewasa dia akan dikenal sebagai Don Santander. Konon, nenek moyang keluarga Ochoa Villalonga adalah tuan tanah terkaya di Santander, kota di Utara Spanyol. Mereka hijrah ke Peru di akhir abad ke 19 setelah bentrok dengan pemerintah pusat di Madrid. Setalah gagal mencari peluang di Lima mereka kemudian menetap di daerah lembah Colca, salah satu lembah terdalam dan tersubur dalam deretan pegunungan Andes untuk mulai usaha perkebunan.
selengkapnya

 

laporan Sebuah Kota Dengan Seribu Pretensi
I. Wibowo
Saya sudah berulangkali naik kereta api bawah tanah di Singapura yang bersih dan mengkilat itu, tetapi baru hari itu saya sadar. Sadar tentang suara pengumuman supaya para calon penumpang berdiri di belakang garis kuning. Pasti bukan suara wanita Singapura. Maksud saya bukan suara wanita dengan aksen Singapura. Pasti seorang native speaker, entah Inggris, Australia, atau Amerika. Begitu bagus, dan begitu mengalun. Dalam hati saya bertanya mengapa harus native speaker? Di Hong Kong, yang juga punya tujuan serupa ; menginternasional, sama sekali tidak memakai suara native speaker. Jelas suara wanita Hong Kong dengan bahasa Inggris beraksen Hong Kong. Saya menduga ada perasaan malu pada pengelola kereta api di Singapura. Tapi malu karena apa? Kalau memang keadaannya memang begitu, mengapa harus malu?
selengkapnya

                                           penulis edisi 18

laporan Jakarta, Di Suatu Hari Kerja
          Nyoman Danie
Berangkat kerja adalah hal rutin yang dikerjakan oleh orang-orang yang masih mujur punya kerjaan, di mana saja. Namun dibalik keseragaman rutin itu bisa jadi banyak tanggapan yang berbeda. Barangkali --karena berangkat dengan alasan kemujuran masih punya kerja-- banyak orang yang menyukainya, banyak juga yang tidak, dan sebagian orang bahkan menganggapnya tidak perlu dipersoalkan atau istilah Jakarta-nya ; cuek. Saya --yang tinggal dan berangkat kerja di Jakarta-- belum pernah melakukan statistik ataupun penyelidikan persentase dari mereka yang suka, yang tidak, dan berapa pula yang cuek. Tapi semua orang yang membaca cerita ini, setidaknya akan mempunyai data dari dua orang. Yang satu dari anda sendiri, dan satu lagi dari saya. Jadi, demi statistik dua angka itu, teruskanlah membacanya.
selengkapnya

 
laporan Ketakjuban Mecaru
Sanie B. Kuncoro
Seorang pendatang di Bali, asal Solo, menikmati ketakbjuban dalam ritual pembakaran jenasah. Ritual yang spektakuler. Dalam sebuah upacara pembakaran jenasah, bukannya tangis yang mengiringi, seperti lajimnya upacara kematian selama ini, melainkan justru irama dinamis gamelan bertalu-talu. Mulai dari awal jenasah diberangkatkan, sepanjang perjalanan kaki sampai keseluruhan prosesi selesai. Tak ada alat bantu elektronik, semuanya murni dilakukan puluhan penabuh gamelan tradisional. Lalu puluhan sesaji --rangkaian buah dan makanan-- dijinjing perempuan berkostum dengan hiasan-hiasan oriental yang romantis. Ditambah menara tinggi pembawa jenasah dan patung sapi nyaris dengan skala sesungguhnya, dan dipadu dengan arak-arakan ratusan pelayat kaum kerabat. Upacara ini menuntut pengabdian penuh kerabat selama satu hari penuh, bahkan lebih.
selengkapnya

laporan Kemping Milenium
Lenah Susianty
Terakhir kali kemping --camping kerennya, berkemah jujurnya-- di Indonesia, saya masih pakai seragam putih abu-abu SMA. Di Pelabuhan Ratu. Hanya ada dua tenda darurat, satu tenda kecil untuk lima perempuan dan satunya lagi untuk kaum adam yang berhimpit-himptan seperti di kaleng sardin. Bekal waktu itu hanya satu ransel kecil berisi pakaian dan sikat gigi, juga uang sedikit untuk membayar iuran telor dan super mie. Untuk mandi kami rama-ramai bergantian ke villa seorang teman yang ikut kemping. Villa di sini adalah sebuah rumah bilik dengan satu ruangan besar kosong melompong, satu dapur dengan satu kompor, dan satu kamar mandi dengan gayung yang sudah berlubang.
selengkapnya

 

novel Dokter Zhivago 18
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960, dengan penulisan ejaan baru
Hawa menjelajahi peredaran musim. Air menetes : tik-tik-tik di atas talang dan pinggiran atap, hingga semua atap berkirim-kiriman berita, seolah di musim semi. Salju lagi meleleh.
Lara berjalan sepanjang jalannya seolah terbius dan baru sadar akan apa yang terjadi, setelah ia sampai ke rumah.
Semua orang tidur. Ia terjerumus lagi dalam pesona, maka dalam termangu-mangu itu duduklah ia di depan meja hias ibunya, masih memakai gaun ungu kekuning-kuningan yang hampir putih dan bertepi renda serta cadar panjang yang untuk malam itu dipinjamnya dari toko, nampaknya seperti pakaian istimewa.
Dengan kedua belah tangannya di meja ia duduk menetap bayangannya dalam cermin, namun tak melihat apa-apa. Sejurus kemudian ia tekurkan kepala ke tangannya.
Kalau ibu dengar tentang ini, ia akan membunuhnya. Ia bunuh dia, lalu bunuh diri.
Bagaimana itu terjadi? Bagaimana mungkin terjadi? Sekarang sudah terlambat, seharusnya ia berpikir lebih dulu.
Sekarang ia apa --apa namanya?-- perempuan ternoda. Ia tokoh perempuan dari roman Perancis, sungguhpun besok ia pergi ke sekolah, duduk berdampingan dengan gadis-gadis lain itu yang seperti anak-anak kecil bila dibanding dengan dia. O Tuhan, mengapa ini terjadi?
selengkapnya

ceritanet ©listonpsiregar2000