wceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 18, Jumat 27 Juli 2001
___________________________________________________

laporan Don Santander Dari Tapay
Caecilia Kusumowinahyu

Dua bulan lalu, saya berkunjung ke Peru dan berjumpa dengan seorang pria yang amat luar biasa. Namanya Don Felipe Ochoa Villalonga. Atau lebih terkenal dengan nama Don Santander. Ini nama pilihan penduduk setempat untuk sang Don. Rupanya sudah jadi kebiasaan, tak jadi soal nama apa yang diberikan ketika lahir kepada anak laki-laki pertama keluarga Ochoa Villalonga, pokoknya setelah dewasa dia akan dikenal sebagai Don Santander.

Konon, nenek moyang keluarga Ochoa Villalonga adalah tuan tanah terkaya di Santander, kota di Utara Spanyol. Mereka hijrah ke Peru di akhir abad ke 19 setelah bentrok dengan pemerintah pusat di Madrid. Setalah gagal mencari peluang di Lima mereka kemudian menetap di daerah lembah Colca, salah satu lembah terdalam dan tersubur dalam deretan pegunungan Andes untuk mulai usaha perkebunan.
Mula-mula mereka mencoba kentang dan jagung. Lantas daun coca dan biji quinoa serta kiwicha. Dua jenis biji-bijian terakhir ini adalah makanan tradisional Peru yang katanya punya kandungan protein tertinggi di dunia. Tak lama kemudian mereka juga mulai usaha peternakan hingga akhirnya di tahun 1950 an, keluarga Ochoa Villalonga menjadi distributor daging sapi terbesar di belahan Selatan Peru.

Sampai sekarang, keluarga Don Santander tetap salah satu keluarga terpandang di lembah Colca. Masih meneruskan usaha keluarganya, sang Don juga melanjutkan tradisi keluarganya sebagai tokoh panutan di desa Tapay. Namun, Don Santander yang sekarang punya sepuluh kali kelebihan dibandingkan nenek moyangnya. Dia bukan hanya menjadi tokoh panutan desa karena sekedar tradisi dan atribut ratusan hektar tanah yang dimiliki keluarganya, tapi dia juga yang berjasa menjalankan hampir sebagian besar pembangunan desa Tapay. Semua orang yang saya temui tak pernah kekurangan kata pujian untuk sang Don. Semua sanjungan ini bukan cuma omong kosong. Selama sepuluh hari tinggal di rumah keluarganya, saya dapat membuktikan sendiri semua pujian untuk induk semang saya itu memang tulus.

Bahkan, Jorge, anak tetangga sebelah yang sering kena marah Don Santander karena tertidur dalam kelas, mengatakan kalau guru sejarahnya itu sangat murah hati. "Como Papa´ Noel!" kata Jorge. Seperti Sinterklaas. Mungkin pujian Jorge ini karena melihat wajah penuh senyum dan perut gendut Don Santander akibat kebanyakan minum chicha, atau bir jagung khas Peru.

Selama saya tinggal di rumah Don Santander, tak pernah saya melihat sang Don menganggur. Kalau ada waktu luang, dia akan duduk menulis surat atau menjenguk sanak atau tetangga yang membutuhkan perhatian. Herannya, dia tidak pernah kehabisan tenaga. "Porque chicha es un regalo de Dios!" kata Don Santander berkelakar. Karena bir chicha adalah hadiah dari dewa-dewa, katanya membuka rahasia.

Tujuh Hari Don
Jadwal Don Santander luar biasa padat. Hari Senin dan Rabu dia mengajar sejarah di Sekolah Dasar setempat selama dua jam. Setelah itu dia duduk di kantor pos yang sekaligus berfungsi sebagai koperasi pertanian simpan pinjam untuk menerima dan menyampaikan semua kiriman pos, membantu menuliskan surat untuk mereka yang buta huruf dan menerima setoran atau memberi pinjaman bagi anggota.

Hari Selasa adalah hari penyuluhan soal ternak, mengajar pertukangan untuk anak-anak putus sekolah dan sore hari adalah jadwal mengantar makanan untuk orang-orang sakit.

Hari Kamis, Don Santander akan dapat ditemui di kantor balai desa karena dia juga duduk sebagai sekretaris kepala desa. Dua tahun terakhir ini dia 'hanya' menjabat sebagai sekretaris. Sebelumnya, selama tiga tahun Don Santander adalah kepala desa Tapay. Sang Don mengatakan selama dia menjabat menjadi kepala desa, penduduk setempat menjadi manusia-manusia malas karena mereka menganggap di tangan Don Santander semua urusan akan beres. Begitu malasnya, mereka menyerahkan semua keputusan kepada 'el jefe' atau tuan kepala.

Suatu saat, ditengah kekesalannya menghadapi kemalasan ini, Don Santander mengancam dia akan mengeluarkan perintah bahwa setiap orang di Tapay harus menyerahkan setengah luas tanahnya kepada pemerintah daerah. Ucapan kelakar ini rupanya dilakukan juga oleh sebagian besar warga desa. Istri sang Don, Doña Queen, mengatakan orang semacam Don Santander harusnya bisa menjadi diktator. Lihat saja anggota klub penggemar-nya di desa Tapay, cukup meraih suara kalau ada referendum.

Setelah tak mampu menahan kesal, Don Santander mengundurkan diri dari jabatan kepala desa. Rupanya taktik Don Santander berhasil, setelah turun jabatan, warga setempat muncul kembali dalam rapat-rapat reguler. Dan yang penting mereka kini punya inisiatif. Kabarnya, warga desa tidak percaya kepada kepala desa yang baru, pria malang yang sebenarnya cukup pandai namun tidak punya karisma setara Don Santander.

Hari Jumat, jadwal Don Santander melakukan inspeksi ternak di tanahnya sendiri dan melakukan pemeriksaan pembukuan kedua usahanya. Berhubung letak tanah peternakannya dekat dengan pasar ternak di ujung desa, dia sering kedatangan tamu para peternak yang tidak mampu ke tengah desa. Biasanya mereka minta pertimbangan Don Santander berapa kira-kira harga ternak llama mereka di pasaran. Tidak jarang pula mereka akan minta tolong Don Santander bila sapi, llama, domba atau alpaca milik mereka akan melahirkan.

Jangan kuatir, meski bukan dokter hewan, Don Santander cukup piawai dalam soal membantu kelahiran ternak. Dia pernah mengambil mata kuliah ilmu hewan, disamping arsitektur dan sastra. Tapi cuma arsitektur yang berhasil diselesaikannya. Di kelas sastra, Don Santander cuma sibuk menulis surat cinta untuk Queen, teman satu kuliah. Kesal melihat mahasiswanya dimabuk cinta, kepala jurusan sastra waktu itu minta Don Santander untuk cepat-cepat saja menikahi Queen yang cantik jelita itu. Dasar pria romantis, usul kepala jurusan kemudian dilaksanakan. Don Santander berhasil meminang Queen, mantan kontestan Putri Peru tahun 1979. Pernikahan mereka disebut sebagai pertemuan antara 'la bestia y la belleza' atau si buruk dan si cantik. Meski tinggi dan besar, Don Santander punya kumis tebal dan rambutnya selalu berantakan. Mirip tokoh si buruk rupa.

Akhir pekan boleh dibilang adalah waktu paling sibuk dalam keluarga Don Santander. Kegiatan gereja, mengajar katekismus untuk anak-anak, dan kadang menjadi wali pernikahan, adalah kegiatan utama 'el jefe'. Sementara setiap minggu siang, Doña Queen menyajikan makan siang untuk para pegawai Don Santander yang datang berkunjung dengan anggota keluarga masing-masing.

Kesucian Makan Siang
Oh ya, saya hampir lupa menyebutkan kalau Don Santander juga seorang pencipta lagu amatir. Kalau tidak salah, sebuah lagu yang tengah populer yang dibawakan penyanyi kondang negara tetangga adalah hasil ciptaan sang Don. Lagu dan penyanyi yang mana, saya kurang tahu karena Don Santander tidak mau bercerita. Dari sumber saya yang dapat dipercaya, konon lagu ciptaan pria berusia 45 tahun ini digunakan oleh Christina Aguilera, penyanyi pop Latin nan molek yang sekarang sedang naik daun. Benar atau tidak, walahuallam. Yang jelas, Don Santander bisa membeli dua ekor sapi baru setelah lagunya dimininati manajer sang penyanyi.

Suara Don Santander sendiri boleh dibilang tidak kalah dengan suara penyanyi legendaris asal Meksiko, Vincente Fernandez. Berat dan penuh cengkok. Saya cukup terpana mendengar suara sang Don ketika menghibur tamu-tamu saat makan siang. "Untung saja Tuhan hanya menciptakan tujuh hari dalam seminggu", kata seorang tamu kepada saya. "Kalau saja ada delapan hari dalam seminggu, el jefe akan bisa menjadi seorang dokter, satu-satunya ilmu yang belum dipelajarinya. Lantas saya mau kerja apa? " lanjutnya. Si tamu itu adalah dokter satu-satunya di Tapay.

Waktu untuk ngobrol panjang dengan Don Santander adalah makan siang, saat yang paling suci dalam keluarga mereka. Semua anggota keluarga plus tamu-tamu harus duduk bersama. Biasanya ada dua atau tiga tamu dari desa setempat atau tamu dari Arequipa, kota terbesar kedua di Peru yang jaraknya sekitar tiga jam lebih dari desa Tapay.

Saya baru sadar setelah dua hari menginap di rumah Don Santander, bahwa saya harus makan kenyang saat makan siang. Sebagai tamu yang sopan, di hari-hari pertama saya menolak tambahan makanan ketika ditawari. Namun setelah dua malam hampir kelaparan menunggu kedatangan Don Santander dari salah satu tour of duty-nya, dengan senang hati saya 'terpaksa' makan dua kali lebih banyak di hari ketiga dan seterusnya.

Bukan persoalan sulit, karena Lise, tukang masak keluarga Don Santander adalah salah satu koki terpandai yang saya kenal di dunia. Saya berani memberi gelar kehormatan untuk Lise, karena dia mampu meramu makanan sehari-hari menjadi makanan serba nikmat. Padahal setiap harinya dia harus memasak kentang dan jagung melulu. Menurut Don Santander, di Peru terdapat sedikitnya 3.000 jenis kentang dan 40 macam jagung. Fakta ini masih saya perdebatkan berhubung dalam pengamatan saya ada 2.899 kentang yang kelihatan hampir serupa. Jadi jangan heran, kalau menu sehari-hari adalah tiga macam kentang atau gorengan empat macam jagung. Dengan bahan dasar yang monotonis inipun semuanya tetap saja lezat dan sekaligus melebarkan lingkar pinggang saya.

Don Pulang
Siesta atau waktu tidur siang yang jadi tradisi di Peru dan negara-negara Latin lainnya tidak berlaku di keluarga Don Santander. Habis makan siang, Don Santander akan membawa Jack dan Consiglieri --kedua anjing herder peliharaannya-- melakukan inspeksi ke tanah perkebunan mereka. "Vamos chicos! Vamos batallar!" kata Don Santander setiap kali. Mari anak-anak, kita maju perang, begitu kira-kira.
Hari pendek bagi keluarga Don Santander adalah hari dimana sang Don akan kembali pada pukul tujuh malam. Sering kali dia pulang pukul delapan atau sembilan malam. Blanca dan Juan Luis, kedua anak Don Santander yang masih duduk di Sekolah Menengah didampingi Doña Queen biasanya menantikan kedatangan Don Santander dengan sabar di ruang tamu. Tak sulit mengetahui tepatnya detik-detik kepulangan sang Don. Suara tapak kaki Don Santander yang mirip serdadu akan terdengar jelas di gulita malam.

"Papa,Papa!" Blanca dan Juan Luis akan berlari keluar menyambut ayah mereka. Lalu sebuah suara mengegelegar akan terdengar, "Buenas noches, mis amores!" Don Santander selalu menyebut keluarganya dengan sebutan-sebutan mesra. Doña Queen mencium dan memeluk suaminya. Di belakang Doña Queen, Jack dan Consiglieri, ikut bergerak menyambut sang tuan. Upacara penyambutan ini biasanya akan berlangsung sekitar lima menit karena setiap kali Don Santander bermaksud mencium sang istri, Jack dan Consiglieri akan lompat berebut memeluk atau menjilati wajah Don Santander yang terbakar matahari. Setelah selesai, giliran saya atau tamu lainnya yang akan menyapa Don Santander.

Dia akan memeluk, hm, tepatnya mengangkat saya ke dalam rengkuhan tangannya yang besar berotot agar dia bisa mencium kedua pipi saya. Sistem ini agaknya yang terbaik untuk kita berdua, karena dengan tingginya yang dua meter dan punggung yang pernah terluka selama bertugas di Angkatan Laut, Don Santander tidak lagi bisa membungkukkan badannya. Sementara untuk saya yang berdiri hampir setengah meter dibawah sang Don, agak sulit untuk memberi penyambutan yang sepantasnya diberikan kepada pria yang paling berpengaruh di desa Tapay ini.

Seperti biasa, selama acara penyambutan ini berjalan, Lise sabar menanti di muka pintu penghubung antara dapur dan ruang makan utama. Dia akan menyajikan hidangan bila sang tuan memutuskan kalau dia telah siap makan malam. Dengan kata lain, kalau saja sang tuan tidak merasa lapar, maka Doña Queen dan anak-anak maupun saya sebagai tamu harus sabar menanti, kadang dengan menahan lapar hingga saat Don Santander memberi keputusan eksekutif itu. Untung saja setiap sore Lise sudah menyiapkan teh daun coca yang menghangatkan.

Makan malam, tidak akan semewah makan siang. Waktunya juga pendek, karena genset disel hanya akan bekerja selama empat jam dan Don Santander akan mematikan mesin pencemar udara ini pada pukul sepuluh malam. Listrik belum seluruhnya masuk di desa Tapay. Rumah Don Santander yang berada di lembah tercantik di Tapay, berada di luar jangkauan listrik yang disediakan pemerintah. Mereka yang tergolong kurang berada, yang tinggal di dekat rumah Don Santander, hanya mengandalkan kayu bakar. Baru-baru ini, Don Santander memasang peralatan energi solar berkapasitas kecil di rumahnya. Meski minim, energi baru ini mampu membantu kerja Don Santander maupun anak-anak yang mulai menggunakan komputer. Waktu alat ini baru saja dipasang, seluruh desa datang berkunjung dan bergantian berfoto didepannya.

Una Otra Posibilidad
Listrik dan telepon adalah dua proyek Don Santander yang kini menjadi perhatian utamanya. Sehabis makan malam dia akan kembali berkutat di depan lembaran kertas berisi proposal, disain dan korespondensi antara kantor pemerintah dan balai desa Tapay. Kata Doña Queen, dua proyek ini sudah menjadi obsesi suaminya selama lebih dari lima tahun terakhir. Namun birokrasi dan gonjang-ganjing di pemerintah pusat tidak banyak membantu kelancaran proposal Don Santander. Maju, mundur, tak jelas juga apa hasilnya. Mirip labirin kerja administrasi dalam deskripsi Kafka. Doña Queen mengakui dia hampir putus asa melihat suaminya terhempas berulang kali.

Ketika saya akan meninggalkan Tapay, sepucuk surat datang dari kantor Alejandro Toledo, yang terpilih jadi Presiden baru Peru dalam pemilu bulan Juni lalu. Ketika surat itu tiba, Toledo masih menjadi salah satu kandidat Presiden. Menurut surat itu, Toledo akan menjanjikan fasilitas infrastruktur untuk seluruh pelosok Peru bila dia menang dalam pemilu. Meski janji masa pemilu bisa jadi cuma berakhir sebagai janji belaka, namun bagi Don Santander yang telah berjuang selama lima tahun, janji Toledo kedengaran cukup memberi kemungkinan. Setidaknya harapan.

Ketika mengantar saya ke pelabuhan udara Arequipa, Don Santander mengatakan kalau saya datang lagi tahun depan, listrik dan telepon akan tersedia di rumahnya. Don Santander nampak optimis. Sebagai sesama produk negara berkembang, saya bisa merasakan repotnya dan getirnya menjadi korban tangan-tangan elit birokrasi. Tapi saya tidak melihat kepahitan dalam senyum hangat Don Santander. Seperti biasa, dia tetap saja berdiri tegak tanpa sekalipun mengeluh. "Mañana es un otro dia, una otra posibilidad," katanya. Besok adalah hari baru, kemungkinan baru. Sungguh pria amat luar biasa.
***

 

 

ceritanet
kirim karya tulis
©listonpsiregar2000