ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 18, Jumat 27 Juli 2001
___________________________________________________

laporan Ketakjuban Mecaru
Sanie B. Kuncoro

Seorang pendatang di Bali, asal Solo, menikmati ketakbjuban dalam ritual pembakaran jenasah. Ritual yang spektakuler. Dalam sebuah upacara pembakaran jenasah, bukannya tangis yang mengiringi, seperti lajimnya upacara kematian selama ini, melainkan justru irama dinamis gamelan bertalu-talu. Mulai dari awal jenasah diberangkatkan, sepanjang perjalanan kaki sampai keseluruhan prosesi selesai. Tak ada alat bantu elektronik, semuanya murni dilakukan puluhan penabuh gamelan tradisional.

Lalu puluhan sesaji --rangkaian buah dan makanan-- dijinjing perempuan berkostum dengan hiasan-hiasan oriental yang romantis. Ditambah menara tinggi pembawa jenasah dan patung sapi nyaris dengan skala sesungguhnya, dan dipadu dengan arak-arakan ratusan pelayat kaum kerabat. Upacara ini menuntut pengabdian penuh kerabat selama satu hari penuh, bahkan lebih.

Si pendatang jadi kecanduan. Setiap kali terdengar suara gamelan bertalu-talu, bergegaslah ia mencari posisi terbaik untuk melihat arak-arakan itu. Arak-arakan kematian yang tidak berkabut gelap.

Ketakjuban, begitulah pada mulanya. Tapi ritual, dimanapun, berlangsung berulang-ulang. Dan kematian bukan kemauan manusia. Nyatanya hampir setiap pekan pekan arak-arakan lewat. Tak perlu waktu lama untuk menyerap ritual kematian, yang tidak berwarna gelap, menjadi kerutinan. Apalagi si pendatang tak jauh dari pura yang terlilit oleh rutinitas ritual lainnya. Dari ketinggian teras lantai tiga, dilihatnya ritual di pura mengalir setiap hari.

Setiap pagi para pendoa berdatangan membawa canang ; rangkaian janur berisi bunga, dupa plus uang dan roti. Ada banyak canang, karena tidak hanya dipersembahkan pada beberapa bagian pura, tapi juga di rumah, tempat bekerja, pintu masuk, bahkan cash register dan komputer. Dan dalam satu hari sang pendoa melakukan ritual yang sama itu berkali-kali. Bunga bertumpuk-tumpuk setiap hari. Aroma dupa dan wangi bunga lengket dimana-mana.

Sampai pada tengah malam kemudian segala persembahan sesaji dituntaskan dalam gerobak sampah. Pura bersih total dan malam berlalu.

Pagi yang lain datang, dan ritual yang sama berulang. Pendatang asal Solo tadi jemu. Dari matanya terlihat kesia-siaan. Upacara spektakuler dengan segala perangkatnya dan pemujaannya pada akhirnya hanya berakhir sebagai sampah dan abu. Apa artinya?

Suatu hari pendatang asal Solo tadi menerima undangan. Pendatang, asal manapun, dianggap sebagai kerabat setempat yang harus hadir untuk sebuah upacara Mecaru. Ini sebuah ritual tolak bala yang diyakini bisa membersihkan diri dan lingkungan dari kuasa kegelapan, begitulah pesannya. Ternyata begitu banyaknya kematian karena banyak kesalahan yang dilakukan. Dewa marah dan menjatuhkan berbagai musibah. Mecaru harus digelar.

Sepanjang Mecaru sehari penuh, seluruh kegiatan materialistis terhenti total sehari penuh. Semua warga hadir secara utuh dengan anggota keluarga lengkap, meskipun kerabat tinggal di tempat lain tapi memiliki sebuah kios kecil. Semua berperan serta dalam ritual sehari penuh tanpa jeda.

Gamelan ditabuh berdentam-dentam. Kadang lembut, kadang menghentak dinamis mengiring arak-arakan. Ada yang kesurupan, menangis, pingsan dan nyerocos. Si pendatang menjaga jarak dan menyaksikannya dengan ketakjuban pada suatu hari libur. Esoknya dan kemudian, hari-hari berlalu seperti biasa. Turis datang dan pergi. Pura tetap berhias bunga, aroma dupa menyebar, dan canang ada dimana-mana.

Sampai ada yang berbeda. Ritual gamelan pengirin jenasah tak terdengar lagi. Jalan raya di depan tetap merupakan jalur utama menuju lokasi pembakaran. Kali ini jalur yang hening.

"Bukankah sudah kita lakukan Mecaru? Itu artinya kita sudah bebersih diri. Jadi dewa tak marah lagi," kata seseorang.

Awalnya adalah ketakjuban pada sebuah ritual. Akhirnya adalah ketakjuban pada sebuah keyakinan. Keyakinan akan hubungan langsung penakdir dan tertakdir, pada tahun 2001 di Den Pasar, sekitar dua jam perjalanan pesawat dari hiruk pikuk Jakarta.
***

 
ceritanet
kirim karya tulis
©listonpsiregar2000