ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 18, Jumat 27 Juli 2001
___________________________________________________

laporan Jakarta, Di Suatu Hari Kerja
Nyoman Danie

Berangkat kerja adalah hal rutin yang dikerjakan oleh orang-orang yang masih mujur punya kerjaan, di mana saja. Namun dibalik keseragaman rutin itu bisa jadi banyak tanggapan yang berbeda. Barangkali --karena berangkat dengan alasan kemujuran masih punya kerja-- banyak orang yang menyukainya, banyak juga yang tidak, dan sebagian orang bahkan menganggapnya tidak perlu dipersoalkan atau istilah Jakarta-nya ; cuek.

Saya --yang tinggal dan berangkat kerja di Jakarta-- belum pernah melakukan statistik ataupun penyelidikan persentase dari mereka yang suka, yang tidak, dan berapa pula yang cuek. Tapi semua orang yang membaca cerita ini, setidaknya akan mempunyai data dari dua orang. Yang satu dari anda sendiri, dan satu lagi dari saya. Jadi, demi statistik dua angka itu, teruskanlah membacanya.

Buat saya berangkat kerja merupakan hal rutin sehari-hari yang bermakna sangat unik, sekaligus menjengkelkan. Sebelum berangkat kerjapun sudah perlu ada ancang-ancang seperti perlombaan lari. Dimulai dengan malasnya turun dari tempat tidur saat otak bawah sadar menghentikan kegiatan, lengkap dengan mata yang susah dibuka terpaksa mulai difokuskan untuk mencari-cari kombinasi jarum jam pendek dan panjang. Jarum panjang biasanya prioritas kedua, karena jarum pendeklah yang biasanya suka mengejutkan mata.

Kemudian otak harus membuat keputusan kapan badan harus dilepas dari kasur. Setelah itu kesadaran objektif mengambil alih kegiatan, dan mulai menghitung waktu yang bakal dipergunakan untuk ke toilet, mandi, berpakaian, makan pagi, sikat gigi, dan pakai sepatu. Tentu urutannya boleh dibolak balik sesuai kebiasaan masing-masing, sepanjang jangan pakai sepatu dulu baru mandi. Perlu pula menyediakan waktu untuk contingency plan, alias kalau-kalau perut kita tidak normal dan perlu ke toilet berulang kali.

Perjuangan Lalu Lintas
Anggaplah semuanya sudah beres. Masuklah pada tahapan berikut ; mengingat-ingat apa-saja yang pagi itu perlu dibawa. Dompet (sudah), STNK (ada di dompet), HP (OK), tas kerja (beres). Jadi apa lagi ya ? Disambungkan dengan mengingat hal-hal yang perlu dibereskan hari itu, yang biasanya menuntut ekstra barang bawaan, entah pasfoto atau catatan. Setelah dinyatakan siap --walau sering juga tetap ada yang terlupa-- baru masuk mobil. Sambil menyalakan mesin mobil, masih sekali lagi melakukan cek and recek. Akhirnya ancang ancang dinyatakan matang, dan berangkat.

Tapi berangkat kerja, di Jakarta, belumlah usai jika belum benar-banar sampai di kantor dan duduk di kursi kerja. Masih ada seribu satu macam hal yang harus dihadapi dalam perjalanan. Baru saja moncong mobil nongol sedikit dari pintu pagar rumah --dan pintu gerbangnya hanya berjarak 1 meter dari garis aspal jalan-- peberangkat kerja lain yang lewat melihat ada moncong mobil mau keluar, dan kontan saja membunyikan klakson. Pada posisi yang moncong mobilnya akan nongol, saya berkomentar dalam hati "ya ya! Emangnya saya bodo mau nyelonong saja." Parahnya, para pengemudi Jakarta umumnya membunyikan klakson tanpa mengurangi kecepatan, dan baru menginjak rem kalau klaksonnya ternyata tidak mempan.

Dalam banyak kesempatan, take off berhasil dengan aman dari halaman rumah untuk menelusuri jalan aspal. Beberapa menit kemudian ada pertigaan masuk ke arus lalu lintas utama di jalan arteri yang padat frekwensi lalu lintasnya. Di sini kembali otak siap-siap ngedumel. Mau bergabung ke arus tersebut harus menunggu rejeki ; ada orang berbaik hati memberi peluang untuk masuk arus. Kalau tidak, silahkan menunggu, dan "sialan, tidak ada yang mau kasih," begitulah kira-kira umpatan dalam hati.

Sampailah kita pada perempatan lampu lalu lintas, tapi terlalu muluk-muluk kalau mengharapkan mendapat lampu hijau di sebuah pagi saat hari kerja di Jakarta. Saya tergolong orang yang taat sama lampu merah, biarpun ada saja peberangkat kerja lain yang menerobos dengan tenang. Beberapa kali, saya menyaksikan sepeda motor nyelonong, bergonceng bertiga, tanpa helm, dan melintas di jalur kanan. Empat tumpuk pelanggaran sekaligus!

Sambil menunggu lampu hijau, mulailah berdatangan orang-orang yang minta belas kasihan dengan segala caranya masing-masing. Ada yang bergitar, atau mengandalkan alat bikinan sendiri dari beberapa tutup botol dengan bunyi mirip rebana, seruling, bahkan ada yang hanya bermodal tepuk-tepuk tangan. Tidak jarang ditemui bencong ber-make up tebal dan gaya gemulai, tapi bersenandung dengan suara berat.

Pernah saya menghadapi pengalaman menakutkan dengan pegitar jalanan. Maksud hati mau memberi uang, jadi saya buka jendela sedikit agar cukup untuk tangan memberikan uang logam kepadanya, tanpa sempat memeriksa uang logam yang saya ambil dari laci mobil. Setelah uang berpindah tangan, tiba-tiba dia lempar kembali uang logam ke dalam mobil sambil marah-marah. Uang logam itu lima puluh perak. Wah, rupanya jasa yang ia berikan punya tarif minimum yang saya tidak ketahui, yang sudah pasti lebih dari lima puluh perak. Saya gemetar takut mobil digores, tapi untung lampu berubah hijau dan tancap gas. "Selamatlah kita," begitu kata hati ini sambil mengelus-ngelus dada. Sejak itu saya tidak pernah lagi coba-coba sok sosial di lampu merah. Bahwa orang lain tidak pernah mengalami, dan masih getol memberi sedekah, silahkan.

Para Pemain Utama
Lolos dari lampu merah, perjalanan berlanjut di jalan lurus. Jangan lalai karena bukan mustahil tiba-tiba sebuah taksi memotong masuk ke lajur kita, atau sebuah bus berhenti mendadak mengambil penumpang dengan posisi berhenti 30 derajat persis di atas garis pemisah lajur. Dua lajur mendadak terbuntu, menunggu bus jalan kembali. Ini soal biasa di Jakarta. Dan masing masing orang bereaksi sendiri-sendiri. Ada yang secara reflek injak rem sambil membunyikan klakson dengan nada panjang kejengkelan. Ada yang banting stir, entah kekiri atau kekanan tergantung mana terlihat memungkinkan untuk menghindari bus. Sebagian besar berakhir dengan membunyikan klakson panjang.

Lepas dari hadangan bus, masih ada ruas-ruas jalan yang mendesak pembauran dengan angkutan kota alias angkot. Kelakuannya tak kalah dengan bus ; berhenti mendadak dengan posisi pantat kendaraan miring 30 derajat. Dalam hal berhenti mendadak begitu, tidak ada yang bisa mengetahui sebelumnya --kecuali Tuhan dan sopirnya sendiri. Bahkan sering penumpang yang menyebabkan penghentian mendadak sempat menunggu beberapa detik untuk memastikan angkot berhenti di depan sana. Jika ya, berlarilah dia di sela-sela barisan mobil yang mendadak berhenti itu.

Aksi lainnya dari sepeda motor. Beberapa pengendara sepeda motor dari arah lawan menguasai jalur dengan kecepatan yang seolah-olah mau menubruk secara frontal, dan persis di depan kita dengan tiba-tiba menghindari dengan membelok tajam. Berkali-kali saya harus berhenti memberi kesempatan mereka lewat, walaupun --secara hukum lalu lintas-- saya yang punya hak sepenuhnya atas jalur ini. Mau marah ada resikonya ; kena marah balik dan terlibat debat kusir yang berakibat memblok arus lalu lintas. Aksi sepeda motor ini sering pula menghantam kaca spion. Saya tak punya statistik, tapi hampir yakin kalau sebanyak 99 % rumah spion mobil di Jakarta tidak utuh lagi. Penyebabnya ; terserempet sepeda motor, mobil, atau dicuri.

Sampailah pada ruas jalan di dekat gedung sekolah, dan murid-muridnya sedang berjalan menuju ke sekolah. Merekalah yang punya jalan. Berjalan seenaknya di tengah jalan tanpa menghiraukan mobil yang lewat, yang sepertinya harus berhenti demi mereka. Apa gunanya bersekolah? Sudah kaburlah tujuannyanya karena kurang ajarlah yang mereka dapat. Jangan coba menegur untuk menghindari akhir cerita yang lebih runyam. Mengalah untuk jengkel jauh lebih selamat.

Tekanan Darah Terakhir
Memasuki gedung kantor penuh dengan harapan tak akan ada lagi menaikkan tekanan darah. Masuklah ke ruang parkir bawah tanah, ke tempat khusus yang dibayar bulanan oleh kantor, jadi diberi tanda nama perusahaan. Juga ada tanda 'reserved.' Tapi itu belum menjamin. Ada mobil lain nongkrong di tempat parkir saya. Barangkali sipemilik mobil tersebut berpikir saya toh tidak akan datang lebih dulu sebelum dia pergi. Perhitungan yang salah total. Tak ada pilihan selain menunggu. Tidak lama, tapi cukup menaikkan tekanan darah sekitar 2%.

Masuklah saya ke kantor --setelah ke toilet terlebih dahulu untuk buang air kecil. Tas diletakkan. Komputer dinyalakan untuk memeriksa email dari kantor pusat Australia, yang berbeda waktu empat jam di depan. Untunglah saya masih menyediakan limit kenaikan tekanan darah esktra sebelum sampai ke titik meledak. Soalnya pengaman listrik di kantor rupanya jatuh sejak semalam, dan tehnisi belum sampai --karena sedang bergulat di salah satu ruas jalan menuju kantor.

Adakah yang lebih jengkel dari saya waktu berangkat kerja, di Jakarta.
***

 
ceritanet
kirim karya tulis
©listonpsiregar2000