ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 18, Jumat 27 Juli 2001
___________________________________________________

laporan Kemping Milenium
Lenah Susianty

Terakhir kali kemping --camping kerennya, berkemah jujurnya-- di Indonesia, saya masih pakai seragam putih abu-abu SMA. Di Pelabuhan Ratu. Hanya ada dua tenda darurat, satu tenda kecil untuk lima perempuan dan satunya lagi untuk kaum adam yang berhimpit-himptan seperti di kaleng sardin. Bekal waktu itu hanya satu ransel kecil berisi pakaian dan sikat gigi, juga uang sedikit untuk membayar iuran telor dan super mie. Untuk mandi kami rama-ramai bergantian ke villa seorang teman yang ikut kemping. Villa di sini adalah sebuah rumah bilik dengan satu ruangan besar kosong melompong, satu dapur dengan satu kompor, dan satu kamar mandi dengan gayung yang sudah berlubang.

Acara kemping seperti ini rutin. Dibuka dengan sarapan super mie dan kemudian mandi --atau urutannya bisa saja dibalik. Lantas main gitar, nyanyi, dan jalan-jalan. Siangnya kadang makan super mie lagi, kadang di warung atau di kaki lima, dan malam makan super mie lagi atau nongkrong di warung sate, terus main gitar dan nyanyi, api unggun dan yang pilihan terbuka ; bergadang atau tidur.

Yang memilih bergadang biasanya mutar berkenalan dengan tenda-tenda lainnya, dan kalau beruntung sempatlah berpacaran satu atau dua malam. Yang tidur, harus rajin bertepuk tangan untuk melayani nyamuk-nyamuk..

Itulah kemping terakhir sebelum kemping kembali di abad 21. Di Bretagne, Perancis. Dari waktu dan tempat saja jelas sudah berbeda dengan Pelabuhan Ratu. Pertama, untuk kemping harus menggunakan tempat khusus yang dialokasikan sebagai tempat perkemahan. Dan ada satu buku panduan yang memuat alamat semua tempat kemping di Perancis. Namanya buku panduan, dan isinya pun bukan hanya alamat, tetapi juga waktu buka --karena ada yang buka saat musim panas saja--, keadaan tempat kemping --apakah di dalam kota atau di daerah pinggiran atau di tempat pariwisata-- tarif sewa tempat --tidak terlalu mahal karena ada juga yang satu malam hanya sekitar 10 Franc atau harap diterjemahkan sendiri ke dalam rupiah-- maupun fasilitas yang tersediau. Makin lengkap fasilitas, makin tinggi pula perolehan bintang tempat tersebut. Jadi mirip hotel lah, ada yang bintang dua, bintang tiga, empat dan lima.

Tempat kemping milenium ini terletak di daerah Morbihan, di sebelah Barat Laut Perancis. Buku panduan menuliskan perkemahan La Madone mendapat bintang empat. Kalau hotel mungkin setingkat dengan Hotel Sari Pan Pacific di Jakarta. Di area perkemahan ada kamar mandi umum dan wc umum yang berderet-deret lengkap dengan air panas dan dingin, juga kamar mandi khusus untuk bayi, tempat main anak-anak, mesin cuci yang dioperasikan dengan uang logam khusus, maupun tempat menyetrika, tempat barbeque, serta sebuah kafe kecil. Mereka yang datang --harus membayar uang muka dulu-- bisa langsung mengembangkan tenda di tempat yang diberikan sesuai dengan nomor.

Di tempat perkemahan ada juga beberapa mobil rumah atau karavan yang statis. Rumah-rumah mobil ini bisa disewa atau dibeli. Tidak heran jika di beberapa rumah mobil itu pemandangannya persis seperti di rumah sendiri. Ada yang membawa hewan peliharaan, ada jemuran, ada pot-pot bunga dan semua perabotan rumah tangga. Rupanya orang Perancis yang tinggal di kota besar suka mempunyai rumah mobil seperti itu. Dan karena memang kebanyakan rumah mobil itu menjadi rumah kedua, maka penghuninya pun hanya pada masa-masa liburan. Selebihnya dibiarkanlah rumah mobil-rumah mobil itu menganggur di tempat perkemahan.

Kemping milenium ini mendorong pemikiran agar tempat perkemahan di Indonesia diperbaiki dan dibuat nyaman. Kemping, jadinya bisa dinikmati juga oleh keluarga yang perlu sarana yang lebih baik. Kemping jadi bukan monopoli kaum remaja yang jsutru menikmati petualang dan susah ria. Tetapi kalau melihat lagi modal dasar alam Indonesia, sayang sekali jika keluarga dengan anak-anak kecil tidak bisa ikut menikmati langsung. Dan soalnya hanya sekedar fasilitas perkemahan yang tidak mendukung.

Tapi kenapa kemping harus jadi penting. Mungkin tidak terlalu penting, tapi berkemping pastilah lebih baik daripada menonton TV atau main play station setiap hari.
***

 

ceritanet
kirim karya tulis
©listonpsiregar2000