ceritanetsitus karya tulis, edisi 189 kamis 100330

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

sajak Simpai Terlepas
Rama Yunalis Oktavia

Terhanyut dalam perahu kertas
Menyusuri riak laut tanpa batas
Terayun dalam  gempuran ombak

Membawa pesan perpisahan
Dalam guratan tinta kelam
Beragam kata tak terperi

Badan berlumpur liar
Terbawa pulang ke haribaan menuju labuan
Siraman air 7 warna menguliti

Rasa yg hadir bertahun
Terkubur dalam realitas
Mengunci rapat dalam kebisuan

Jemu merasuki relung hati
Mencabik semua tapak indah
Membuka luka baru

Lirih nyaris tak bersuara
Kerontang air mata mengering
Tangan tak kuasa memeluk

Yubileum tak lagi menanti
Saatnya simpai terlepas
Berhambur tercecer perlahan

Silahkan diadu kisah dan kasih
Mencari juara sejati
Bertemu dalam ketidakmungkinan

Tak terlihat, tak bersayap
Malaikat ada disini
Membungkam bisikan syetan

Sang pemimpi melangkah
Taklukan dunia
Mengalungkan medali sejati
***
20/03/2010

Harusnya itu aku, Tuhan!

Harusnya itu aku, Tuhan!
Ketika tangan tak berhenti menghadap
Mengapa kau palingkan itu padaku?

Harusnya itu aku, Tuhan!
Ketika lirih dan air mata bersahabat denganku
Mengapa kau membuat genangan ini semakin besar?

Harusnya itu aku, Tuhan!

Ketika bibir tak berperi berharap
Mengapa kau menjauhkannya dariku?

Harusnya itu aku, Tuhan!

Dalam kelemahan diri ini aku menggugatMu
***
18/03/2010

Mata Elang, Temanku
Wien Pengembara

Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

ceritanet©listonpsiregar2000