ceritanetsitus karya tulis, edisi 189 kamis 100330
ikut mailing list
tentang ceritanet
Hari ini aku bertemu Mata Elang. Matanya masih setajam pisau, yang selalu diasah. Kilauan di matanya seakan tepat menikam jantungku. Siapa sangka, sorot mata itu kulihat lagi. Sekian lama, takdir lewat celah-celah waktunya telah mempertemukan kami. Aku seakan tidak percaya: benarkah sosok di depanku adalah Harun bin Sulaiman, si Mata Elang yang punya seribu cerita tentang masa lalu dan masa depan serta berjuta-juta mimpi-mimpi tentang hidup. Mata Elang, Temanku, Wien Pengembara Terhanyut dalam perahu kertas Menyusuri riak laut tanpa batas Terayun dalam gempuran ombak Membawa pesan perpisahan Dalam guratan tinta kelam Beragam kata tak terperi Simpai Terlepas, Rama Yunalis Oktavia Masa liburan semester. Aku tidak pulang. sedang Heri dan Bang Rahman sudah h lebih dulu mudik tiga hari sebelum masa libur tiba tiba. Empat pintu lain juga sepi. Semuanya pulang kampung. Aku sempat memutuskan mudik, tetapi tugas jurnalistik yang belum selesai, memaksa aku harus menahan diri tidak melepas rindu pada kedua orang tua. Hasil investigasiku di kompleks prostitusi satu pekan lalu harus menjadi liputan khusus. “Menguntit Ramadhan di Kampung Baru”, Maling dan Ustadz, Imron Supriyadi
Hari ini aku bertemu Mata Elang. Matanya masih setajam pisau, yang selalu diasah. Kilauan di matanya seakan tepat menikam jantungku. Siapa sangka, sorot mata itu kulihat lagi. Sekian lama, takdir lewat celah-celah waktunya telah mempertemukan kami. Aku seakan tidak percaya: benarkah sosok di depanku adalah Harun bin Sulaiman, si Mata Elang yang punya seribu cerita tentang masa lalu dan masa depan serta berjuta-juta mimpi-mimpi tentang hidup. Mata Elang, Temanku, Wien Pengembara
Terhanyut dalam perahu kertas Menyusuri riak laut tanpa batas Terayun dalam gempuran ombak Membawa pesan perpisahan Dalam guratan tinta kelam Beragam kata tak terperi Simpai Terlepas, Rama Yunalis Oktavia
Masa liburan semester. Aku tidak pulang. sedang Heri dan Bang Rahman sudah h lebih dulu mudik tiga hari sebelum masa libur tiba tiba. Empat pintu lain juga sepi. Semuanya pulang kampung. Aku sempat memutuskan mudik, tetapi tugas jurnalistik yang belum selesai, memaksa aku harus menahan diri tidak melepas rindu pada kedua orang tua. Hasil investigasiku di kompleks prostitusi satu pekan lalu harus menjadi liputan khusus. “Menguntit Ramadhan di Kampung Baru”, Maling dan Ustadz, Imron Supriyadi