ceritanetsitus karya tulis, edisi 189 kamis 100330

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

cerpen Mata Elang, Temanku
Wien Pengembara

Hari ini aku bertemu Mata Elang.

Matanya masih setajam pisau, yang selalu diasah. Kilauan di matanya seakan tepat menikam  jantungku.

Siapa sangka, sorot mata itu kulihat lagi. Sekian lama, takdir lewat celah-celah waktunya telah mempertemukan  kami.

Aku seakan tidak percaya: benarkah sosok di depanku adalah Harun bin Sulaiman, si Mata Elang yang punya seribu cerita tentang masa lalu dan masa depan serta berjuta-juta mimpi-mimpi tentang hidup. Benarkah sosok di depanku adalah si Mata Elang, murid terpintar di sekolah dulu. Si Mata Elang yang terganteng di sekolah dulu.

Aku nyaris membenturkan kepala ke dinding tembok untuk memastikan kesadaranku.

“Apa kabarmu?” tanyanya, terdengar penuh kerinduan sambil merentangkan tangan, dan kami berpeluk. Kemudian kami berjabat tangan erat, seerat persahabatan kami, dulu.
                                         
“Kau tampak makin kurus.”

Mata Elang tidak menjawab. Ia malah memperhatikanku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sepertinya tidak percaya bertemu lagi denganku.

“Biasalah namanya juga hidup” jawabnya bak seorang filsuf setelah menarik napas dan sudut bibirnya mengembang. Melihat Mata Elang aku ingin bertanya banyak dan gumpalan pertanyaan itu seperti puncak gunung berapi yang akan meletus.

Tujuh tahun lalu, saat bersergam abu-abu dan putih, kami bersekolah sekitar 20 km dari kaki gunung Burni Telong, yang pernah meletus di jaman pra sejarah. Sekolah itu jauh dari kampung kami, Bener Meriah di Aceh Tengah, dan setiap hari aku bersama Mata Elang berjalan kaki sekitar 10 km pergi pulang. Pemerintah rasanya setengah hati membangun sekolah kami; letaknya jauh dari pemukiman -mungkin karena harga tanahnya lebih murah- dan setengah bangunannya sudah miring -pasir-pasir temboknya jatuh berserakan di lantai- dan tak ada dana perbaikan.

Meski jauh, kami tak pernah terlambat. Sekitar pukul tujuh pagi kami sudah nongkrong di warung Bu Ijah menunggu lonceng masuk. Di sekolah kami, para guru yang biasanya terlambat -baik yang jalan kaki, naik sepeda, atau motor.

Mata Elang amat cerdas dan aktif. Guru-guru sering kelabakan menjawab pertanyaannya. Dia selalu juara satu dan sebagai sahabatnya, aku kena imbasnya: aliran contekan mengalir lancar walau tetap saja juara sepuluh pun tak pernah kuraih.

Mata Elang juga menyebar pesona ke anak-anak perempuan. Aku kena cipratan juga walau tak ada penggemar perempuannya yang tertarik samaku, paling tidak aku bisa merasa ikut dikelilingi perempuan-perempuan.

Akulah yang pertama kali menyebutnya Mata Elang. Dia bisa dengan cepat melihat sesuatu, yang belum terlihat orang lain. Juga karena sorotnya yang tajam seperti pisau. Beberapa orang awalnya ikut memanggil dia Mata Elang, walau lama-lama kembali memanggil namanya, Harun. Tapi buatku nama itu sudah melekat sebagai bagian dari karakternya, tak bisa lagi dicabut sampai mati sekalipun.

”Kau tetap kayak dulu, sering bengong kalau diajak ngobrol” tepukan pelan tangan Mata Elang di bahuku.

“Aku sedang mengingat-ingat cerita-cerita kita dulu”
“Ha…ha..ha, apa kau masih suka menulis puisi atau cerpen yang tak pernah selesai...," tawanya lepas.

Rinduku terobati. Aku rupanya rindu Mata Elang.
***

Wajah perempuan itu sungguh cantik. Pesona Mata Elang tampaknya masih terus menyala.

“Walaikum salam” ujarnya berjalan menyambut kami berdua. Dia mencium tangan Mata Elang, jlibabnya melambai ditiup angin. Kubentang tirai di depan mataku: dia istri sahabatku.

“Ini Anggraini dan ini Andre, teman karib di sekolah dulu," dan kuangkat tanganku ke depan dada memberi tanda salam sambil membungkukkan badan, menghindar dari bersentuhan langsung.

Ada sofa di ruang tamu itu dengan busa-busa yang menyembul di ujung-ujungnya. Lantainya beralas tanah. Kulihat beberapa lobang di dinding tepas. Kulirik pakai ekor mataku ke bagian belakang, ada satu kamar dan dapur yang terpisah dengan lemari coklat tua berkaca.

Di balik kaca lemari terpajang tiga foto: saat bersanding di pelaminan, berduaan di depan lukisan Tugu Monas, dan foto mereka berdua bersama bocah perempuan.

"Masih suka kopi," tanyanya memutus observasiku di ruang tamu itu.
"Ya, sedikit gula saja," balasku lembut ke istrinya. Ada kekhawatiran suara yang terlalu keras akan menghancurkan kecantikan istrinya.

“Ternyata Tiana bukan jodohku," katanya ketika istrinya ke belakang menyiapkan kopi.

Aku tersenyum, tak tahu mau menanggapi apa dan juga malu karena dia membaca benakku.

Mata Elang mengejar Tiana sudah menjadi pengetahuan orang sekampung. Juga semua orang tahu kalau Tiana mengacuhkan Mata Elang. Aku merasa sedikit bersalah karena akulah yang harus menulis ratusan atau ribuan surat cinta Mata Elang untuk Tiana, sampai ada saatnya aku merasa sosok Tiana amat dekat denganku. Dan kegagalanku dalam tulis menulis itu rasanya masih berlanjut sampai sekarang.

“Anak kami namanya Wesimah Bengi, sudah kelas 4 SD dan mudah-mudahan nanti bisa bertemu dia selepas pulang sekolah."

“Nah sekarang, ceritalah tentangmu” lempar Mata Elang ke arahku ketika istrinya datang membawa kopi.

Kami ngobrol panjang lebar, termasuk tentang pekerjaanku.

"Ha...ha...ha... Akhirnya bisa juga kau hidup dari tulis menulis," tawanya lepas lagi menghangatkan kembali persabahatan kami yang sempat membeku selama tujuh tahun.

Mata Elang mengaku bekerja jadi buruh di perkebunan kopi milik orang Jakarta sambil menanam kopi di tanah yang dia sewa tak jauh dari rumahnya. "Untuk dipakai sendiri," jelasnya. Dan kuhirup kembali kopi di cangkirku, dingin tapi tetap segar.

Dia juga mengenang tiga hektar kebun miliknya di pedalamam Aceh Tengah dengan rumah kecilnya di tengah kebun. Konflik Aceh memanas dan tanaman kopi dan rumah kecilnya dibakar musnah, entah oleh Gerakan Aceh Merdeka atau TNI. Tak ada yang tahu dan juga tak ada mau tahu. Dia pun mengungsi, "GAM dan TNI perang, yang kena kami.."

Dia sebenarnya ingin menggarap kebun itu lagi, tapi tiga hektar butuh modal besar.

“Bantuan korban-korban konflik tak masuk rupanya ” tanyaku.
“Ha..ha..ha” Mata Elang tertawa lebih besar.

“Kalau aku kenal camat atau bupati ya lancar. Atau ya satu pejabat kecamatan sajalah, tapi kalau tak kenal mana mungkin. Ada yang dapat bantuan malah bukan korban konflik.” Ini cerita lama yang sudah kudengar, bedanya kali ini langsung dari sahabatku dan aku jadi tercekat. Kegetiran itu menjadi dekat denganku, menjadi nyata, bukan sekedar laporan tertulis semata, bukan statisik saja.

“Ini kenyataan Aceh. Uang begitu banyak tapi tidak disalurkan ke orang-orang yang sepatutnya menerimanya. Uang tsunami juga begitu. Ada yang tak kena tsunami malah dapat rumh."

Tiga tahun jadi wartawan di pusat pemerintahan membuatku bisa menjangkau semua cerita dari semua daerah, dari korupsi sampai prestasi. Tapi semuanya selalu berjarak. Kali ini aku ikut merasakannya. Kutatap lantai tanah Mata Elang dan aku kesal sendiri karena keluar rasa ibaku.

"Apa semua penulis suka bengong begini," tanyanya.
***

Seminggu sebelum tiba di rumah Mata Elang, aku ditugaskan meliput ke Aceh. Suasana agak panas: ada bom kecil meledak di Lhokseumawe, lantas ada mantan petinggi GAM yang ditembak di Lhangsa -entah oleh siapa- dan ada bank swasta di Banda Aceh yang dirampok. Orang bilang ini gaya GAM jaman dulu, tapi yang lain bilang ada kelompok yang sengaja meniru gaya GAM.

"Lu yang berangkat Wien," kata bosku. "Pakai kontak-kontak jaman dulumu."

"Beres bos," jawabku bersemangat. Ini bukan sekedar pekerjaan, tapi juga pulang kampung. Kalau pekerjaan sudah beres, mungkin aku bisa minta cuti beberapa hari, pikirku. Tujuh tahun lebih merantau, menimbulkan rasa haru ketika membayangkan aku pulang sebagai wartawan. Aku langsung ke kamar mandi, membasuh muka, membasuh tetes air mata haruku.
***

Di bawah terik matahari 29 derajat Celcius, si suatu siang yang kering aku menginjakkan kaki di Bandara Sultan Iskandar Muda. Kulihat berkeliling, tujuh tahun cukup untuk berubah banyak. Bukan hanya namanya diganti dari Blang Bintang. juga bangunan mewah dengan kaca besar di seluruh dinding depannya.

Menelusuri jalan raya dua jalur yang halus ke pusat kota, kami berpapasan dengan mobil-mobil bertuliskan nama lembaga-lembaga sosial dunia. Tujuh tahun lalu, ketika melintasi Banda Aceh saat menuju pelabuhan untuk berangkat ke Jakarta, hanya bis, angkutan kota, sepeda motor, dan mobil berplat merah saja yang terlihat.
***

Petang itu aku lelah, setelah mendengar dan mencatat kisah puluhan orang, berbagai versi. Orang awam yang tidak melihat tapi merasa tahu semua, pejabat pemerintah yang tidak tahu apa-apa, polisi yang tidak mau tahu, dan politisi yang membual. Dua belas tahun reformasi, satu tsunami, dan satu kesepakatan damai, ternyata tak mengubah mental orang.

Aku lelah dan aku mau longgarkan ketegangan otakku, dan otomatis aku panggil taksi ke rumah Mata Elang.

Kami ngobrol dengan cangkir kopi dari hasil panennya, juga ada pisang goreng sebesar telapak tangan yang berjubel dan sebagian nyaris keluar dari bibir piring. "Yang ini dari tetangga, tukaran dengan kopi."

Mata Elang menghirup kopinya, mengambil tembakau dari kantung plastiknya, melintingnya rapi. Hening dan kunikmati gerakan-gerakan halus jemarinya di ritualnya itu dan dia juga seperti sengaja menyuguhkan pagelaran ritualnya. Kutarik nafasku pelan, rinduku terobati tapi tak lama lagi akan terbangun kembali.

"Ayah ibu istriku dibantai orang," katanya setelah melepas kepulan asap pertama rokoknya dan diikutinya gumpalan asap itu naik perlahan ke atas.

"Kampung istriku diserang orang, ntah GAM atau TNI. Rumah-rumah dibakar, orang-orang ditembaki membabi buta. Malam hari, jadi orang masih pada tidur," ditatapnya api di ujung lintingannya. Orang-orang kuat yang tak butuh iba. Aku geser pantatku, gelisah.

“Istriku masih berumur 12 tahun dan sedang sama neneknya di kampung lain."

Pulang dari rumah Mata Elang, aku merasa lebih lelah, sedih, dan marah.
***

Malam itu aku bermimpi kami berdua berkunjung ke Bener Meriah. Mata Elang mengenakan kaus hitam, celana hitam, dan kopiah hitam. Matanya terlihat lebih tajam dan ujungnya ada titik merah, seperti sinar laser yang bisa membelah baja. Aku tertanya-tanya tapi tak bertanya.

Kami sempatkan singgah di Danau Lut Tawar, mengenang piknik jika ujian tahunan selesai. Piknik itu menjadi ajang Mata Elang. Dia selalu membawa gitar untuk menambah tebar pesonanya, dan akupun harus merayu Tiana ikut.

Ini merepotkan karena jika Tiana tak ikut, Mata Elang tak bersemangat. Kalau Mata Elang tak bersemangat, maka suasana tak hidup. Piknik menjadi lesu. Dan kuingatkan Mata Elang tentang itu dalam perjalanan nostalgia kami ke Lut Tawar.

"Ternyata Tiana bukan jodohku," katanya sambil menatap bayangan kami di permukaan danau.

Kami diam. Sulit menerima Mata Elang cuma jadi buruh perkebunan kopi. Kami semua yakin kelak Mata Elang akan menjadi orang terkenal: pintar, ganteng, baik, dan jujur. Ketika berpisah tujuh tahun lalu, aku serius ketika mengatakan "kalau aku gagal di rantau, kau pasti bisa mencarikan kerja untukku ya."

Dia cuma tersenyum, tak menjawab, tak bisa menebak masa depan. Mata Elang tak mau melanjutkan sekolah selepas SMA. Memilih berkebun di tanah leluhurnya di pedaman Aceh Tenggara. "Aceh perlu orang yang mau berpeluh dengan cangkul, bukan dengan senjata atau omong kosong," jelasnya. Tapi senjata dan omong kosong yang menang: memusnahkan seluruh mimpinya di mata cangkul dan benih-benih kopi.

Kami berjalan menelusuri tepian danau Lut Tawar. Kedua kakiku terasa amat berat dan Mata Elang beberapa kali harus berhenti menungguku. "Banyak yang berubah di Aceh, tapi cuma yang kelihatan. Yang lain gitu-gitu juga. Petani ya petani terus. pengemis ya ngemis, buruh memburuh, pegawai korupsi," katanya setengah berteriak sambil menunggu aku mendekat.

"Jangan tuduh aku sadis, tapi kadang aku berpikir kenapa Tuhan tidak mengirim tsunami ke seluruh Aceh ini. Biar semuanya tenggelam, biar semuanya hilang dan biarlah orang-orang baru dengan mental baru yang hidup."

"Kalau kau bisa menjamin masih ada orang dengan mental baru," jawabku ketus.

"Itulah kemarahan kami, kemarahan orang-orang yang tak berdaya. Orang-orang dari segala bangsa datang setelah tsunami dan kesepakata damai, orang-orang bertubuh lain tapi berotak sama," dia berhenti menghadap ke danau.

"Tuhan, datangkanlah lagi tsunami, yang lebih kuat, lebih dashyat, lebih besar. Sepuluh kali lebih besar," katanya membentangkan tangan dengan Danau Lut Tawar seperti meja penyembahan.
***

"Tut tut tut tut," teleponku berdering. Kulihat nomor telepon dari kantor Jakarta.

"Ngapain aja lu di sana, ada perampokan bank lu kagak tahu," bentak bosku. Kulirik jamku, 10,29. Aku tidur lelap dan dalam.

"Siap bos, segera," kumatikan dan kutelepon kawan lamaku di Aceh Pos.

"Bank Mandiri, aku sedang di sini. Cepatlah kau," katanya.

Lalu lintas macet total, aku berlari sambil mendorong orang-orang yang berkerumun nonton. Polisi menutup kawasan sekeliling Bank Mandiri. Dari luar tak terlihat ada bekas-bekas perampokan.

"Ada yang mati?" tanyaku terengah-engah begitu berhasil dengan kumpulan wartawan di luar pintu masuk bank itu.

"Banyak. Perampoknya membabi buta, pakai AK47. Cuma satu orang lagi, agak lain dari yang biasa," jawab wartawan di sebelahku.

"Berapa yang mati?"

"Nggak tahu, polisi cuma bilang perampoknya mati ditembak satpam."

Aku menyelinap dari sela-sela kerumunan wartawan berusaha mengejar ketinggalanku, mengintip lewat pintu kaca besar dan terlihat beberapa tubuh tergeletak di lantai, Kutelesuri berkeliling dan aku tersentak: ada tubuh pria terpelungkup dengan celana hitam, baju hitam, dan kopiah hitam, persis seperti yang dipakai Mata Elang dalam mimpiku.

Darah dari bagian dadanya menyebar di lantai.

Aku gelisah, jantungku berdebar. Ingin kubalikkan jenasah pria itu. Kucoba mendekati polisi penjaga di depan pintu, tapi dia melambaikan punggung tangannya mengusir.

"Identitas pelakunya sudah ada Pak," tanyaku berteriak.

"Belum," teriaknya balik tak perduli.

Berbalik ke arah kerumunan wartawan di belakangku, kucari kawan dari Aceh Pos.

"Bung sudah dapat beritanya?" aku panik, bukan membayangkan kemaran bos di Jakarta tapi membayangkan mimpi ke Danau Lut Tawar bersama pria berpakaian hitam dan berkopiah hitam.

"Orang lokal, dan motifnya bukan perampokan tapi membabi-buta, Janjinya sebentar lagi ada konperensi pers di sini, mkanya kita tunggu sajalah."

Terkenang kembali mimpiku, juga kunjunganku ke rumah Mata Elang. Semuanya berbaur samar-samar. Tiba-tiba aku ketakutan: takut melihat wajah berpakaian hitam yang bersimbah darah itu, takut mendengar nama pelakunya adalah Harun bin Sulaiman. Aku takut dan gelisah menanti kepastian.

Aku mundur dari barisan wartawan dan kutelepon bos di Jakarta: "Bos, dipastikan tidak ada kaitan dengan kondisi politik. Ada orang ngamuk. Bahan-bahan untuk rencana liputan awal sudah cukup, jadi aku cabut hari ini juga"

"Katanya ada belasan yang mati...."

"Bos, putus-putus, nggak kedengaran... apa, apa..nggak dengar bos." teriakku dan kumatikan telepon genggamku.

Sekitar satu jam kemudian, aku sudah di ruang tunggu Bandara Iskandar Muda.

Menunggu masuk pesawat, air mataku menetes. Kusapu pakai telunjuk kanan: "Aku rindu kau, Mata Elang."

***
Januari 2010

Simpai Terlepas
Rama Yunalis Oktavia

Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

ceritanet©listonpsiregar2000