ceritanetsitus karya tulis, edisi 188 kamis 100304

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

novel Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

Di Palembang aku tinggal di rumah kontarakan bersama dengan Heri, teman sebangku waktu di Kotabumi. Satu teman lagi namanya Rahman Suryaman, biasanya kupanggil Bang Rahman. Ia putra kelahiran Bandung tetapi lama tinggal di Pulau Bangka. Kami bertiga tinggal di Jalan Letnan Yasin, persis di depan rumah ulama terkemuka Palembang, KH Zen Syukri.

Di rumah kontrakan, aku harus membiasakan makan dua kali, siang dan malam sedang pagi cukup makanan kecil dengan secangkir kopi atau teh hangat. Tradisi makan dua kali ini harus kuikuti, karena anggaran iuran untuk makan memang sangat terbatas. walau sebelumnya terbiasa sarapan pagi.

Aku dan Heri sama-sama di IAIN Raden Fatah, sementara Bang Rahman mahasiswa semester akhir di Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Sriwijaya Palembang.

Sebagai mahasiswa baru, aku banyak belajar dari Heri dan Bang Rahman, baik untuk memilih mata kuliah, menggunakan metode belajar yang efektif dan juga memilih organisasi kampus. Tapi sampai satu semester, baik Bang Rahman atau  Heri tidak pernah bercerita tentang aktifitasnya di organisasi kampus. Mereka lebih banyak mengajak diskusi hal-hal yang berkaitan langsung dengan soal-soal akademik.

Suatu pagi menjelang siang. Heri sudah berangkat ke kampus, tinggal aku dan Bang Rahman. Tanpa ada rencana, Bang Rahman berbincang tentang rencana hidupnya. Dalam dua bulan ke depan, rencananya Bang Rahman akan menyelesaikan studi. Dia sedang menyusun yang membahas suap menyuap dalam perspekstif Islam.

Semula aku tak begitu tertarik membahas tema skripsi Bang Rahman. Buatku suap menyuap tak perlu diperdebatkan lagi. Hukumnya jelas; haram! Titik.

“Ini tradisi yang sudah sedemikian kuat, sehingga mau tidak mau kita juga harus ikuti arus ini, Lif,” Bang Rahman membuka argumen.
 “Jadi cita-cita abang ingin jadi PNS akan tetap diraih, walau harus menyuap?”
“Ya itu tadi. Kita tidak bisa keluar dari sistem ini, Birokrasi di Indonesia sampai kapanpun akan tetap mendahulukan siapa yang punya uang. Yang berkuasa orang yang punya uang, termasuk PNS. Sekarang bukan lagi orang pintar yang dibutuhkan, tetapi orang yang punya uang,” ujar Bang Rahman sambil sesekali membuka skripsinya.

Ada sebersit kekecewaan. Kenapa calon sarjana muslim seperti Bang Rahman masih picik dan pesimis terhadap realitas birokrasi di Indonesia: bersedia menghalalkan segala cara untk menjadi pegawai negeri. Apa Bang Rahman tidak sadar kalau dunia ini bisa berubah? Apa dia tidak sadar kalau dia mestinya masuk ke dalam gerakan perubahan itu?

“Apa abang tidak percaya kau suatu saat birokarsi di negeri ini akan berubah?”
“Aku pesimis. Sebelum Soeharto jatuh, birokrasi di Indonesia tidak pernah akan berubah,” ujarnya.
“Nah, ternyata abang sadar kalau iklim budaya politik dan birokrasi di Indonesia ini hanya akan berubah kalau Soeharto jatuh. Kenapa kita tidak sepakat saja membangun kekuatan untuk menjatuhkan Soeharto?!” kataku menggebu.
“Siapa di negeri ini yang berani melawan Soeharto? Kita ini, Lif,  hanya sekumpulan semut kecil di sebuah kampus, yang sangat tidak mungkin melakukan perlawanan terhadap rezim Soeharto, apalagi menumbangknnya,” Bang sedikit melototkan matanya.
“Bang apa abang tidak ingat dengan perang Badar yang dipimpin langsung oleh Rasulllah SAW. Ketika itu pasukan Muslimin jumlahnya lebih sedikit dari pasukan kaum Quraisy. Tetapi apa yang terjadi kemudian? Muslimin menang perang atas izin Allah,” kataku mendebat.
“Rasul bukan kita, Lif.  Beliau manusia pilihan yang secara langsung dilindungi oleh Allah. Jadi tidak bisa kita samakan perang Badar dengan menumbangkan Soeharto.”
“Kalau kita hanya pasrah dengan keadaan seperti abang, saya yakin Soeharto memang tidak akan tumbang. Tetapi kalau mahasiswa bersatu, petani bersatu, kaum buruh bersatu, dan semua rakyat punya musuh bersama, maka siapa pun yang berkuasa, pasti akan tumbang,” kataku mengutip buku politik yang sempat kubaca saat di desa dulu.
“Sekarang ini, Lif. Abang ingin hidup tenang. Selesai kuliah abang ingin jadi pegawai negeri, mengajar murid-murid, punya punya isteri dan anak. Itu saja.”
“Jadi abang tetap akan menyuap juga untuk menembus jadi PNS?”
“Kenapa tidak, kalau abang punya uang?” katanya, mengangkat kecil kedua bahunya.

Aku membaca istighfar beberapa kali. Aku berlindung kepada Allah, jangan sampai pertemuanku dengan Bang Rahman akan meracuni pikiran dan mentalitasku.

“Berarti kesimpulan dalam skripsi abang, menghalalkan suap?”
“Ya. Tentu dengan beberapa pertimbangan budaya dan iklim politik saat ini?”
“Tapi bukankah agama sudah jelas mengharamkan suap menyuap. Arrosyi wal Murtasyi Finnaar --yang menyuap atau yang disuap akan masuk neraka,” aku mengemukakan dalil, tidak berharap Bang Rahman berubah pikiran tapi paling tidak menegaskan bahwa ada moralitas yang terpleset dalam cara pandangnya.
“Abang tahu itu. Tetapi Allah kan Maha Tahu, tentang niat seseorang menyuap?”
“Maksud Abang ?” aku belum tahu arah pembicaraan yang menyinggung soal niat.
“Abang akan masuk PNS dengan menyuap. Setelah itu abang akan merubah sistem dari dalam. Jadi dengan masuk PNS lewat menyuap, abang bisa melakukan perubahan dan mudah-mudahan iklim biokrasi suap menyuap itu akan berubah secara perlahan,” ujarnya optimis.
“Bang, logikanya. Kalau masuknya saja sudah banyak berkorban, bagaimana mengubah sistem, tetapi yang dipikir bagaimana mengembalikan modal,” aku mementahkan argumentasi Bang Rahman.
“Boleh saja kau berkata begitu, tetapi abang tidak,” Bang Rahman mengelak.
“Tetapi bagimana mungkin abang akan mengubh sistem, kalau abang hanya sendirian di dalam sistem itu. Sulit Bang melawan kumpulan setan sendirian. Malah, bisa-bisa kita ikut terhanyut dalam kubangan suap,” bantahku yakin.
“Lif, kita boleh bergaul dengan setan, tanpa harus menjadi setan.”
“Saya sepakat itu. Tetapi bergaul dengan setan yang banyak jumlahnya...”
“Ya itu butuh proses, Lif. Doakan abang bisa melakukan itu.”
“Oke, itu soal lain, tapi bagaimanapun saya tidak setuju kalau abang menghalalkan suap. Gaji abang, dan tujuh keturunan di bawah abang akan ikut menanggung beban dosa, Bang!”
“Yang berdosa itu menyuapnya. Kalau hasilnya tidak.”
“Lho, Bagaimana bisa begitu!? Kalau menurut saya, kalau dari awal sudah jalannya salah, hasilnya juga tetap saja salah. Kita tidak mungkin melakukan shalat dengan sarung hasil curian,” suaraku meninggi, emosi dan juga karena mulai kehilangan rasa hormat padanya.
“Tapi shalatnya kan sah. Hanya mencurinya saja yang berdosa?” kilahnya.
“Jadi seandainya saya mendobrak pintu rumah abang, lalu saya mencuri radio dan seisi rumah. Apakah kemudian yang terkena dosa hanya mendobrak dan merusak pintu? Sedang hasil curiannya tidak haram?”
“Sekarang kamu baru semester satu, memang idealis. Sama seperti abang dulu. Tetapi ketika nanti kamu berhadapan dengan tuntutan hidup, pasti pikiran kamu akan berubah seperti abang,” kilahnya menasehatiku.

Aku diam. Ini orang yang sudah kehilangan argumentasi total dan semata-mata memainkan perbedaan usia. Sudah sering aku alami taktik ini, dan ini kesempatanku untuk mencoba membongkar kehampaan cara berpikirnya.

“Tapi bang, yang saya pikirkan sekarang adalah bagaimana mahasiswa bersama rakyat bersatu untuk menurunkan Soeharto. Saya tidak ingin larut dalam birokrasi  yang membudayakan suap menyuap!” kataku mengebu.
“Kau yakin akan ada perubahan?”
“Yakin! Selagi manusia mau melakukan upaya menuju perubahan. Kalau kita pasrah, ya tergilas oleh budaya politik yang menindas ini.”
"Kau masih baru masuk universitas Lif, masih menggebu-gebu. Soal waktu saja dan kau bisa melihat kenyataan dengan lebih dingin," katanya dan dia mengalihkan sorotnya ke halaman skripsinya, menghindar dari kejaranku.

Aku mengamati dia tajam, tapi dia tak dia membalik-balikkan halaman skripsinya. Entah apa yang dia baca,

Obrolan pagi bersama Bang Rahman itu membuatku pedih. Kalau semua sarjana muslim masih menggunakan pola pikir seperti dia, bagaimana mungkin Indonesia akan berubah? Aku masuk ke kamarku dan dalam keheningan pagi itu, kubaca lagi janji Allah dalam surat Ar-Raad ayat sebelas: Innallaha la yughoyyirumaa biqoumin hatta yughoyyiruu maa bi anfusihim. (Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kalau bukan kaum itu sendiri yang merubahnya).

Dengan ayat itu, aku makin memantapkan diri kalau aku tidak boleh menjadi manusia yang larut dalam iklim dan budaya politik yang salah.

“Alif, kelak kalau kamu sudah besar, jadilah generasi yang membentuk, bukan generasi yang hanya dibentuk.” Pagi itu pesan ayah bersatu padu dengan ayat Quran, memantapkanku.
***
bersambung

31 tahun bersama Ibu
Ani Mulyani

Motor Butut dan Pengemis
Wien Pengembara

Ku Kepadamu
Dewi Penyair

ceritanet©listonpsiregar2000