“Anak-anak yang sudah terdaftar di TK/TP Al-Quran, sebaiknya sudah mulai diterapkan membayar SPP bulanan. Sebab, lembaga ini sudah menjadi lembaga semi formal, sudah hampir serupa dengan sekolah lainnya,” saran Pak Ramlan ketika TK/TP Al-Quran Wathoniyah mulai berkembang.
Aku agak bingung: in dilematis. Di satu sisi kalau aku terapkan SPP bulanan, ada kekhawatiran kalau-kalau murid-murid akan bubar secara perlahan. Tetapi kalau tidak membayar, bagaimana aku harus meningkatkan mutu proses belajar anak-anak, terutama sarana dan prasarana? Gejolak batin ini yang kian hari membuat aku harus memutar otak agar anak-anak mengaji punya meja tulis. Kasihan kalau mereka terus-terusan menulis sambil telungkup. Posisi telungkup jelas tidak seimbang dengan upaya pengembangan kreatifitas. Sebab dalam posisi telungkup, ada saraf otak yang terlipat, sehingga akan menghambat proses pengembangan murid-murid di TK/TP Al-Quran Wathoniyah.
“Ayah sudah buatkan 10 meja tulis untuk anak-anak,” kata ayah suatu sore memberi angin segar, ketika aku masih sekedar berputar-putar tanpa jalan keluar. Ini awal yang baik. Ayah memang punya keterampilan membuat meja dan kursi. Selama ini, ayah sempat mendapat borongan meja dan kursi di beberapa kantor instansi pemerintah dan swasta di Lahat. Ternyata sisa kayu dari borongan meja kursi yang selama bisa dimanfaatkan jadi meja panjang yang pendek untuk anak-anak mengaji.
Dan bantuan ayah itu sepeti kail. Secara perlahan ada beberapa wali murid yang mulai menyumbang papan, terutama sebagian warga desa yang berprofesi sebagai pembelah kayu di hutan. Mereka menyumbang papan beberapa keping, yang kemudian diolah oleh ayah menjadi meja panjang untuk anak-anak mengaji.
Dalam waktu relatif singkat, anak-anak mengaji di TK/TP Al-Quran Wathoniyah sudah bisa duduk enak sambil menulis. Tinggal aku berpikir bagaimana agar masing-masing anak bisa mempunyai buku Iqra masing-masing. Bantuan Pak Ramlan dan tabunganku hanya cukup untuk membeli sekitar 15 buku Iqra. Jadi untuk sementara hanya dipinjam: selesai belajar, harus dikembalikan.
“Pak Alif, gimana kalau anak-anak memiliki buku Iqra masing-masing,” tanya Pak Darman salah satu wali dalam sebuah kesempatan.. Bagiku pertanyaan ini telah membuka cara pandang warga desa terhadap pentingnya buku. Sejak usulan itu, masing-masing wali kemudian menyetorkan uang untuk biaya buku Iqra. Dari pertemuan yang satu ke pertemuan lainnya, kesadaran warga desa mulai berkembang. Sampai akhirnya beberapa wali juga memikirkan honor bagi para guru TK/TP Al-Quran.
Walau perlahan-lahan bantuan dan sumbangan mengalir, gagasan menarik SPP masih tetap menyala di benakku. Dengan kesadaran orang tua murid yang semakin meningkat, aku jadi lebih percaya diri. Akupun meminta Rp 500 per murid per bulan. Walau jelas amat jauh dari honor guru di sekolah atau sekedar les tambahan usai sekolah. paling tidak, aku bisa berbagi rasa dengan para guru yang selama ini telah membantu pengembangan TK/TP Al-Quran.
Karena aku belum menganggap SPP itu sebagai keharusan, dan ada saja sebagian wali yang tidak membayar, kadang aku harus mengorek uang kantongku untuk membayar kawan-kawan pengajar. Bagaimanapun aku yang meminta mereka membantu dan aku harus berupaya sebisa mungkin setidaknya sekedar memberi semacam uang jalan. Honorku di Madrasah, yang aku terima per tiga bulan sekali aku cadangkan khusus untuk mengganti honor para guru TK/TP Al-Quran kalau SPP tidak cukup. Kterlibatan mereka untuk ikut mengajar mengaji sudah satu hal yang tidak bisa dinilai dengan materi, apalagi hanya sekedar honor Rp 50.000.
Bulan Ramadhan tiba. Seperti masjid pada umumnya. sebagian warga juga menunaikan shalat tarawih bersama di masjid Wathoniyah. Dan ternyata bukan hanya dipenuhi orang tua, tetapi juga anak-anak. Sebagian anak-anak yang datang, adalah putra-putri mereka. Aku sangat bersyukur dengan perkembangan kesadaran anak-anak, yang tahun sebelumnya masih asing terhadap masjid.
Sejak ada Tk/TP Al-Quran, anak-anak sudah sangat bersemangat masuk masjid. Bukan hanya ramai ketika jamaah tarawih saja. Pada saat subuh pun, setengah jamaah masjid Wathoniyah juga adalah orang dewasa dan setengah lagi anak-anak. Sejak dari awal ramadhan, aku mengajak anak-anak dan sebagian orang tua, mulai mentradisikan kultum seusai shalat subuh. Sebagian mendengarkan walau sebagian lain ke luar karena harus segera menuju kebun untuk mencari nafkah. Aku tak memaksa mereka. Aku paham betul dengan rutinitas kerja sebagian warga desa.
Hanya satu tahun aku bisa mendampingi anak-anak di dalam masjid Wathoniyah. Setelah setahun di desa, aku harus melanjutkan sekolah ke IAIN Raden Fatah Palembang, Memang sesekali aku bisa ikut kembali mengajar, saat aku pulang kampung. Selebihnya aku serahkan pada ayah, ibu dan beberapa anak-anak muda desa.
Masjid Wathoniyah tidak lagi dihuni para kambing, tetapi ramai oleh para santri TK/TP Al-Quran.
***