ceritanetsitus karya tulis, edisi 187 selasa 100216

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

memoar Bumi Sekarat
Presiden Hayat

Terkapar dia.

Dan kita yang telah menikamnya berulang-ulang. Idiotnya, meski kita telah menyayat-nyayatnya, menaburi lukanya dengan garam sambil nyanyi Genjer-Genjer, kita tidak nggak merasa telah membuatnya koma. Entah berapa bencana lagi dibutuhkan untuk menyadarkan kita. Berapa juta lagi isyarat dan tanda harus diberikan untuk membuat kita mengerti. Berapa lagi azab yang harus ditimpakan agar kita insyaf. Berhenti menjadi penjahat lingkungan danmenyakiti bumi.

Penjahat Lingkungan? Apa salahku? Aku tidak melakukan apa-apa kok? Ya Ampun. Please deh. Sudah melakukan perbuatan nista dan tercela, nggak merasa pula.  Kalau semua manusia begini, kita akan bernasib seperti katak yang ditaruh di baskom berisi air yang dipanaskan pelan-pelan. Meskipun tidak ditikam di foramen magnum, si katak akan mati ketika airnya mendidih: 100 derajat Celcius.

Ya, air dingin perlahan-lahan menghangat melembutkan pembuluh mengalirkan darah ke seluruh ujung-ujung tubuh. Segar dan santai. Menit betambah, air semakin menghangat dan aliran darah membuka paru-paru serta otak dajn kau menghirup nafas lega, asyik kali. Panas mulai menyebar, air menggelegak kecil, keringat mengucur, debar jantung menguat, kok sesak nafas ya. Air menggelegak penuh --100' C- nafas tersendat, kulit terkelupas, jantung meledak...

Darah, suir-suir daging, dan remehan kulit bercampur air mendidih.

Mati! Katak, lembu, anjing, semut atau manusia, atau aku, kau, engkau dan dia dan mereka.

Itulah, mati konyol karena tidak peka terhadap lingkungan dan masa bodoh terhadap bahaya yang mengancam. Bahaya? Bahaya apa yang mengancam bumi?  Oh Tuhan! Belum sadar juga? Sudah stadium 4, bung!

Tidak hanya mengancam bumi, tapi juga ras manusia dan makhluk hidup lain: katak, lembu, semut. Dunia makin panas dan udara kering beringsang.

Semua orang boleh memuja Profesor Samadov bahwa dunia semakin panas karena gejala alam dan manusia tidak punya peran apapun. ues terima waelah, arap ngopo maneng ' nduk.

Biar semua orang, tapi bukan aku. Aku suka Joseph Fourier karena percaya gas di atmosfir bisa mempengaruhi temperatur di muka bumi. Persis! Akhirnya ente mau membuka otak juga: pemanasan global.

Begini, seperti kita ketahui, energi matahari yang sampai ke bumi itu kurang lebih sepertiga atau seperempatnya akan dipantulkan lagi ke ruang angkasa melalui awan, partikel-partikel, dan permukaan reflektif lainya. Sebagian besar lain akan diserap oleh tanah, lautan, dan tumbuh-tumbuhan -makanya perlu pohon-pohon supaya nggak terasa kering kerontang.

Kita juga tahu, energi yang diserap bumi tidak selamanya tinggal di bumi, karena kalau demikian halnya maka bumi tentu akan menjadi bola api yang panas sekali. Tetapi energi tersebut akan dipantulkan lagi dalam bentuk sinar infra merah, yang sayangnya tidak langsung terbang ke ruang angkasa, melainkan akan dicegat dan ditahan oleh karbondioksida (CO2) dan gas-gas rumah kaca lain yang ada di atmosfir  sebelum dilepaskan dan dibalikkan lagi ke permukaan bumi.

Mulai ngeh? Mulai dong?

Ini bukan ilmu kelas berat, baca koran doang atau klik sana sini di Wikipedia sudah ada kok. Kok baru tahu? Ya karena nggak sadar itu tadi. Ibaratnya malu bertanya idiot di otak.

Jadi meningkatnya konsentrasi CO2 dan gas-gas rumah kaca inilah yang membuat eskalasi gelombang panas yang terperangkap di atmosfir menjadi semakin meningkat tajam.  Panasnya temperatur bumi akan berbanding lurus dengan dengan banyaknya konsentrasi CO2 dan gas-gas rumah kaca di atmosfir.

Artinya -persis Bung- pemanasan global akan sangat tergantung pada besarnya konsentrasi CO2 di atmosfir dan kemampuan bumi untuk menyerapnya. Celakanya, produksi O2 seret. Bumi makin lama makin loyo. Terengah-engah tak berdaya untuk mengimbangi CO2 karena hutan dibantai dengan sadis, dibabat sembarangan, taman kota dan pohon-pohon rindang dianggap tidak eksotis lagi -kan lebih untung dikembangbiakkan jadi beton-beton yang angkuh (palemu kopong kali ya, emangnya bisa beli O2 dari Tuhan: "Han., han kirimkan urunkan lagi dong stok O2 sebanyak 300 juta kg. Ntar ane yang galang dananya. Oe bayar tepat waktulah")

Bayangkan, tahun-tahun belakangan ini 2 juta hektar hutan Indonesia lenyap tiap tahunnya. Dua juta hektar bung! Itu kira-kira 3.5 kali luas Pulau Bali. Sialnya lagi, kita -yang palenya kopong tadi itu- sudah tahu bumi sedang sakit masih saja tidak merasa bersalah menyemprotkan dan mencemari udara. Merusak atmosfir kita. Setiap hari, berapa juta mobil dan motor kentut CO2 mencemari udara kita? Berapa juta ton batubara dan minyak bumi kita keruk dan sedot gila-gilaan dalam setahun? Berapa ratus juta ayam dan babi kita ternakkan -itu semua nebang pohon dan perlu air mbah.

Maka gas-gas rumah kaca di atmosfir menjadi semakin tebal. Bumi serasa diberi sabuk insulator dan panas yang terperangkap akan semakin banyak. Temperatur bumi akan meningkat. Namanya adalah pemanasan global bung!

Dampak selanjutnya? Sungguh menyeramkan! Iklim bisa kacau dan berubah sangat ekstrim --bawa payung tapi tak hujan tapi justru lupa payung waktu hujan lebat, masuk angin sampai rumah, besok nggak ke kantor, rekening jatuh tempo tak bisa dibayar.

Ekosistem acak-acakan --kucing-kucing kurapan berkeliaran di dapur kita mencari pengganti tikus yang musnah karena ladang hijau dijadikan perumahan. Permukaan air laut naik --itu artinya tenggelam dik- terus es di kutub utara dan selatan mencair --kemana larinya miliar kubik air itu kalau bukan ke laut.

Waduh, ya akan njir banjir tak iye?

Klelep kabeh dik!

(Oe mah tak ulusan, lumah oe di Puncak --nah kaya-kaya tapi idiot gini sama aja ama tikus mati di lumbung padi)
***

Untuk Jalan yang Sedang Dibaca
Bambang Saswanda Harahap

Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

ceritanet©listonpsiregar2000