ceritanetsitus karya tulis, edisi 186 kamis 100128

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

Ketika saya dan bapak sedang jalan pagi, ada pesan singkat dari adik saya. Isinya, mengabarkan bahwa dia dapat telpon dari rekannya: "Ompu Parsaoran boru Manurung meninggal dunia". Ompu Parsaoran adalah teman sekampung bapak saya di Sarimatondang, Sidamanik, Sumatera Utara. "Dia sepantaran dengan saya," demikian bapak menjelaskan ketika kami duduk di bangku besi di taman  kecil di seberang kali Cipinang, Jakarta Timur. Bapak Sedih Hari Ini, Eliakim Sitorus

Saat aku kecil dan kamu, aku selalu bertanya padanya siapa yang mengganti layar itu kala malam dan pagi. Dan kita sama-sama bingung akan jawabnya. Karena mereka menjawab dengan sesuatu yang tak logis bagi kita. Tuhan, katanya, dan bagaimana kita bisa melukiskan Dzat Yang Maha besar itu. Kita bingung. Kita hanya mengantungkannya pada masa dan waktu yang terus berjalan. Karena saat itu kita hanya percaya bahwa waktu yang akan menjawab semuanya. Bukan Sekedar Cinta, Aminatul Faizah

Sejak aku tinggal di desa itu, tidak pernah aku dengar tanda-tanda waktu shalat. Adzan hanya aku dapat melalui gelombang radio. Itupun juga sayup-sayup. Kucoba bertanya pada ayah dan ibu yang sudah lebih dulu tinggal di Lahat.“Orang desa banyak di kebun jdi mereka tidak sempat ke masjid. Jangankan mau adzan, bisa melakukan shalat saja sudah alhamdulillah,” Persoalan baru kini kuhadapi. Kali ini bukan murid mengaji, tapi sebuah masjid yang hanya dihuni satu minggu satu kali. Maling dan Ustadz, Imron Supriyadi

ceritanet©listonpsiregar2000