ceritanetsitus karya tulis, edisi 186 jumat 100128

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

novel Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

Sejak aku tinggal di desa itu, tidak pernah aku dengar tanda-tanda waktu shalat. Adzan hanya aku dapat melalui gelombang radio. Itupun juga sayup-sayup. Kucoba bertanya pada ayah dan ibu yang sudah lebih dulu tinggal di Lahat.

“Orang desa banyak di kebun jdi mereka tidak sempat ke masjid. Jangankan mau adzan, bisa melakukan shalat saja sudah alhamdulillah,”

Persoalan baru kini kuhadapi. Kali ini bukan murid mengaji, tapi sebuah masjid yang hanya dihuni satu minggu satu kali. Hari Jumat: jam sembilan pagi dibuka untuk dibersihkan dan jam dua siang sudah tutup kembali. Karena sebagian warga desa harus temalam di kume (menginap di kebun).

Dan Kamis petang, minggu berikutnya mereka baru akan kembali ke desa guna menyambut Jumat. Warga desa menganggap shalat Jumat bisa menghapus semua dosa satu minggu sebelumnya. Doktrin inilah yang membuat sebagian warga desa hanya melakukan shalat mingguan. Masjid hanya akan penuh kalau Idul Adha dan Idul Fitri. Lain hari teras masjid akan dihuni beberapa kambing atau sapi yang numpang berteduh untuk berlindung di kala hujan tiba.

Itu membuatku gelisah. Aku tidak bisa tinggal diam. Aku harus membawa anak-anak mengaji ke dalam masjid. Masjid harus difungsikan sebagaimana mestinya. Bukankah salah satu ciri orang beriman adalah orang-orang yang selalu memakmurkan masjid?

“Anak-anak, mulai besok kita mengaji di masjid. Sebelum maghrib, kita sudah berkumpul di masjid. Shalat maghrib berjamaah sampai isyak. Tetapi besok pagi, jam tujuh kita akan kerja bakti  membersihkan masjid,” kataku mengajak anak-anak mengaji untuk meramaikan masjid.

Hari itu libur sekolah, anak-anak yang sebagian murid madrasah bisa aku ajak membersihkan Masjid Wathoniyah. Aku, ayah, dan ibu memimpin mereka. Aku dan ayah membenahi dan merapikan beberapa kabel listrik yang bergelantungan. Sementara ibu bersama anak-anak mengulung tikar, dibawa ke sungai dan dicuci. Sebagian lain membersihkan ruang dalam dan halaman. Sedikitnya ada setengah ember puntung rokok yang berhasil kami kumpulkan. Sisanya sampah kayu dan sobekan-sobekan kertas al-Quran yang tak terawat. Juga ada sobekan-sobekan tikar.

Kegiatan spontan itu seketika menimbulkan rasa heran sebagian orang. Di seberang jalan ada beberapa yang menonton dari kejauhan sedang yang berlalu di depan masjid hanya sesekali saja berhenti melihat kesibukan kami. Setelah itu pergi menuju ke tempat tujuan masing-masing.

Pindahnya pengajian anak-anak dari rumahku ke masjid itu kemudian mendapat reaksi dari warga desa. Ada yang mendukung dan ada yang menganggap anak-anak hanya akan mengotori masjid. Sampai-sampai Kepala Desa menemui ayah dan menyoal kepindahan anak-anak ke masjid.

“Pak Salam, apa anak-anak mengaji itu tidak akan membuat masjid malah kotor.”
“Kotor dan tidaknya masjid itu tergantung bagaimana orang tua yang mendidik anak-anak. Kalau setiap masuk masjid diwajibkan cuci kaki, saya kira masjid akan tetap bersih,” ayah menjelaskan.
“Iya tapi anak-anak desa ini kan susah diatur. Apa Pak Salam sanggup?” Kepala Desa tidak yakin dengan niat kami.
“Kita lihat saja nanti, Pak. Yang penting kami sekeluarga akan bertanggungjawab. Besok kan hari Jumat. Bapak bisa lihat perubahan masjid,” ayah mencoba meyakinkan.

Tepat hari Jumat. Sebagian warga desa berbondong-bondong ke masjid. Sebagian lagi memililh tinggal di kebun. karena tibanya musim panen juga mengundang para pencuri. Wajar sebagian memilih menunggu kebun daripada harus menunaikan shalat Jumat: karena takut kehilangan hasil kebunnya.

Aku tak banyak bereaksi saat beberapa warga mengamati suasana masjid yang lebih bersih dan lebih rapi. Tak terkecuali Kepala Desa. Ia hanya sesaat mengamati dari dalam hingga luar masjid. kemudian ia melakukan shalat sunnah. Sebagian lain juga tampak heran ketika melihat puluhan anak-anak mengaji -yang selama ini tidak pernah ke masjid- hari itu berbanjar panjang sampai dua baris di bagian belakang.

Soalnya selama ini di Desa Peralihan ada anggapan kalau yang berhak masuk ke dalam masjid hanya mereka yang sudah menikah. Atau paling tidak, manusia yang sudah memasuki usia dewasa. Mereka berpendapat, anak-anak hanya akan menganggu kekhusyukan kalangan orang tua yang tengah melaksanakan shalat Jumat.

“Itu tergantung yang mengatur. Kalau anak-anak itu diatur dengan cara yang baik, mereka akan menurut,” kataku ke udara kosong di atas berharap semua orang mendengar.

Selain memindahkan kegiatan mengaji di masjid, aku juga menyusun jadwal adzan bagi anak-anak yang memang sudah layak untuk adzan di masjid. Bagi yang belum layak, aku atau ayah harus melatih terlebih dahulu. Ini untuk menghindari protes warga desa, kalau tiba-tiba saja ada anak-anak yang adzan-nya salah.

Kalau cerita tentang adzan, aku jadi ingat pada masa kecilku dulu. Pernah terjadi, saat aku adzan di Desa Sabrangrowo, di tengah jalan, napasku tersedak dan tidak kuat. Ayah yang sejak awal mendampingiku di belakang, langsung mengambil mikropon dan melanjutkan adzan-ku yang terputus di tengah jalan. Kalau ingat itu, aku sering tertawa sendiri.

Belajar dari kejadian itu, aku tidak ingin di desa Peralihan terjadi hal serupa. Makanya, dalam setiap harinya, baik ayah atau aku melatih satu atau dua orang untuk mencoba tampil mengumandangkan adzan.

 Sejak kepindahan anak-anak mengaji ke masjid, susana Masjid Wathoniyah kian hari kian ramai. Dalam setiap waktu shalat, selalu ditandai dengan pemukulan beduk dan suara adzan. Walau jamaahnya mayoritas anak-anak, tapi aku merasa bahagia karena telah berhasil mengajak mereka untuk berlatih dekat dengan masjid. Untuk mendukung jamaah di masjid, aku kemudian mengusulkan kepada kepala sekolah madrasah, agar setiap pukul dua belas anak-anak sekolah diwajibkan shalat ke masjid.

“Ini untuk latihan mereka. Sebab kalau tidak dilatih, saya tidak yakin suasana peribadatan di desa ini akan berubah. Tetapi dengan memulai dari anak-anak, insya Allah mereka tidak akan merasa asing masuk masjid.”

Usulku diterima. Walaupun aku yang harus pimpin langsung, tetapi ini sebuah risiko yang sebelumnya memang sudah kuperhitungkan. Berharap pada orang lain terlalu menghayal. Sebab tradisi masuk masjid untuk shalat berjamaah hanya terjadi pada shalat Jumat atau pada saat Idul Adha dan Idul Fitri.

Oleh sebab itu dalam semua kegiatan di dalam masjid, aku hanya berharap dengan anak-anak mengaji. Dalam hati, aku hanya ingin kelak jika mereka sudah dewasa dan melanjutkan kuliah ke Palembang, maka anak-anak yang sekarang kudidik akan melanjutkan kegiatannya dalam meramaikan masjid bersama ayah dan ibu. Syukur-syukur mendapat dukungan dari para orang tua.

Semangat anak-anak yang mengaji di masjid ini kemudian kukembangkan dengan membuka Taman Pendidikan Al-Quran dengan metode Iqra. Dengan bantuan Pak Ramlan Fauzi dari Majid Jamik Lahat, akhirnya Masjid Watoniyah mendapat nomor unit 006.

Dan Masjid Wathoniyah menjadi masjid  di Kecamatan Merapi yang pertama membuka TK/TP al-Quran dan terdaftar di Badan Komunikasi Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Lahat. Sejak TK/TP al-Quran dibuka, aku juga memberi pelajaran bernyanyi lagu-lagu Islami, sebagaimana yang pernah kudapat di penataran guru TK/TP l-Quran di Masjid Jamik Lahat tahun 1991.

Pada perkembangan berikutnya, selain ibu dan ayah, aku juga dibantu oleh beberapa anak muda desa, yang kemudian diikutsertakan dalam penataran guru TK/TP Al-Quran.
***bersambung

Bapak Sedih Hari Ini
Eliakim Sitorus

Bapak Sedih Hari Ini
Eliakim Sitorus

ceritanet©listonpsiregar2000