ceritanetsitus karya tulis, edisi 186 jumat 100128

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

cerpen Bukan Sekedar Cinta
Aminatul Faizah

Saat aku kecil dan kamu, aku selalu bertanya padanya siapa yang mengganti layar itu kala malam dan pagi. Dan kita sama-sama bingung akan jawabnya. Karena mereka menjawab dengan sesuatu yang tak logis bagi kita. Tuhan, katanya, dan bagaimana kita bisa melukiskan Dzat Yang Maha besar itu.

Kita bingung. Kita hanya mengantungkannya pada masa dan waktu yang terus berjalan. Karena saat itu kita hanya percaya bahwa waktu yang akan menjawab semuanya.

Ketika senja berwarna jingga, kau mengetuk kamarku. Kita akan saling tersenyum, ketika emakmu dan ibuku tengah menimbah air di sumur. Kita kala itu tak mengenal batasan dan juga jarak pandang. Kita hanya tahu bahwa dunia menyediahkan kebahagiaan yang tiada habisnya. Ah... sebuah fatamorgana dan kamuflase yang kosong.

Kau tersenyum manis, semanis senja yang akan berganti bintang dan bulan. Lalu kau akan mengambil sebuah purnama dan kau bawa di wajahmu itu. Kita lalu menertawakan hal yang lucu atau bahkan hal biasa yang kita buat lucu.

Bahagianya rasa itu, Ku rasa itu….

Bukan sekadar cinta
***
Pak Haji Badrun tengah kalap dengan tingkah laku kita yang tertawa saat ia bercerita tentang hal yang imajiner. Kupingmu ia jewer dan dia hanya menatap wajahku. Beruntung aku memiliki wajah cantik dan manis. Itulah keuntunganku yang memiliki nilai keindahan yang lebih tinggi darimu. Kau menyentuh kupingmu yang merah dan panas terasa, sambil menahan tangismu: aku terdiam menahan iba.

Pak Haji memandangku, lalu tersenyum seolah senyuman adalah hukumanku. Aku tersenyum padanya dan dia kembali dengan kalimat-kalimat nasihat yang tiada habisnya. Kukira hukuman itu karena kau nakal seorang. Namun itu salah, ketika yang lain melakukan kesalahan dia hanya tersenyum sambil meninggikan suaranya. Hanya itu dan kini kutahu kawan kalau kau dihukum karena status ibumu, seorang perempuan yang mengandungmu tanpa seorang bapak.

Kau terima itu namun aku tidak. Kau terima status tanpa kesalahanmu dan kau yakin kalau bapakmu telah mati.

Aku sedih….

Dan itu bukan sekadar cinta biasa.
**
Seusai salat isya’ emakmu meninggalkanmu dalam rumahku, pergi entah kemana. Kata mereka emakmu adalah bintang malam atau mungkin bunga malam dan bapakmu mungkin salah satu kumbang malam yang lewat.

Jaka, nama bagus yang emakmu berikan padamu. Jaka arti kata yang tabuh dalam kalangan kita. Jaka, arti kata bujangan yang belum menikah. Emakmu mungkin punya alasan namun aku hanya tahu bahwa kau tak peduli akan nama.

Bapakku adalah bapak sempurna di mata kita kala itu. Dia membantu melafalkan bacaan salat. Kau nampak serius namun kau bodoh. Dua tahun lebih muda, aku bahkan bisa menghafalkan dengan mudah. Tapi kau pantang menyerah dengan berkali-kali salah, kau terus mencoba. Betapa nasib tidak adil bagimu Jaka.

Kita lalu salat bersama dan kau nampak serius sementara aku terkikik melihat bajumu yang robek. Aku berbisik pada ibuku, lalu ibu tersenyum dan berkata,
“Adik… nggak boleh tertawa diatas penderitaan orang lain.”
Lalu aku terdiam mengetahui apa salahku.

Kau bertelanjang dada diantara saudari perempuanku namun kau tak malu. Kau malah tersenyum saat mbak-mbakku memandang kurusnya tubuhmu. Ketiganya dengan suka rela mengjarimu berhitung dan juga membaca secara bergiliran. Ibuku adalah ibu yang menjahit bajumu. Kau menyanyanginya dan terus menyalahkan emakmu karena tak sesabar ibuku.

Cara pandangmu pada ibuku.

Itu adalah bukan sekadar cinta biasa.
**
Tengah malam emakmu datang. Ia mengetuk pintu rumahku dan mengangkat tubuhmu yang kurus dari sofa dan membawa pulang. Rumah kayu dengan alas tanah. Emakmu menyentuh ubun-ubunmu, ia tersenyum namun setengah menangis. Ia tak tahu harus bagaimana mengingat-ingat siapa bapakmu. Mungkin laki-laki hidung belang itu, mungkin buaya darat yang di sana atau bahkan si duda, bisa jadi lanang yang duduk d isana. Terlalu banyak laki-laki yang harus ia ingat.

 Kau tahu rintihan ibumu dan kau terlalu kecil untuk mengerti. Kau pula terlalu mudah melupakan pukulan dan caci maki tetangga-tetangga bermulut burung . Ku tanya mengapa.

“Kenapa? Aku yang hidup bukan mereka.”

Dua orang mencibirmu dan puluhan lainnya memandangmu seperti mangsa yang hanya tinggal terkam. Kita tak perduli.

Kita akan berlomba setiap pagi, siapa yang lebih dulu tiba di sekolah. Selalu aku yang kalah dan kau berbalik di pintu gerbang. Lalu kau gendong aku. Aku tak malu padamu, aku suka caramu memanjakanku.

Kita selalu tiba ketika bangku yang kosong dan kelas yang sunyi adalah saksi kita. Kita akan duduk di bawah pohon, kita mengukir kefanaan akan cita-cita mulia dan juga kebahagiaan yang terrangkai oleh kata-kata manis guru kita. Tapi bagimu ini adalah neraka karena tak ada yang menyebutmu dengan Jaka melainkan Haram. Itu namamu Haram…. Haramm..

Kau diam dan juga marah tak ada yang peduli. Hanya aku yang peduli.

Dan kusadari kalau itu bukan sekadar cinta.
**
Hari itu kita bersepeda di tengah jalan yang sepi. Kau dan aku bercanda seperti biasa. Kau berkata kalau kau akan jadi manusia yang akan membantuku setiap saat sama seperti aku yang membantumu setiap saat. Ibuku hanya tersenyum melepas kepergiaan kita. Emakmu entah dimana hari itu, tak biasanya ia menghilang sebelum malam atau bahkan tak biasanya ia pergi tanpa memberimu makan terlebih dahulu.

Tapi kita tak sama-sama makan kala itu. Terlalu cepat kejadian itu, yang kuingat adalah mobil itu melaju kencang.

Mobil memandangmu bak bagian dari jalan. Kau terjatuh dan terluka namun dengan sebelah mata ia memandangmu.

Aku tahu siapa dia. Mobil plat merah dan cat putih.

Tapi aku tak tahu kau sedang sekarat. Yang kutahu aku mengendongmu, walau lelah tak tertahankan lagi. Kau tetap tak berkata apapun. Luka di kepalamu namun darahnya tak banyak dan kau tak lagi mampu berdiri atau memandangku dengan wajahmu yang bak purnama itu. Kuseret kakiku menggendongmu dan aku menangis sepanjang perjalanan.

Aku merasakan sakitmu meski kau tetap diam.

Kau tak bangun dan emakmu menghujatku. Untuk pertama kalinya ibuku dan aku sadar betapa tidak beruntungnya kau.

“Emak Jaka hanya sedang kehilangan.”

Aku hanya terdiam, karena kutahu akulah yang paling kehilangan. Ibu bohong: ia hanya ingin aku tak tambah kehilangan.

Ibu membantu emakmu. Dan kau pandangi keduanya. Kau tak bisa menyentuh dua potret wanita yang jauh berbeda. Kau mungkin malu kala itu dan aku sungguh kehilangan. Kau tak mengasihiku sedikitpun. Tak memberikan waktu bagiku menyimpan kebersamaan itu lebih lama. Kau memang malang sekali. Hanya mencicipi kejamnya dunia.

Aku mengenangmu selamanya.

Kusadari kalau yang kurasa bukanlah sekadar cinta biasa.
**
Kau… dan kau ada di ingatanku. Tak ada matinya kau di kenanganku. Aku menyamakanmu dengan nasib buruk. Kini emakmu benar-benar menghilang. Dia ada di sepanjang jalan tanpa mengenal siang atau sore. Kini tak ada lagi halangan yang membuatnya tertawa sepanjang masa.

Kini tak ada lagi beban kepompong di tubuhnya. Ia bak kupu-kupu yang terbang dengan bebas. Dan kala kupandangi ia dengan tatapanku. Tatapan yang sama dengan tatapan yang kuberikan untukmu,

“Apa yang kau lihat?”
“Emak…” kataku memelas.

Ia melambaikan tangannya dan tangan satunya lagi menjejalkan rokok ke mulutnya. Aku tersenyum melihatnya, senyuman iba hingga air mataku menghilang.

Emakmu melihatku, tanpa roman muka,
“Kau cantik…..” tangan kanannya menyentuh pipiku dan aku terenyum.

Ibuku menarikku. Ia takut aku mengikuti jejaknya. Lalu emakmu tersenyum menangkap kesamaan ibuku yang menganggap emakmu adalah wabah.

Kau beruntung tak menyaksikan kejadian itu.

Kini kutahu betapa Dzat Maha Besar menyanyangimu dengan caranya sendiri. Kini kutahu betapa beruntungnya kau.

Itu bukan sekedar cinta biasa.
***
Den Haag, 31 Juli 2009

Bapak Sedih Hari Ini
Eliakim Sitorus

Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

ceritanet©listonpsiregar2000