ceritanetsitus karya tulis, edisi 185 jumat 100101

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

novel Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

Tahun 1991, aku gagal masuk IAIN Raden Fatah Palembang. Maka pulanglah aku pulang ke Desa Peralihan, yang terletak di jalan lintas Sumatera di Kabupaten Lahat. Dari Kotabumi sampai Lahat memerlukan jarak tempuh selama 11 jam. Waktu perjalanan itu perlu karena ketika aku masih di Kotabumi, aku harus selalu memperkirakan jam ketibaan di Lahat adalah menjelang fajar. Walaupun Lahat relatif aman, ketimbang di Palembang dan Kotabumi, namun untuk menepis kekhawatiran ayah dan ibuku, aku selalu pulang menjelang fajar. Atau paling lambat pukul delapan pagi.

Desa Peralihan adalah desa transisi. Disebut kota belum sampai, disebut desa sudah dan melewati desa-desa yang biasa. Berada di kaki Bukit Tunjuk Kabupaten Lahat, penduduknya didominasi petani kopi dan karet. Sisanya kuli bangunan, pedagang, dan sebagian lagi tukang koral: memecah batu bujang menjadi kerikil di bawah jembatan Lematang.

Sejak perkembangan perkebunan Sawit, sebagian warga desa memilih menjual lahan karet dan kopi kepada PT. Sawit Mitra Usaha (PT SMU). Tanah bagi warga Desa Peralihan belum dijadikan alat produksi seperti di Pulau Jawa. Di Pulau Jawa, tanah merupakan aset produksi yang sudah pasti dapat menjadi gantungan hidup untuk anak dan cucu. Tetapi lain halnya di Desa Peralihan. Tanah bukan menjadi hal yang berharga untuk kepentingan masa depan keturunan. Malah sebaliknya, sebagian warga justru hobi menjual tanah, tanpa pernah berpikir nasibnya setelah lahan habis terjual.

Beberapa warga desa yang sesekali berbincang padaku, selalu kuingatkan.

“Kalau tanah dijual, nanti wak, bibi dan mamang ini lama-lama akan menjadi buruh di tanah sendiri. Kebun kopi dan karet yang wak miliki, tidak lagi bisa menghasilkan seperti sekarang.”

“Tapi macem mane 'Lif, kalau kami ini dang butuh duit,” ujar Mang Sarta

“Mang, wak, macem mane kalu kebun la dijual? Laju kite jadi budak di tanah dewek? Namenye kite ni balik lagi jaman penjajah. Kalu dulu Belande, mini ari yang njajah perusahaan.”

Sebagian ada yang manggut-manggut. Sebagian lagi sinis, terutama diantara mereka yang sudah terlanjur menjual kebun kopi dan kebun karetnya kepada PT SMU. Yang manggut-manggut tak berarti akan mempertahankan tanahnya. Godaan uang cepat terlalu besar dan sekaligus terlalu sederhana buat mereka.

Tapi yang bertahan masih bisa mandiri mengolah tanah sendiri dan menikmati hasil keringat tanpa tekanan dari pihak manapun. Namun bagi sebagian warga Desa Peralihan yang telah menjual lahan karet dan kopi, mereka kini setiap pagi ke luar dari desa. Kepalanya di tutup dengn caping, mukanya di tutup dengan kain sehingga yang tampak hanya matanya saja.

Begitulah cara mereka menahan terik matahari sepanjang hari, Mereka harus mengisi kantung-kantung plastik tanaman milik perusahaan. Subuh-subuh berbaris menunggu truk jemputan PT SMU dan pukul enam sore rame-rame pulang naki truk. Malam harinya, mereka sudah tidak terlalu lelah untuk berkumpul dengan warga lain yang masih punya semangat dan tenaga untuk bercengkrama. Kelelahan sehari sudah menguras tenaga, semangat, dan mungkin juga roh mereka.

Melihat barisan mereka menunggu dan menyelesaikan rutinitas hariannya membuat seakan kembali pada zaman penjajahan. Puluhan orang digiring tentara Belanda untuk naik keatas truk, diturunkan di lokasi pembangunan jalan. Sore harinya mereka kembali diangkut, dikembalikan ke desa sambil mengangkat sekelompok lain yang tugas malam. Sungguh! Ini bentuk penindasan yang sebenarnya tidak berbeda dengan Belanda.

Penguasaan lahan warga desa, bagiku, sama saja bagian penjajahan. Bukan saja secara fisik tetapi juga secara moral. Tapi aku tak bisa banyak bicara. Toh mereka sudah terlalu lama dibodohi oleh kotoran rejim orde baru. Mereka sama sekali tidak tahu bagaimana menghadapi perusahaan besar, seperti PT SMU.

Ada juga warga desa yang tidak memiiki lahan yang memilih menjadi tukang koral di bawah Jembatan Sungai Lematang. Menjadi tukang koral tidak pandang usia: laki-laki, perempuan, tua, muda, bahkan anak-anak putus sekolah menghancurkan bebatuan besdar menjadi kerikil. Sesekali aku mandi di Sungai Lematang, sudah terdengar dentingan batu dan palu yang tak beraturan dari jarak sektiar 100 meter sekalipun. Suara itu sudah menjadi pekik kesakitan alam yang menyertai riak-riak air Sungai  Lematang.

Letak Desa Peralihan yang berada di pinggir Sungai Lematang, membuat warga desa mengandalkan air sungai untuk kebuutuhan sehari-hari. Hanya satu dua orang saja yang kemudian membuat sumur atau kamar mandi di dekat rumah. Ayah dan ibuku yang memang tidak punya sejarah hidup dengan aliran sungai membuat kamar mandi dan wc di dalam rumah.

Gagalnya masuk ke IAIN semula membuatku kesal: keinginanku langsung menjadi mahasiswa musnah. Akupun harus menunggu satu tahun di Desa Peralihan . Dalam masa menunggu, ada saja tawaran dari beberapa warga, terutama teman-teman guru ibu, agar aku masuk IAIN Bengkulu, yang masih berada di bawah naungan IAIN Raden Fatah Palembang. Ada lagi yang menyarankan agar aku masuk ke Fakultas Agama Islam Universitas Muhamamdiyah Palembang (UMP).

Tetapi semuanya aku tolak. Aku tak ada minat masuk ke perguruan tinggi selain IAIN Raden Fatah. Padahal kalau aku mau mengambil PMDK dari Aliyah GUPPI Kotabumi, aku bisa saja masuk ke IAIN Raden Intan Lampung. Tetapi atas dasar saran pamanku, lebih baik masuk di IAIN Palembang sebab --begitulah saran pamanku-- IAIN Raden Fatah Palembang secara historis lebih berakat.

“Jadi kalau kamu melamar pekerjaan, PNS misalnya, orang akan melihat ijazah. Antara IAIN Lampung dan Palembang, memang sama-sama lembaga perguruan tinggi Islam. Tetapi secara umur dan sejarah, IAIN Palembang lebih punya sejarah, dari pada IAIN Lampung,” kata pamanku dan akupun manggut-manggut.

Mengisi hari-hari kosong sambil menunggu datangnya tahun ajaran baru, aku mengajar di Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Wathoniyah Desa Peralihan. Sebuah sekolah swasta yang mengelola pendidikan setingkat SD. Aku dipercaya mengajar Bahasa Arab dan Sejarah Kebudayan Islam untuk kelas tiga sampai kelas enam.

Secara akademik, aku tidak memiliki pengalaman mengajar di lembaga formal. Pengalamanku hanya mengajar mengaji. Lain tidak. Aku banyak belajar banyak pada ibu, yang sudah 25 tahun menjadi guru madrasah. Dari ibu, aku mengetahui bagaimana harus membuat Satuan Pelajaran dan metode penyampaian dalam mengajar. Saran ibu kemudian aku olah lagi dengan teori pembelajaran Bahasa Arab ketika masih di pesantren. Hasilnya cukup lumayan. Anak-anak lebih mudah menangkap dengan metode pesantren dibanding menuliskan beberapa kalimat di papan tulis dan dibaca. Metode itu terasa lambat. Dengan cara olahanku sendiri, sepertinya murid-murid Wathoniyah lebih enjoy.

Sikap antusias murid-murid ini, aku tindak lanjuti dengan mengajak mereka belajar mengaji. Selama ini bukan berarti belum ada anak-anak mengaji di Desa Peralihan. Tetapi, di Desa Peralihan ada tradisi kalau setiap kiai yang mengajar berhak mendapat bayaran, baik berupa beras satu kaleng susu per bulan atau dengan uang seribu rupiah. Bagi yang bisa rutin membayar, sudah pastilah bisa terus mengaji. Tetapi bagi yang tidak bisa rutin membayar, lambat laun dengan sendirinya akan keluar.

Bila Ramadhan tiba, hampir semua murid mengaji mempunyai kewajiban membayar zakat fitrah kepada sang kiai. Menurut mereka, guru mengaji tergolong orang yang berhak menerima zakat, karena mereka masuk dalam golongan jihad fi sabilillah. Bagi muridyang tidak membayar zakat kepada sang kiai, akan segera ditanya kemana mereka membayarnya. Walau tidak ada sanksi, tetapi pertanyaan itu sering membuat malu diantara murid mengaji dan itu sudah merupakan hukuman yang besar. Usai lebaran, biasanya yang bersangkutan sudah pindah kepada kiai lain untuk membuang rasa malu walau dengan resiko kelak akan dipermalukan lagi.

Namun, sejak aku dan ayah membuka pengajian gratis di rumah, sebagian murid mengaji di beberapa kiai desa pindah ke rumahku. Sebagian mereka pindah bukan karena gratis tetapi karena di tempat kiai lain sudah dua bulan nunggak bayaran. Karena malu mereka kemudian pindah ke rumahku. Tetapi sebagian lain, ada yang pindah karena secara emosional lebih cocok berhubung mereka adalah muridku di sekolah.

Karena aku sudah terlatih mengajar mengaji di Metro, aku tak begitu kesulitan ketika harus berhadapan dengan 45 murid mengaji. Sebagian mengaji dengan aku, sebagian dengan ibu, sedang gadis dan bujang seusiaku mengaji dengan ayah. Ini kami lakukan agar tidak sampai tumbuh rasa enak dan tidak enak dengan gadis dan bujang jika harus mengaji bersamaku. Juga untuk menghindari kemungkinan gesekan perasaan antara aku dan gadis-gadis desa yang menjadi muridku.
***
bersambung

Si Hijau yang Bunuh Diri
Aminatul Faizah

ceritanet©listonpsiregar2000