ceritanetsitus karya tulis, edisi 185 jumat 100101

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

cerpen Si Hijau yang Bunuh Diri
Aminatul Faizah

Dia datang dan selalu datang. menyanyat kulitku dengan lembut dan melindasi tubuhku dengan sentuhan yang halus, aku terdiam menikmatinya dengan kesesatanku. Tubuhku yang meliuk dan membentuk gadis dengan jelas membuat mata di udara menatapku. Aku indah dengan balutan hijau bajuku. Aku cantik dan mereka yang melihatku histeris. Histeris dengan kekinianku.

Dia menyentuh dengan bahasa yang lain yang tak kudengar sebelumnya. Ia mencintaiku dengan kata-kata manisnya, aku tahu: sentuhannya begitu elegan dan menawan. Dia maskulin dengan balutan banyak hal yang menawan hati. Ia tak begitu tertarik dengan kulit cokelatku.

Aku terdiam menunggu tangan elok bidadari mendadani aku lagi. Menusukan bros dari mutiara dan emas di sela-sela dadaku. Dada yang jenjang mungkin akan membuat sahwatmu naik. Tapi ia urung melakukannya.

“Mamak dia datang,” teriak mereka.

Aku terdiam, membiarkan tubuhkuh melenggak-lenggok. Setiap pagi aku sudah menggoda mereka, membiarkan tubuhku yang deras dengan keindahan ragawiku untuk mereka sentuh. Aku menyukai sentuhan itu, sentuhan kasih sayang dan agak centil. Awalnya ia mencintaiku dengan tangan kasihnya. Membelai rambutku yang tak berujung dengan manisnya. Aku bangga ketika berkali-kali ia mengecup manisnya tubuhku. Memandikan ragaku setelah bermalam dengannya.

Kami lakukan itu bersama-sama dan senyum tersungging di wajahnya dan semu merah di wajahku. Mereka memasuki ragawiku mencuri sesuatu dan berterima kasih saat mendapatkan cinta kasihku dan pemberianku.

Suatu kali ada mahluk lain yang mencuri mereka: si pencuri kesukaanku. Si liliput-liliput itu meninggalkanku tanpa sedikit menyisahkan cinta padaku. Mereka bukan lagi si pencuri kecil yang kukenal. Mereka lain.

Keheningan meliputi ragaku dan bunyi berisik membangunkan aku dari kesunyian. Sayap bidadari langit yang dulunya menyukaiku kini telah berubah menghitam. Terjadi pemerkosaan yang hebat di sana. Cahaya putih yang berbenar kabut itu menghilang. Benar-benar menyelimuti kami,

“Ahhhh…. Jangan lakukan itu…”

Lalu terdengar teriakan laki-laki, mengelegar dan juga meniadakan keheningan. Memuncakkan andrenalinku. Membuat rintian air mata si hijau.

“Tidak…”

“Tidak.”

“Tidak.”

Rintih si bidadari.

Ia tak lagi bergema suaranya. Yang ada hanya sayap-sayap kelabu merah yang bertaburan di sisi kami. aku terdiam ketakutan dan juga merinding. Si bidadari langit yang indah tersakiti. Apa yang hendak kami alami?

Sayap-sayap yang tak menyawa itu tercabuti satu persatu dan bercecean di sekitar kami. Darahnya yang telah mengering semakin ingin kami hilangkan dari ingatan karena ketakutan. Sayap-sayap itu tak lagi melindungiku dan juga tetanggaku, si hijau. Si hijau semakin panik. Ia membiarkan dirinya terkena kanker. Dibiarkannya liliput itu memilah rambutnya dan mengambil ubannya yang tua.

Ia yakin liliput munggil akan merawatnya karena ia telah memberikan begitu banyak. Memberikan tempat dan nafkah serta melindungi mereka.

Si bidadari langit menatap kami, matanya yang biru ..tidak itu kelabu... dan rintihan halusnya terus terdengar. Ada kecambuk dalam batinnya. Menyala-nyala dan api itu melilit-lilit indah. Kami hanya terdiam menyaksikannya.

“Teruskanlah bermanjaan.”

Lehernya yang seputih angsa itu terkerat dengan linangan darah menghitam penuh pekat. Tubuhnya yang indah kini berbalut ketelanjangan dan tak ada satupun yang kini mampu melindunginya, kami dan liliput munggil tercengang mendapati fenomena itu.

“Aku sudah tak lagi mampu melindungimu.”

“Kenapa?” tanyaku.

“Karena aku sudah tak punya senjata lagi.”

Dia lalu menunjukan kebeningan tubuhnya yang membuat kami tertusuk dalam. Tersakiti dan kulihat aliran darahnya menghiasi hampir seluruh jiwanya. Ia merasa jijik dengan ketelanjangan itu. Ia kini hanya sebuah zat yang bernyawa namun tak mampu memilih. Dia tak pantas lagi kami sebut bidadari, bahkan mungkin tak pantas lagi jika aku panggil mantan bidadari yang elok dengan gaunnya yang putih. Sayapnya yang menjuntai atau lehernya yang seputih angsa itu bahkan tak berbekas lagi.

Laki-laki pemerkosa itu melirik kami. matanya yang tajam memandang kami berdua.

Si hijau dan aku ketakutan karena kami terpasung tanpa daya. Tubuh kami terdiam, gemetar, dan dugaan buruk memadati. Si liliput meninggalkannya. Ia malah mengambil begitu banyak dari biasa. Mengerongoti payudara si hijau dan meninggalkan tubuhnya yang rapuh.

Si liliput tak berdaya melawan cintanya, hanya diam dan diam. Memandangi dan bahkan ada sebagian dari mereka yang berkhianat. Mereka tertawa bersama-sama dengan penjahat itu.

Si hijau menangis merasa terkhianati. Ia memberi banyak dengan harapan akan tetap mendapat cinta kasih, tapi itu hanya sebuah mimpi: laki-laki pemerkosa itu kemudain menatap lekat-lekat pada lilipun lainnya.

“Kau tahu… kau akan suka jika sudah terbiasa.”

Si liliput tua yang tak berpakaian lengkap menantang mereka. Aku tahu ia cinta dengan kami bahkan melebihi cintanya pada dirinya sendiri. Ia melantangkan suara,

“Jangan kau rebut kebahagiaan anak cucu kami.”

“Bahagia?”

“Anak cucumu pun akan memperkosanya. Ini hanya soal mobilitas antara aku dan juga dia.”

Tangan telunjuknya yang panjang langsung menunjuk ke arah liliput munggil yang ada digendongan ibunya. Bayi liliput itu terseyum dan mencium telunjuk laki-laki pemerkosa itu. seolah ada madu di telunjuk itu.

Si bidadari langit belum mengusir siang, benum meniadakan malam dan membiarkan serat darah yang memerah itu memandang kami. si hijau terdiam. Ia menitikan air mata sementara itu laki-laki pemerkosa mulai membelai rambutnya. Ia menikmati untaian rambut lebatnya yang penuh misteri. Mengusir kutu-kutu itu.

Hidung laki-laki itu menciumnya. Menarik dengan keras rambutnya dan membiarkan si hijau merintih. Dia semakin terlihat perkasa saat si hijau merintih kesakitan. Ia semakin menjadi-jadi saat si hijau melolong kesakitan. Laki-laki menyentuh alis tebal milik si hijau. Alisnya yang tebal mirip alisku dan bibirnya yang merah mirip milikku, kata laki-laki itu dalam hati.

Si hijaupun hanya diam dan tak mampu bicara apapun.

Aku marah dalam hatiku ingin rasanya melawan namun apa daya aku tak mampu melakukan apapun. Dulunya si hijau selalu melarangku untuk marah. Tapi kini aku bahkan kehilangan nyaliku. Si bidadari langit hanya memandangnya dengan membuka mata. Ia tahan dengan kondisi itu dan matanya tak tertutup sedikitpun. Dia sudah biasa memandangi hal demikan. Tiada tangisan atau kesedihan atau mungkin solidaritas.

“Jangan…”

“Jangan…”

“Jangan… yang itu… itu untuk kekasihku,” kata si Hijau.

Aku semakin merinding. Ingin rasanya aku tendang dia dengan kakiku yang jenjang. Namun si langit hanya diam dan memandangku. Kini aku menyangsikan apakah ia seorang bidadari yang baik hati.

“Kenapa kau diam?”

“Aku bisa apa. Dan kau tak tahu lukaku.”

Aku terdiam. Aku terus memperhatikan tangan laki-laki itu yang menyentuh lehernya dan tangan panjang itu aku yakini akan menyentuh dada si hijau. Si hijau semakin bekeringat dan air matanya jatuh. Aku menerima buliran air mata itu: kutampung luka itu lalu aku menjadi saksi. Saksi atas kehilangan keperawanan temanku itu.

Pertama-tama ia lepas semua pakaian si hijau. Aku melihat kulit si hijau untuk pertama kalinya. Si hijau bugil dan aku hanya terdiam. Aku tak mampu membungkus tubuhnya itu. Si hijau menatapku dan dia sudah tak cantik lagi. Matanya sangat ranum dan tubuhnya sangat kecil. Ia gemetar karena kini bukan apa-apa. Ia yang anggun, mempesona, kini hanya berupa kulit dengan tulang belulang. Untaian manik-manik dan bajunya berserakan di sekitar tubuhnya.

Ia tak berdaya dan hanya terdiam.

“Kau tahu, aku kan berikan kau baju yang lebih indah.”

"Ulung tak mau?” kata si hijau.

“Tapi kau bisa apa sayangku… Tidak ada. akulah Tuhan dari kalian dan akulah yang memiliki kuasa atas segala tindakan.”

Dia mencengkram kuat bahu si hijau dan menelanjanginya. Ia telanjang kini… bahkan rambutnyapun menghilang.

“Cengkeram yang kuat,” kata seseorang yang hitam.

“Pasti,” balasnya.

Laki-laki itu mencengkeram kuat. Dia lalu meninggalkannya. Meninggalkan si hijau seolah si hijau tak berarti lagi. Tidak sedikitpun si hijau mendapatkan bayaran.

Si hijau terdiam dan hanya mampu menitikan air mata. Matanya yang berbinar kini terbakar emosi. Ia ingin membunuh dirinya yang sekarat. Ia bakar tubuhnya dan membiarkan abu mayatnya bertebaran disekitar kami. Ia bumbungkan anyirnnya darah menghitam itu pada si bidadari dan ia pamerkan abu-abu tubuhnya yang lembut padaku.

“Ibu… apakah yang terjadi?" tanya si liliput kecil.

Liliput tua tahu apa yang terjadi.

Si hijau putus asah dan bunuh diri. Dia malu sementara laki-laki itu dan laki-laki hitam pergi entah kemana. Liliput tua terdiam. Ia ingin mengukur kebijaksanaan pemikirannya dan memandang liliput pengkhianatan dengan kehinaan yang dalam.

“Si hijau bunuh diri.” kata mamaknya.

“Kenapa kita tak menolongnya?”

“Karena kita tak mampu melakukan apapun,” kata mamaknya sambil merangkul erat anaknya.

Si bidadari benar-benar sedih.

Ia limpahkan kilatan gemerlap cahaya dukanya, ia kumpulkan semua daya upaya hanya untuk menangis karena hanya itu yang mampu ia lakukan. Ia teriaki seisi dunia tentang keadaan yang ada. Ia hembuskan kuat-kuat nafasnya karena kemarahan dan juga kebisuan semuanya. Lewat butiran air mata yang tiada henti terlukis emosinya.

Aku yang sempat marah padanya kini tahu luka itu. Luka seorang korban dan saksi dari berjuta-juta pemerkosaan atas si hijau. Ia biarkan lukanya membasahi tubuh si hijau berharap si hijau akan bangun kembali. Mengecup setiap kejeringan dan kebugilan si hijau. Berharap sebuah nyawa helaian benang akan ada.

Aku yang hanya bisa menampung dukaku dan duka si bidadari, marah lewat caraku. Kutumpahkan semua lukaku. Kugenangi apa yang ingin kulakukan. Aku marah pada semuanya dan aku bunuh diriku. Kutumpahkan nyawaku atas kekecewaan pada banyak hal.

Aku tak benyawa.

Hitam kecolelatan.

Hitam kecokelatan mengenang semua yang ada. Kami mati dalam penyesalan laki-laki itu. Aku marah pada semuanya dan aku marah pada ketidak berdayaanku menolong tetanggaku si hijau.

Meski aku melihat liliput itu merayapi tubuh si hijau dan menjahit baju dengan bahan yang lain. Bahan yang sekiranya mampu menghasilkan namun aku yakin tetap si hijau tak kembali. Liliput hanya ingin sesuatu yang menguntungkan dari bangkai si hijau.

Seperti dahulu, seperti mereka yang mencuri dan si hijau tetap memberi. Liliput tak pernah beubah, ia selalu menjadi parasit dan tak benar-benar mencintai si hijau. Hanya sedikit dari liliput yang benar-benar mencintainya dan aku bertanya,

“Mana mereka?”

“Mana dia?”

“Dimana ia?

“Dimana mereka?”

“Dimana?”

Dan hanya ada suara kecil serta acungan tangan munggil yang bahkan tak terlihat. Mereka melintasi tubuhku dan aku terdiam.

Kadang kala aku bedecak marah pada yang lain. Kadang pula aku terdiam merasa mengangkat topi pada liliput yang berhati emas namun bahkan tak terlihat dimana. Begitu kecil… hingga kadang saat aku lupa aku berkata,

“Mana mereka?”
***

Muara Teweh, 16 November 2009 

Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi
                  

ceritanet©listonpsiregar2000