ceritanetsitus karya tulis, edisi 184 rabu 091209

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

komentar Seksinya Saham
Presiden Hayat

“Betapa tidak adilnya?" kataku dalam hati. Belum genap sehari, nilai saham yang kubeli sudah naik 5 perak/saham. Kalau sebagian sahamku, katakanlah, aku jual 59 lot saja, aku sudah untung sekitar 100 ribu perak.

Berapa jam tukang ojek harus bekerja untuk mendapatkan duit 100 ribu perak?

Berapa jam seorang pelayan toko harus tersenyum, berdiri dengan sikap sempurna melayani pembeli (si raja yang menjengkelkan itu), untuk mengisi dompetnya dengan selembar uang kertas bergambar Soekarno-Hatta?

Berapa meter persegi (kalau diakumulasikan) seorang petugas pembersih harus mengepel dan mengelap untuk mendapatkan 2 lembar uang kertas biru bergambar I Gusti Ngurah Rai?

Berapa jam seorang pengemis harus memasang muka memelas sambil merintih menggumamkan lagu kebangsaannya: "Pak, kasihan pak’, belum makan pak!" untuk mengisi kaleng di depannya dengan 100 lembar uang kertas bergambar Kapitan Pattimura?

Berapa jam seorang pedagang kecil, buruh, petani harus berjuang untuk mendapat untung 100 ribu rupiah di negeri penuh ironi ini?

Susah banget bagi rakyat jelata untuk mendapat untung 100 ribu perak sehari.

Itupun jauh dari cukup untuk bisa hidup layak di Jakarta kawan? tidak cukup untuk menikmati hidangan buffet di hotel. Tidak cukup untuk sekedar relax di Kenko Fish Spa menikmati gigitan asoy ikan garra rufa.

Tidak cukup kawan!

Dan kita -sebagian besar penghuni negeri yang penuh ironi ini- selalu menganggap biasa dan abai akan keanehan-keanehan yang terjadi di sekitar kita: ketidak adilan.

Jarang orang yang mau memihak dan demi keadilan membela rakyat kecil yang selalu dipinggirkan dan digusur-gusur.

Paling banter bisanya hanya prihatin dan bilang: "Sabar! Sabar!" sambil menepuk pundak mereka, mengangguk-angguk dan diam-diam membenarkan Teori Pareto, yang menyuguhkan parameter ketimpangan pendapatan.

Bahkan tidak sedikit pula yang selalu menempatkan mereka di rantai makanan yang paling bawah alias yang paling sering dikorbankan atau dijadikan tumbal buat kepentingan bisnis.

"Give away the weakest chain " kelihatannya seperti kredo yang ada di pikiran binal. Yang dipikirkan hanya keluarga dan yang seagama saja.

Tak bisakah budaya ta'awun kita sebarkan dan langgengkan? Tak bisakah kita saling tolong menolong untuk mempersempit ruang gerak ketidakadilan? Membantu tanpa membeda-bedakan agama, suku, atau partai. "Gemar memberi, tak harap kembali."

Agar siapapun yang hidup di dunia ini bisa punya kesempatan untuk menjadi apa yang diinginkannya tanpa ketakutan nggak bisa makan. Agar kemiskinan menjadi sejarah.

Jawabnya adalah: bisa.

Bantulah orang yang membutuhkan pertolongan dengan ikhlas. Ya. Sederhana!

Sederhana, tapi sangatlah tidak simple ketika akan mempraktekkannya. Ada saja gangguan setan yang terkutuk yang menghambatnya. Setan yang paling kuat bisanya membisikkan bahwa itu bukan urusan kita.

Padahal hasil yang akan kita dapat sangatlah luar biasa. Membantu (dengan ikhlas) akan menuntun kita menjadi orang merdeka. Dan keikhlasan adalah saham yang nilainya akan selalu berlipat ganda dan meraksasa. Kita akan menjadi cahaya di atas cahaya,

Masih tidak tertarik dengan saham yang sangat menguntungkan itu? Pasti ada yang salah dengan kita.
***

Aku, aku, dan aku, Za
Aminatul Faizah

Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

ceritanet©listonpsiregar2000