ceritanetsitus karya tulis, edisi 184 rabu 091209

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

novel Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

Di Kotabumi hampir bisa dikatakan aku tak banyak cing-cong. Bukan karena tidak ada kesempatan, tetapi demi menjaga nama baik keluarga paman dan bibi. Apalagi paman sangat kenal dengan Pak Arpani dan beberapa guru lain di sekolah. Kalau sedikit saja aku melanggar aturan sekolah, sudah pasti kabar itu akan segera sampai di telinga paman. Aku tidak ingin kejadian di Metro terulang lagi. Walaupun aku tahu persis, paman akan selalu membelaku jika aku mendapat masalah sebagaimana di Metro.

Oleh karena ingin menjaga nama baik nama paman dan bibi, aku perlakukan diriku tidak seperti anak-anak SMA pada umumnya. Malam Minggu, yang sangat ditunggu-tunggu anak-anak seusiaki untuk ‘memadu kasih’, bukanlah malam yang istimewa buatku. Malam Minggu sama saja malam lainnya. Jauh sebelum di Kotabumi aku memang sudah terbiasa di pesantren untuk tidak mengkultuskan hari-hari tertentu. Menurut Ustadz Dalhari mengistimewakan hari tertentu dari hari yang lain, tanpa mengetahui dasarnya, sama saja dengan orang-orang yang taklid buta.

Aku tak ingin ikut-ikutn dengan tradisi malam Minggu, yang aku sendiri juga tidak mengetahui kapan persisnya malam Minggu diputuskan sebagai malam panjang.

Walau tidak mentradisikan Malam Minggu untuk ngapel,  aku tetap saja laki-laki normal yang ingin berteman khusus dengan perempuan. Sama persis ketika aku menjalin persahabatan dengan Indah. Hanya karena keluarga Indah saja yang kemudian memiliki niat lain dengan memberiku guna-guna, yang membuatku pindah ke Kotabumi. Walaupun kasus Indah bukan satu-satunya alasan kenapa aku pindah ke Kotabumi.

Sesekali pamanku meledek jika malam Minggu tiba. Aku tidak pernah keluar untuk menikmati malam liburan sebagaimana anak-anak SMA lainnya. Mungkin pamanku juga merasa aneh sebab selama aku di rumah paman, hampir bisa dikatakan aku tidak pernah berpamitan untuk ke luar berkunjung ke rumah g perempuan, walauphanya sebatas belajar kelompok.

Paling-paling kalau aku keluar rumah, bermain ke rumah Edy yang jaraknya hanya 200 meter dari rumah paman. Tapi entahlah, di Kotabumi aku memang tidak seperti ketika di Metro, yang hampir setiap waktu keluar rumah dan nongkrong dengan anak-anak Genesiss. Bahkan, karena aku jarang keluar, Anna -gadis yang kukenal saat MTQ- sesekali main ke rumah paman dan mengajakku keluar untuk mencari angin segar. Tetapi aku selalu menolak ajakan itu. Sekali lagi, aku tidak ingin nama baik paman dan bibi rusak hanya karena fitnah akibat ulahku bersama perempuan.

Padahal sebagai laki-laki dewasa, aku juga punya naluri kelelakian yang seharusnya aku salurkan melalui hubugan batin dengan perempuan. Tetapi entahlah. Di Kotabumi, hubungan dekat dengan perempuan seusiaku hampir tertepis jauh dari batin. Memang aku pernah tertarik pada Wahyu, anak Pak Gun -tetangga paman-. tetapi setelah kuketahui kalau Wahyu murid pamanku di SMA Negeri Kotabumi, aku jadi mundur dan ketertarikanku menipis.

Keinginan untuk kenalan dengan Wahyu aku buang jauh-jauh. Sesekali aku hanya bisa bertemu saat kami sama-sama menyapu halaman. Setiap pagi kami jadi punya kesempatan untuk bertegur sapa. Hanya sebatas itulah aku mengenal Wahyu dan Anna, hingga akhirnya aku meninggalkan Kotabumumi.

Usai menamatkan sekolah Madrasah, aku tidak tahu lagi bagaimana kabar keduanya.
***
bersambung

Aku, aku, dan aku, Za
Aminatul Faizah

Seksinya Saham
Presiden Hayat
 

ceritanet©listonpsiregar2000