ceritanetsitus karya tulis, edisi 182 selasa 091020

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

Tergopoh-gopoh aku menuju meja check in. Alamak! Kampret! Antriannya panjang banget; sepanjang jalan Daan Mogot. Abracadabra, libur lebaran menyulap bandar jadi pasar malam Beruntung antrian hanya di deretan kasta ekonomi. Sedangkan yang tercetak di tiketku adalah kelas C alias kelas bisnis, jadi ya lenggang-lenggang kangkung dimasak tumis, bebas hambatan dan dilayani dengan senyum manis.  Jiancukkk!, Presiden Hayat

Kabar pecahnya gerakan Warsidi memaksa ayah datang ke Metro. Tanpa diskusi panjang, ayah langsung menyuruhku keluar dari Metro. “Alif, kamu harus pindah. Ayah tidak ingin, kamu terseret dalam kasus Warsidi sebab secara garis keturunan kita masih keluarga dekat dengan Warsidi,”tegas ayah saat kami berdua di dalam kamar. Bayangan wajah Indah, Fani, Ferdi, dan anak-anak Genesiss silih berganti melintas di benak. Ada perasaan sedih yang seketika menyusup ke dalam bilik jantungku. Sebutir embun mengalir dari kelopak mataku. Maling dan Ustadz, Imron Supriyadi

ceritanet©listonpsiregar2000