ceritanetsitus karya tulis, edisi 182 selasa 091020

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

memoar Jiancukkk!
Presiden Hayat

Tergopoh-gopoh aku menuju meja check in. Alamak! Kampret! Antriannya panjang banget; sepanjang jalan Daan Mogot. Abracadabra, libur lebaran menyulap bandar jadi pasar malam

Beruntung antrian hanya di deretan kasta ekonomi. Sedangkan yang tercetak di tiketku adalah kelas C alias kelas bisnis, jadi ya lenggang-lenggang kangkung dimasak tumis, bebas hambatan dan dilayani dengan senyum manis.  

Beruntung? Iya. Tetapi proses untuk mampu membeli tiket C itu tak bisa dilewatkan. Jangan dilupakan; butuh usaha dan pengorbanan ekstrim.

Aku harus menabung dan bertapa, rela berkorban dan menahan hawa nafsu untuk tidak belanja. Sekedar memenuhi kebutuhan dasar tanpa gaya tapi perlu akrobat agar pemotongan anggaran ekstrim tidak sampai mempengaruhi hari-hari ceriaku.
 
Alhamdulillah, rumus keyakinan, doa, keinginan dan usaha yang kuat berbanding lurus dengan keberhasilan masih terbukti sampai sekarang.

Aku adalah orang biasa yang sekali-kali ingin melakukan hal yang tidak biasa, atau bahkan luar biasa --setidaknya berdasarkan ukuranku. Bukan punguk atau seorang astronot, tetapi aku --sama seperti orag bisa lain-- juga sangat merindukan bulan.  
 
Setelah diberi boarding pass dan mengisi kartu imigrasi, kuseret tas kabinku -berisi peralatan generik untuk perjalanan luar kota- menuju meja imirasi. Dan akupun berada di wilayah tanpa negara; secara resmi sudah keluar dari Indonesia tapi sebenarnya masih di bandara milik di Indonesia. Kurogoh kartu masuk ke premium lounge, ada golf putting, massage chair, internet, dan shower. Gratis, tertulis di kartu itu, seolah-olah gartis tulen padahal aku sudah bayar duluan -emangnya harga tiket C sama dengan tket kasta ekonomi. Kupilih sup dan saladnya yang komplet. Juga soft drink, bukan minuman berbahan dasar ethanol (C2H6O) yang terparkir rapi di bar.

Waktu masuk pesawat, kastaku didahulukan dengan jalur masuk khusus. Dadaku terasa sedikit mekar ketika dipersilahkan naik duluan, melewati barisan kasta ekonomi yang mau buru-buru tapi harus menunggu dan sekaligus membuka jalan buat kami. Sekaligus pula ada rasa takut kalau sifat sombongku akan tumbuh subur.

Juga aku sebenarnya terganggu kecil; apakah aku membeli tiket bisnis class untuk mendefinisikan diriku? Apakah tidak berlebihan caraku memanjakan diri?

Sambil berjalan tegar dengan sisa-sisa kemekaran di dada, aku mengenang ketika inspeksi ke kapal atau melaksanakan audit. Pada masa-masa kerja seperti itu kadangkala aku dihajar ombak dan angin Tenggara yang kejam. Perahu cepat pernah terapung-apung di gelapnya malam karena mesinya mati. Terhantam ombak dingin atau menelan debu batubara sudah amat biasa. Pernah pula kapal kayu yang kutumpangi terombang-ambing di laut lepas satu jam lebih, sebelum kapal pengganti tiba.

Sekali waktu aku terbang 4 jam, transit sekitar 40 menit dan langsung dihajar lagi naik perahu cepat selama 3 jam, Itu di kawasan di Indonesia Timur, jadi tambahkan lagi faktor kesulitan perbedaan waktu 2 jam.

Rutinku adalah kerja keras dan sekali-kali bolehlah memanjakan diri. 'Work hard, play hard,' gerutuku menenangkan diri.

Sebelum lepas landas, masih ada lagi tawaran minuman dan kupilih orange juice, karena air soda yang ditawarkan dengan gelembung udara tampak seperti sampanye. Ada juga menu yang akan disajikan selama penerbangan. Gambarnya sih kayaknya enak berat, tapi mengukur lidah ndesoku yang sudah terbiasa mengecap manis dan gurihnya rempah-rempah nusantara aku yakin makanan itunanti tidaklah seindah gambarnya. Lagian makanan cuma 2 pilihan kok harus pakai gambar segala; kan lebib praktis kalau pas menawarkan ditanya 'ayam pakai nasi' atau 'ikan laut pakai bakmi.'

Yang tak bisa dipilih adalah penumpang disebelah yang memulai obrolan tak jauh dari urusan pekerjaan. Uuh! Membosankan. Jadi kututup mulutku seperti pura-pura menutup nguap kantuk, dan penumpang sebelah menangkap pesan. Obrolan kami terhenti dan kututup mataku, melayangkan anganku.
 
Dan munculah episode malam pertama di Singapura.

"Morning" sapa ringan seorang bule menyambut pagi yang agak lembab. Ada rasa aneh ketika pertama kali menggeliat bangun tidur sudah ada orang asing di dekat kita.  

"Morning" balasku sambil ngringkel lagi di bawah selimut.

Sisa petualangan dan kenikmatan hari sebelumnya masih meninggalkan rasa lelah dan aku masih ingin tidur lagi, sedangkan bule bercelana pendek itu meneruskan bacaannya.

Itulah malam pertamaku di Singapura beberapa tahun lalu, ketika jadi turis miskin bermodal ransel. Delapan, sembilan, atau sepuluh laki-laki dan perempuan -aku tak ingat persis berapa orang dan mungkin ada juga gay atau lesbian- masuk dalam satu kamar berbagi barisan tempat tidur bertingkat. Tiba-tiba aku rindu jadi turis backpacker lagi; kali ini aku naik kelas; sudah pesan kamar di hotel bintang 4.

Setelah makan dan baki dibersihkan, kulipat meja makan mini dan kuatur layar TV untuk mendapatkan tingkat kenyamanan optimal sambil menunggu mendarat di Singapura. Kupasang head set dan memilih-memilih saluran; setapi sebagian besar yang bagus malah sudah kutonton. Kumatikan dan kututup lagi mataku.

'Saluran dan hiburan terbaik yang kupunya ternyata ketika bersamamu. Ya ketika bersamamu.'

Lain kali biar di kasta ekonomi, tapi berdua dengan pacarku. Tiket C yang kubeli ini hampir cukup untuk 2 tiket ekonomi,

Jiancukkk!
***

Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

ceritanet©listonpsiregar2000