ceritanetsitus karya tulis, edisi 181 kamis 091001

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

novel Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

Ketegangan akibat pecahnya gerakan Mujahidin terasa hampir di seluruh Kota Metro. Madrasah Al-Mizan, yang letaknya di seberang Polres Metro, tak lepas dari serangan gerakan Warsidi. Pukul sembilan pagi --saat sedang serius belajar-- aku dan teman-teman panik mendengar suara tembakan dari berbagai penjuru.

“Tiaraaaaaaap,” pekik aba-aba yang kami tidak tahu dari mana datangnya. Jeritan, teriakan dan ucapan Allah bermunculan otomatis. Semunyaa panik; Pak Mahdi yang sedang mengajar di kelask ikut tiarap, sebagian anak-anak perempuan menangis. Suara takbir, tahmid, tahlil dan ayat kursi seketika memenuhi ruang kelas. Tidak ada yang tahu pasti apakah kalimat-kalimat Allah itu dapat segera menghentikan suara tembak itu, tapi jelas aku dan teman-teman tetao berharap hidup.

Detik-detik berikutnya, aku mendengar dan melihat derap sepatu lars para tentara berkeliaran di halaman sekolah. Satu pintu ada satu tentara menenteng senapan AK-47. Kami semua masih dalam keadaan tiarap. Suara tembakan dari berbagai penjuru masih terdengar jelas. Pagi itu Gerakan Warsidi sedang menyerang Polres Metro, dan karena hanya berjarak sekitar 100 meter, kami mendengar jelas suara baku tembak.

“Kejar! Masuk ke belakang kantin sekolah!” teriakan tentara yang sedang mengejar salah seorang anggota Gerakan Warsidi yang masuk ke kantin sekolah. Mungkin pintu belakang tidak dikunci, sehingga beberapa anggota Warsidi bisa berlindung ke dalam kantin. Tak bisa kubayangkan bagaimana kepanikan Mak Unah dan suaminya di kantin itu.

“Plar!” suara kaca jendela kelasku pecah. Mungkin diterjang peluru. Kami serempak menjerit, dan beberapa langsung berteriak “Allahu Akbar” sementara yang lain menangis histeris. Situasinya seperti perang. Ada satu jam aku dan teman-teman dicekam oleh suasana tegang dan ketakutan. Ketika suara tembakan sudah semakin jauh, seorang aparat yang sedari tadi berjaga-jaga di depan kelas masuk ke dalam.

“Silakan berdiri semua. Kemasi alat belajar. Dan kalian harus pulang sekarang.”

Kegelisahan dan ketakutanku tidak langsung menghilang. Detak jantungku malah tambah berdebar ketika tentara di depan pintu meminta semua murid untuk mengeluarkan kartu pelajar. 'Jangan-jangan namaku sudah tercium oleh mereka?' gusar batinku. Bbibirku tak henti-hentinya berdzikir agar aku terselematkan dari penangkapan karena sering ikut pengajian di Warsidi.

Tepat giliranku, tentara itu menatapku tajam. Aku tak berani membalas langsung. Kulemparkan pandangan pada kartu pelajar dan aparat itu mengamati kartu pelajarku. Kemudian dia berbisik dengan rekannya. Jantungku berdebar makin cepat dan keras; ,ereka seakan kenal dengan namaku.

“Muhammad Alif Ramadhan,” tentara itu membaca lengkap namaku.
“Tinggal di Desa Ganjar Agung?” tanya rekannya menyelidiki.
“Iya, Pak,” jawabku pendek. Darah seakan naik keubun-ubun, ketakutan kian melingkupiku, keringat dingin mengucur. Kucoba menepisnya.

“Kenal dengan Ibu Maryuni?” pertanyaan itu hampir saja menjebakku.
“Tidak Pak!” jawabku menghindar.
“Tahu rumahnya?”
“Rumah siapa Pak?” kutenangkan hati.
“Ya rumah Ibu Maryuni. Kamu ini gimana sih” tegas tentara yang lain.
“Tidak, Pak!” dua kali aku mengelak.

Intel Kodim Metro sepertinya sudah mencium adanya salah satu anggota pengajian Warsidi yang sekolah di Al-Mizan, tetapi karena dalam pengajian Warsidi tidak pernah ada absen agak sulit juga mendeteksi siapa sebenarnya murid Madrash Al-Mizan yang pernah ikut pengajian Warsidi itu.

Untung, sebelum pecah Gerakan Mujahdin di Way Jepara, aku sudah memenuhi teguran Mbah Hudi agar tidak sering-sering mengikuti pengajian di Desa Talangsari. Anjuran itu tidak ada kaitannya dengan khutbah Jumat Warsidi, yang dinilai oleh rejim Soeharto sebagai gerakan merong-rong negara, tapi karena aku harus lebih konsentrasi ke murid-murid mengaji di Desa GanjarAgung.

“Pernah dengar nama itu?” desak tentara yang menjaga di depan pintu kelas sambil tetap tajam menatapku.
“Nama siapa, Pak?” kucoba mengalihkan perhatian.
“Maryuni?”
“Baru dengar dari bapak!”pendek saja aku menjawab.
“Sebelumnya?” Tentara itu seakan sudah menaruh curiga kalau akulah salah satu jemaah yang sekolah di Al-Mizan.
“Tidak pernah, Pak!” jawabau lebih tegas dibanding sebelumnya.

Kali itu aku memang harus berbohong. Kalau aku jujur, aku tidak tahu akan jadi apa nasibku selanjutnya. Aku sudah tidak lagi berpikir tentang dosa penyangkalan dan kebohongan kepada Mbah Hudi dan keluarganya, juga terhadap kedua tentara yang melakukan sweeping kartu pelajar itu. Bagiku, tindakan itu adalah bagian dari upaya penyelamatan diri; 'Allah Maha Tahu. Ampuni aku ya Allah, jika ini sebuah kesalahan,' batinku memohon.

            “Lanjut!” teriak tentara itu dan darahku terasa mengalir bebas.

Aku seperti lepas dari cengkeraman mulut singa saat ekduanya melepaskanku dari beberapa pertanyaan yang hampir saja menjeratku. Aku melangkah dengan napas lega; 'Terima kasih ya Allah.' 

Setelah semua kartu pelajar diperiksa, kKami kemudian digiring seperti iringan bebek di sawah. Aparat mengawal sampai ke terminal. Ini dilakukan karena --menurut informasi para anggota-- Gerakan Warsidi yang perempuan juga mengenakan jilbab jadi untuk membedakan antara pasukan Warsidi dengan murid peremmpuan, kami semua digiring ketat.
***
bersambung

Perpisahan
Gendhotwukir

Lebaran...di dalam bis
Ani Mulyani

ceritanet©listonpsiregar2000