ceritanetsitus karya tulis, edisi 180 selasa 090915

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

novel Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

Mujahidin, Bagian Keluargaku
Tahun 1989 Gerakan Mujahidin marak di Desa Talangsari Way Jepara Lampung Tengah. Warsidi, yang lahir di Desa Sabrangrowo Borobudur, dinyatakan sebagai pemimpin gerakan. Pasukan TNI --yang dipimpin Kapten Soetiman untuk berunding dengan Warsidi-- diserang dengan panah beracun sebelum ia sampai di lokasi. Mereka yang berencana untuk dialog, sama sekali tidak siap dengan serangan itu. Kapten Soetiman tidak menduga kalau di tengah perjalanan menuju Desa Talangsari --markas pasukan Mujahidin-- mereka sudah diserang dari atas pohon. Satu persatu anggota pasukan Kapten Soetiman jatuh bersimbah darah. sSebagian bisa melarikan diri.

Kapten Soetiman termasuk yang tak sempat melarikan diri dan sekujur tubuhnya terhunjam panah beracun. Di tubuhnya juga ditemukan banyak luka bacokan benda tajam. Jenazah Kapten Soetiman baru bisa diambil pagi harinya, satu malam setelah kejadian.

Warsidi --tutur ayahku belakangan-- bukanlah ilmuan yang kaya dengan pengetahuan, baik ilmu politik maupun agama. Maka saat kabar itu beredar ayah jadi heran; setengah tidak percaya kalau setelah 40 tahun berpisah, Warsidi menjadi sosok revolusioner yang ingin mengganti dasar negara menjadi Islam. Kabar keterlibatan Warsidi dalam gerakan politik anarkis itu tidak masuk akal sehat, begitulah kira-kira komentar ayah.

“Warsidi itu saat masih tinggal di Desa Sabrangrowo pekerjaannya cuma ngarit mencari rumput untuk kambing. Kalau mengaji Warsidi tergolong anak bandel. Suka melawan kiai. Tetapi otaknya tidak terlalu pintar. Membaca pun masih terbata-bata,” kenang ayah.

Tap , ayah sepertinya tidak membaca perkembagan Warsidi setelah pindah di Desa Talangsari. Ayah juga tidak pernah tahu kalau di Desa Talangsari, Warsidi banyak menerima tamu dari Jakarta dan kota-kota lain untuk silaturahmi. Dari pertemuan satu ke pertemuan lain dengan ‘orang-orang luar’ inilah tampaknya pola pikir Warsidi berubah. Pengajian yang sebelumnya hanya mengaji Al-quran kemudian berkembang menjadi pengajian politik. Dalam setiap khutbah Jumatnya, sesekali Warsidi menyebut kalau Pancasila tidak sesuai dengan ajaran Islam. Oleh sebab itu, menurut Warsidi dasar negara Indonesia harus diganti dengan Islam.

Isi khutbah Jumat iyu sebenarnya membuat gelisah sebagian warga di Desa Talangsari. Kepala Desa sempat melaporkan Warsidi ke Kodim Way Jepara, yang melayangkan surat panggilan kepada Warsidi, sebagai pimpinan Jamaah Mujahidin.

Surat panggilan itu dijawab: "Kita tidak perlu menghadap dan menunduk kepada siapapun. Kita hanya wajib tunduk kepada Allah. Untuk apa saya harus menghadap Dandim. Seharusnya Dandim yang mengahadap kepada Allah agar ia ditunjukkan oleh Allah bahwa negara ini harus mengganti dasar negaranya menjadi dasar negra Islam.”

Kepala Desa yang berhadapan langsung dengan Warsidi makin khawatir dengan kegiatan jamaah Mujahidin. Apalagi makin hari jumlah jamaah semakin banyak. Ada yang masih berstatus mahasiswa, ada yang sarjana, dan ada masyarakat awam. Aku yang secara kebetulan pernah ikut dengan salah satu jamaah sempat kaget; pengajian yang selama ini membahas tentang agama berganti di pengajian Mujahidin pimpinan Warsidi menjadi hampir 80 persen membahas iklim politik negara. Kalau saja aku bisa mengajak anak-anak Genesiss ke sini, mungkin mereka akan banyak mendapat informasi, pikirku saat itu.

Tetapi dari awal aku sudah diberitahu kalau ikut jamaah ini harus lebih berhati-hati karena pihak keamanan sudah memberi perhatian kepada mereka.

Aku jelas ikut merasakan hidup dalam cengkeraman rejim Soeharto. Bagiku hidup di zaman Soeharto seperti hidup di rumah hantu, khususnya dalam partisipasi politik rakyat. Berkumpul lebih dari 3 orang di luar rumah pada malam hari sudah akan jadi alasan untuk digelandang ke kantor polisi atau di kantor Kodim setempat. Persis seperti ketika anak-anak Genesiss digelandang ke Kodim Metro, setelah melakukan keributan dengan aparat TNI di perkemahan Metro Kibang.

Untunglah angan-angan Partai Genesiss sudah bubar sebelum Gerakan Mujahidin berkembang di Talangsari. Kalau belum, mungkin urusannya akan semakin panjang mengingat aku sesekali mengikuti pengjian juga di Talangsari. Semula hanya ingin tahu setelah bertemu dengan salah seorang murid Warsidi, yang belakangan mengku namanya Firli. Ketika itu, aku sedang memberi  materi keagamaan dalam acara penyuluhan untuk anak-anak SMP di Metro yang diselenggarakan di Masjid Al-Amin.

Aku tidak persisnya tahu kapan Mas Firli masuk ke dalam masjid. Tetapi ketika istirahat makan siang, dia berkenalan denganku dan sekaligus mengajakku ikut dalam pengajian di Talangsari. Dari pertemuan dengan Mas Firli, aku baru tahu kalau Warsidi alias Anwar Warsidi adalah adik kandung di Mbah Maryuni, istri Mbah Hudi.

Dan waktu mendengar kabar kalau aku sering ikut pengajian di Talangsari, Mbah Maryuni sempat bertanya, apakah Warsidi pernah menanyakan dirinya atau tidak. Aku menjawab kalau Warsidi tidak pernah bertanya tentang kabar Mbah Maryuni, walau pernah mengatakan sudah lebih 30 tahun pisah dengan Mbah Maryuni. Saat masih muda mereka memang sama-sama tinggal di desa Sabrangrowo namun masing-masing merantau ke Lampung dan antara Mbah Maryuni tak pernah bertgemu lagi dengan Warsidi. Perpisahan yang sudah demikian panjang inilah yang belakangan menyelamatkan Mbah Maryuni dari jeratan keterlibatan dalam Gerakan Mujahidin.

Sejak pecahnya gerakan Warsidi, Mbah Hudi juga kena dampaknya; rumahnya dijaga ketat aparat hampir setiap hari. Bahkan warga Desa Ganjar Agung diperiksa KTP-nya jika akan bertemu dengan Mbah Hudi. Padahal, garis keluarga Warsidi bukan dengan Mbah Hudi melainkan dengan Mbah Maryuni. Di jaman Suharto, sekedar ikatan keluarga saja bisa jadi masalah besar, seperti para keluarha dari yang disebut G30 S/PKI. Nyaris tak ada anak-anak yang luput dari catatan hitam jika orangtuanya sudah ciap G 30 S/PKI. Demikian juga pada Mbah Hudi, yang terkena imbas dari Gerakan Warsidi.

Saat itu situasi Desa Ganjar Agung benar-benar mencekam. Walaupun, jarak Desa Talangsari dengan Desa Ganjar Agung cukup jauh, rumah Mbah Hudi sampai dijaga ketat oleh aparat. Aaparat tampaknya membuka kemungkinan kalau rumah Mbah Hudi akan menjadi persembunyian personil anggota Warsidi yang melarikan diri.
***
bersambung

maka kelam
Herry Sudiyono

Diet Lamunan Berat
Ganjar Sudibyo

ceritanet©listonpsiregar2000