ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 17, Senin 18 Juli 2001
___________________________________________________

 

         sajak Di Tepi Sungai Amstel
                     Sitok Srengenge
                   Di tepi Sungai Amstel, di sebuah kafe,
              kaukebut maut pada mantel, selepas sore
              Tahun-tahun menyepuh rindu,
                            memutih rambutmu
              Arus terus menggerus antara angsa
                              dan gurat-gurat cahaya
              Tujuh belas belibis menggerombol di tritis toko tarcis,
                              tujuh gelas alkohol memintal gerim gerimis
              Lalu kaucukil secuil kucil: sekelimun bebek peking
                           digiring ke daratan asing selatan Nanking
              di mana cambuk para pengawal
                siap melucut akal, melecut ajal
              Di antara sebaki serpih daging cannar, sepoci teh hijau,
                  kaudenguskan lagi dengan benci kata-kata suci Mao
                                             Dan seliar camar tersasar,
              kauruntutkan kenang, kauturutkan angan, nanar
                            ke puncak-puncak dakian dera
              tubir-tubir karang kerontang Manchuria
                  selengkapnya

sajak Menoleh Ke Belakang
Maria Pakpahan

Menoleh ke belakang, lewat satu windu
Menoleh lewat bahu, mencari jemari yg bebas lancang menyapa rambutku
Mendapati senyum lepas, bersahabat
Jengah aku di atas tangga sekolah kita

Terpaku, seakan bertemu malaikat
Bayangkan malaikat sekolah pasca sarjana
Apa surga kekurangan ilmu ?
Benakku bertanya, hatiku bersyukur

Menoleh ke belakang, lewat sudah abad lalu
Menoleh pada musim dingin utara , duniamu
Mendapati aroma kopi dan vivaldi mendayu
Manja aku dibuatmu, bak ratu tanpa harus berlaku anggun ,
Terlihat cantik atau teratur tutur bahasa. Alangkah asyiknya.
Terpukau, dan senyum sendiri mengingat discovery ku "cinta memiliki wajah "
Simpulku, melirik wajahmu di balik lap top
Usai membawaku secangkir kopi sehangat senyum malaikatmu
selengkapnya


sajak Wings
          Abraham Juang

       If I had wings I would touch
   The wet drips of the rain.

                       If I had wings I would taste
The bright stars.

                            If I had wings I would gaze
                                  At the very light and bright sunset.

If I had wings I would dream
Of floating in space and flying
On the sea.
selengkapnya

 
sajak Mencintaimu
          Moyank
ku ingin mengecup bibir manismu
melihatmu tersenyum saat memandangku
rindu kubelai cinta rambut hitammu
biarkan airmataku membanjiri kelopak mata ini


kudekap,
kupagut,
kubelai,

manjamu membuat luluh lantak perasaan
tanpa dirimu sesaat,
aku terbakar dalam kawah yang membara

selengkapnya



penulis edisi 17

novel Dokter Zhivago 17
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960, dengan penulisan ejaan baru

Jalan Petrovka nampak seperti sesudut Petersburg yang kesasar di Moskow. Rumah-rumah yang berhadap-hadapan di kedua segi jalanan, pehiasan tenang di semua fasade, toko buku, perpustakaan, si karikaturis, si penjual tembakau yang baik budi, restoran yang menyenangkan dengan pintu depan yang di kanan kirinya ada dua lampu gas bundar di selubungi salju beku dan diganjal kayu tebal, semua ini membantu menimbulkan kesan demikian.Di musim dingin, wajah kota mengungkap ancaman. Penduduknya adalah para pemangku pekerjaan liberal yang dapat dipercaya, tahu-diri dan bergaji baik. Di sinilah Victor Ippolitovich Komarovsky menyewa tempat kediamannya yang indah di loteng ketiga; orang sampai kesitu melalui tangga lebar dengan kisi-kisi jati yang kokoh. Induk semangnya, Emma Ernestovna adalah pendiam dan jarang nampak; dalam rumah yang seperti puri tenang ini dia laksana wanita bangsawan yang memelihara rumah-tangganya dengan cermat lagi sopan.
selengkapnya

ceritanet ©listonpsiregar2000