ceritanet
situs
nir-laba untuk karya tulis
edisi 17, Senin 18 Juli
2001
___________________________________________________
sajak
Di Tepi Sungai Amstel
Sitok
Srengenge
Di tepi Sungai Amstel, di sebuah kafe,
kaukebut maut pada mantel, selepas sore
Tahun-tahun menyepuh rindu,
memutih rambutmu
Arus terus menggerus antara angsa
dan gurat-gurat cahaya
Tujuh belas belibis menggerombol di tritis toko tarcis,
tujuh gelas alkohol memintal gerim gerimisLalu kaucukil secuil kucil: sekelimun bebek peking
digiring ke daratan asing selatan Nanking
di mana cambuk para pengawal
siap melucut akal, melecut ajal
Di antara sebaki serpih daging cannar, sepoci teh hijau,
kaudenguskan lagi dengan benci kata-kata suci MaoDan seliar camar tersasar,
kauruntutkan kenang, kauturutkan angan, nanar
ke puncak-puncak dakian dera
tubir-tubir karang kerontang ManchuriaTapi selepas sore itu, Wispi, di tepi Sungai Amstel
kaukebut maut, sekali lagi, pada mantel
Sebab di tubuhmu yang mengerut
ada denyut laut yang menawar sekian kecut:
ideologi, impian revolusi
--keyakinan akut yang membangun buiSyal merah yang menjuntai di lehermu, Wispi,
seolah gairah yang tak kunjung pagi
Barangkali, aku tak pasti,
kausebut Tuhan dengan depus nadi,
di bawah tebaran serbuk salju,
melewati pohon-pohon yang menahan kelu,
kaukayuh usia yang kian aus menuju entah
di mana seekor bangau termangu di kerpus, menunggu remahBarangkali maut pernah bertandang ke Daltonstraat, suatu malam
mengendus kenangan yang sempat kaucatat, buku-buku buram,
sisa nikotin di pipa stigi, gaung batuk di ampas kopi,
ketika kau vakansi ke negeri ilusi
1996
FatamorganismaJari-jari musim yang jail
menggramul pinggul seorang gadis kecil ,
kupu yang gemetar menunggu angin lewat
menuju Buchenwald
Aku menahan kesiur jantung,
di balik punggung patung yang dipancung,
di depan gedung pemerintah yang hancur
disatroni amarah para penganggurSeketika kota menjelma seorang lelaki apak
dengan jambang dan jenggot selebat semak,
kusut masai
dan padangnya samun matahari soreAngin datang berisik
mengosak-asik rambutnya yang penuh kersik,
menyurukkan kenang pada riuh gerimis
yang turun berderai jauh di pagi Simbrisk,
menyeruakkan serumpun rumput hitam
meruyak seluas malam
Lalu ia dengar kelepak murung dari timur, burung-burung walet
meninggalkan layung yang hancur, sebuah Soviet"Nasib memang tak selicin tenun linen, Tuan Lenin," ufuk hanya sepi,
tak ada lagi burat matahari, ketika ia gumamkan solilokui"Sungguh maklum, jika tak ada mausoleum bagi Mussolini,
setelah ideologi yang memihak orang banyak
mengeras jadi sebengis kapak,
mengayau sulur-sulur nalar dan naluri.""Dan kaum buruh, kaum buruh, terus diburu dan dibunuh
oleh kapital yang tumbuh."Kata-kata magel tanpa gaung tanpa magnet,
tapi langit memekikkan laung, menderikkan rangket
Tubuh lelaki itu pun sirna bersama senja
ambyar selamur fatamorgana,
kepalanya tergolek di antara serakan batu
dan serpih sepasang sayap kupuDi antara patung buntung, kepala batu,
bangkai kupu, aku termangu
menyaksikan derap harap sebagai kereta penghabisan
ke kamp pengasingan
1997
Mata DanauSegenang danau dan sebersit meteor,
sebentang risau bangkit dalam paspor
Selengang kau dan sebait metafor,
segamang mau si troubador dari burit ekuatorSetelah anggur dan musik dan malam rebah,
ada yang berangsur mengusik dan kita saling jamah
Sebagai hutan perawan kau kurambah
sampai semak tersibak, bebukit basah
menahan gelegak arus bawah tanahBagai burung terbang dari seberang lautan,
di belukar keterasingan
kukerkau sumber kicau, suara purba tepi danau,
di sebuah distrik masa lampau,
tempat lahir sajak-sajak dari akar rumputan,
disiulkan angin dari zaman ke zamanPun di danau itu kukenang matamu bening,
kedalaman tak terjangkau, di mana badai terbaring
dan napasnya menyayat dedaun luruh,
serat waktu yang tertenun dan merapuh
Rambutmu berkibaran
selebat derai hujan,
riap rumpun lalang basah
menguapkan harum tanah,
musim pancaroba
menyemat bunga-bunga,
pelangi terjelma dari
rona gairah matahariDan seperti mimpi,
segalanya pun terjadi:
suara purba tepi telaga,
pusar rimba,
desir yang menggangsir
mata air,
burung yang bersarang
di rongga batang pohon terlarang
Hening
yang nyaring,
lepuh yang tak tertempuh
tubuh,
merjan peluh dan dengus hawa,
bintang jatuh dari gugus tatasurya
Jatuh ke matamu yang menyimpan danau,
danau yang membenamkan risau
ke dasar jiwa sangsai menggapai-gapai,
sampai tak sampai
Dalam kesunyian begini mutlak,
betapa suara tak berjarak:
debar
sederas kelenjar kuda liar,
rintih
seperih serpih angin letihYang kausangka bercinta,
barangkali kita,
barangkali kita cuma berdegup
dalam hidup
Yang kauduga berdosa,
barangkali kita,
barangkali kita cuma berdoa
dalam dusta
Kita berkesiur dalam darah
bagai gairah
dalam jantung dan empedu semesta,
manakala masuk sukma
dan batuan tanah
rekah,
batang-batang
regang,
sungai
berderai,
laut
berdenyutManakala angkasa
menaburkan bencah-bencah cahaya,
bunga-bunga abadi yang mekar dari duka,
kita pun lenyap
ke dalam Senyap
1997
ceritanet
kirim karya tulis
©listonpsiregar2000