ceritanetsitus karya tulis, edisi 179 sabtu 090829

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

sajak Pituah Lelaki Rambut Wangi pada Malam Puisi
Bambang Saswanda

sejak sajakmu terjejak dalam barisan serdadu perang desember
kita berhujan-hujan kata, menuruti kayuh sepeda ontel lelaki tua berambut wangi
yang sekali tempiasnya kita terjemahkan bersama
diatas teras rumah orang seberang yang asing

menghambalah kita pada kertas-kertas yang telah dilumuri ludah kopi kita
asap-asap rokok yang genit mengepul pun tak tinggal diam
menerka senyum pelepah kelapa, mencerna seringai hampar pantai tengah malam
yang pasirnya putih, seputih warna malam yang sedang kita gubah menjadi hitam

aku sedang menuju langit-langit kataku tanpa ingin mengangkat
setapakpun pijak kakiku, katamu dengan desah nafas yang tertukar dengan
angin terkirim lautan,
sesekali kalian selipkanlah puisi diantara penat yang hanya akan mengukur umur
: hingar bingar dunia ini kawanku, tak lebih dari protes anjing yang
bersuara parau, mengonggong untuk perutnya yang tak terisi, setelah
para penguasa mengajari kita lupa menanak nasi dengan permainan harga

aku sedang menuju bumi jiwaku tanpa ingin kepalaku tersuruk busuk
didalam tanah yang ada darah penganiayaan akan nasib dan takdir
sesekali kau taburilah dengan puisi, agar perang ini sedikit bernyanyi
: tak seperti cemooh dan tingkah mereka yang berpura-pura, kepada
segerombolan orang yang tak mengerti apa itu hukum dan hukuman, mereka
hanya bercanda, diantara permaianan azal dan kematian

batukmu semakin parah
sembari merapikan pecimu yang hitamnya mulai berubah
ah sudahlah katamu terhentak
: rapikan buku kalian, penuhi bumi ini dengan puisi, sebagai
penyeimbang kebohongan. bukankah kita ingin mati dalam keadaan tidak
mengeluh?

Di Tiga Masa Yang Menandakan Kita Masih Dalam Perjalanan Adikku!

di secarik kertas di bawah bantal ibuku
aku melihat tulisan tangan ayahku
: tak ada kebahagian yang lebih bahagia selain melihat kebahagiaan kalian,
kalian,
yang memiliki kehidupanku

di bola mata ibu
aku mengapung
: oleh genang air yang terbendung.

di nisan makam ayahku
ada nyala yang membakar
: tidak sekedar rindu

untuk adik-adikku
: jangan ceritakan pada siapapun tentang dinding rumah kita yang lapuk, sebelum aku
mati...!!
***

Ruwatan Rambut Gembel
Gendhotwukir

Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

ceritanet©listonpsiregar2000