ceritanetsitus karya tulis, edisi 179 sabtu 090829

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

novel Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

Guna-guna Gadis Tetangga
Tepat hari pelaksanaan, aku minta bantuan anak-anak Genesiss. Dengan meminjam mobil kijang milik Kholis, aku, Evi dan Zulaiha menemaniku -- -- agar tidak timbul fitnah-- untuk menjemput Indah. Aku juga ingin menjaga nama baikku sebagai guru mengaji dan keluarga besar Mbah Hudi. Kalau aku menggincengnya dengan sepeda onthel, apa kata para tetangga.

Pukul 6 pagi, kami bertiga sampai di rumah Pak Wasis. Indah sudah siap di teras depan. Setelah mengenalkan Kholis, Evi dan Zulaiha, kami langsung pergi. Aku duduk di depan bersama Kholis, sementara Evi dan Zulaiha di belakang menemani Indah. Sesekali Evi dan Zulaiha menanyakan sesuatu pada Indah. Hanya sepotong-sepotong saja terdengar suara Indah.

Bagaimanapun suara Indah kali itu sedikit banyak membangkitkan optimisme kalau kelak Indah akan kembali seperti semula. Dalam perjalanan menuju lokasi lomba, Evi dan Zulaiha terus mencoba memancing cerita dari Indah, setelah mengetahui Indah termasuk orang baru di Metro. Ada kebisuan yang secara perlahan terpecah pagi itu. Secara perlahan, Indah membuka cerita --walau masih malu-malu.

Kholis dan aku yang duduk di depan lebih asyik dengan obrolan tentang ank-anak Genesiss, walau sesekali aku mendengar obrolan mereka bertiga di belakang.

“Lif, pacar elu itu ya?” tanya Kholis lirih, takut terdengar Indah.
“Ssssst! Entar juga gua certain,” jawabku pendek.
“Ah! elu ini main rahasia-rahasiaan segala. Terbuka aja kenapa sih?!” Kholis meledek karena menangkap keanehan dengan sikapku yang menyembunyikan Indah.
“Pokoknya antar gua dulu. Setelah itu akan gua certain ama elu,”janjiku.

Kijang yang kami tumpangi masuk ke SMP Unggulan Metro, yang sudah ramai oleh peserta dan bazar. Karena kami datang lebih awal, kami tidak kesulitan mencari tempat parkir. Belum sempat ke ruang panitia, anak-anak Genesiss berhambur mendekat sekaligus berkenalan dengan Indah, yang sesuai permintaanku akan didampingi Evi dan Zulaiha. sampai acara selesai. Sambil nongkrong dengan anak-anak Genessis di pojok sekolah sambil berbincang seadanya, aku juga menceritakan tentang Indah, walau ada bagian-bagian yang aku simpan sebagai ‘aurat’ Indah yang tak boleh kuungkap di mata umum atau di anak-anak Genessis sekalipun.

Pukul satu siang, acara selesai; Indah mendapat terbaik III dalam lomba baca puisi tingkat SMP. Anak-anak Genesiss secara spontan memberi selamat. Aku juga tidak ketinggalan. Ada rona keceriaan yang tersemburat di wajah Indah; kali ini wajahnya benar-benar Indah. Terlihat jelas keasliannya kalau iIa bukan gadis pemurung sebagaimana yang selama ini aku temui di setiap pengajian. Metode membuka kebisuan Indah, secara perlahan terungkap. Aku berpikir dengan cara apalagi agar Indah harus tetap ceria.

Usai terima hadiah dan tropy, sengaja aku mengajak Indah ke posko Genesiss diikuti kawan-kawan yang membuntuti dengan sepeda motor. Sampai di posko kami makan bersama. Walau jumlah nasi kotak tidak mencukupi, kami semua berbagi sehingga tidak ada yang tidak makan. Nasi dibentangkan sehingga bisa secara bersama-sama makan dari satu nampan, yang mengingatkanku saat masih aktif di kelompok pengajian Al-Burhan.

Begitulah, yang aku lakukan bersama dengan anak-anak Genesiss. Setiap kali ada kegiatan yang melibatkan sekolah lain, Indah tak ketinggalan. Bagiku ini merupakan bagian terapy kejiwaan Indah, yang mungkin selama ini merasa tertekan oleh pola didik keluarga yang keras dan mengekang. Lambat laun, Indah tidak lagi dikawal. Baik ketika ke sekolah atau mengikuti kegiatan lain dia boleh jalan sendiri sSelama aku terlibat di dalam kegiatan itu. Setiap kali usai kegiatan, aku dan kawan-kawan perempuan Genesiss selalu mengantar Indah.

Indah bukan lagi gadis pemurung. Dalam setiap pengajian Indah sudah lebih terlihat percaya diri. Ia bisa membaur dengan teman-teman sebaya, bercerita tentang apa saja. Dan soal belajar mengaji, Indah sudah mulai bisa membaca buku iqra, walau baru iqra satu. Ssetelah beberapa kali mengajaknya dalam beberapa kegiatan --lomba baca puisi, tari kreasi, sampai lomba lintas alam atau napak tilas-- Indah selalu memancarkan keceriaan walau tampak lelah. Bahkan di dalam rumah --menurut Pak Wasis-- Indah juga sudah mulai lebih komunikatif dari pada sebelumnya.
***

Malam tiba. Baru satu jam aku pulang dari masjid. tetapi ada perasaan aneh yang seketika menelusup. Ada keinginan kuat untuk bertemu dengan Indah. Mlam itu jantungku berdegup kencang. Beberapa kali aku membaca shalawat nabi Istighfar untuk menepis nafsu syetan yang mulai menguasaiku. Aku kembali ber-shalawat dengan harapan segala bentuk niat buruk yang mungkin timbul dari dalam batinku akan segera mereda. Tetapi sampai aku baringkan badan di ranjang, keinginan untuk melihat wajah Indah demikian kuat.

“Astaghfirullah. Astaghfirullahl ‘adziim,” aku mohon ampun kepada Sang Khaliq. Namun dorongan itu kian kuat. Aku tak kuasa menahan. Aku bangkit, keluar dari kamar dan kubuka jendela mushalla rumah Mbah Hudi. Secara kebetulan, jendela mushalla langsung menghadap ke kamar Indah. Hanya kebun nanas sebelah rumah yang membelah batas antara rumah Indah dan rumah Mbah Hudi.

Dari kegelapan di balik jendela mushalla, aku melihat jendela kamar Indah masih terbuka. Dari kejauhan aku melihat bayang-bayang Indah masih membaca buku di meja belajar. Aku mengehela napas panjang. Ada perasaan lega setelah melihat wajah Indah.

“Ini gila! Ini tidak boleh terjadi! Kenapa aku harus seperti ini!” aku uring-uringan pada diriku sendir karena bingung atas apa yang telah terjadi dalam diriku sehingga perasaan untuk terus dekat dengan Indah sedemikin kuat.

Dan bukan malam itu saja. Hari-hari berikutnya malah makin menggila. Setiap pulang dari masjid, aku seakan memiliki kewajiban untuk mampir ke rumah Pak Wasis. Walau hanya berbincang dengan Pak Wasis, ada perasaan tenang. Kian hari, aku semakin sering mampir ke rumah Pak Wasis. Kontan saja ini menimbulkan banyak pertanyaan di benak Mbah Hudi. Tetapi aku selalu menjawab kalau aku harus mengajari Indah mengaji karena tidak tuntas di masjid. Aku sudah berani berbohong, hanya terdorong oleh keinginan kuat untuk selalu berada di keluarga Pak Wasis; apalagi kalau bukan untuk melihat Indah.

“Kamu sudah terkena guna-guna keluarga Pak Wasis,” ujar Mbah Maryuni ketika Mbah Hudi menanyakan perihal hubunganku dengan Indah.

Aku tidak langsung percaya sebab sangat mungkin perasaan ini memang berasal dari dalam diriku sendiri. walau dari awal aku sama sekali tidak mempunyai perasaan kecuali hanya ingin mengajari mengaji. Mbah Maryuni kemudian menceritakan, kalau isteri Pak Wasis adalah salah satu dukun pintar yang sering dimintai tolong oleh warga untuk mengirim santet dan tenung.

Bagai disambar petir di siang bolong kali itu. Pak Wasis dan keluarganya yang sedemikian baik, mestikah menjadi bagian dari hamba syetan? Apakah aku sudah terkena guna-guna? Kenapa shalawatku dan shalatku tak mampu membendung guna-guna? Ah, berarti shalatku selama ini hanya olah fisik, sedang batinku tidak pernah ikut dalam shalat. Shalawatku juga hanya sebatas gerak lisan, sementara urat nadiku belum sepenuhnya kuajak untuk turut bershalawat. Seketika aku kembali membaca  istighfar, dengan harapan Allah SWT akan segera mengampuni kelalaian melibatkan batin dalam ibadahku.

“Coba kamu ingat lagi, selama kamu mampir di rumah Pak Wasis. Apa pernah kamu pernah minum di rumah itu atau tidak?”

Ppertanyaan ini konyol sebab sudah tentu setiap kali ada tamu, Bu Wasis atau Indah selalu menyediakan minum. termasuk untuk aku. Sama seperti di rumah Mbah Hudi, setiap kali ada tamu, maka aku atau Lek Nur segera membuatkan minuman sebagai bentuk penghormatan terhadap tamu. Sebab Rasullullah pernah bersabda;…man kaana yukminu billahi fal yukrim dloifah ( …barang siapa yang beriman kepada Allah, maka ia adalah orang yang memuliakan tamu).

Kalau aku sedang dimuliakan oleh tuan rumah sebagaimana di rumah Pak Wasis, kenapa tidak aku hormati? Batinku bertanya. Bagaimapun kucoba mengingat kembali saat pertama aku mulai akrab dengan keluarga Pak Wasis. Entah kunjungan yang keberapa kalinya, ketika minuman untuk Pak Wasis dan minumanku disuguhkan tidak serempak seperti biasanya. Pertama Indah keluar dari ruang dalam membawa minuman untuk Pak Wasis. Tak selang beberapa detik, Bu Wasis keluar dari pintu yang sama dengan membawa minuman untukku.

Ketika itu aku sempat berpikir, kenapa minumanku dan minuman Pak Wasis harus disuguhkan oleh orang berbeda? Bukankah nampan masih cukup untuk meletakkan satu gelas lagi untukku? Jangan-jangan…? Indah memang pernah selintas bercerita tentang kakak perempuannya yang bekerja sebagai dukun, namun cepat-cepat membuang perasaan prasangka buruk itu sebab akal sehatku berkata bagaimana mungkin keluarga Pak Wasis akan berbuat buruk terhadap orang yang dipercaya untuk mendidik putrinya? Beberapa cerita Mbah Maryuni tentang keluarga Pak Wasis, kemudian aku hubungkan dengan cerita Indah beberapa waktu setelah Indah bersedia membuka diri.

Ternyata tuduhan Pak Wasis terhadap Indah, yang dikatakan sebagai anak nakal, hanya rekayasa belaka. Tetapi aku tidak tahu persis kenapa Pak Wasis percaya begitu saja pada cerita kakak perempuan Indah yang di Yogya. Apakah Pak Wasis juga sengaja menutupi pekerjaan kakak kandung Indah di Yogya? Ketika pertama aku kenal dengan Pak Wasis, aku tak menyimpan sangkaan buruk apapun karena --bagiku-- perasaan itu hanya akan meracuni nuraniku.

Saat Indah mulai bersikap lebih terbuka, ia pernah menceritakan kenapa ia memilih pulang ke Metro dari pada tinggal di Yogya. Menurut Indah, ia tidak bisa hidup di tengah dunia perdukunan yang dilakukan kakak perempuannya di Yogya. Bukan sebatas membantu mengirim guan-guna, tetapi kakak perempuan Indah juga melakukan praktik aborsi illegal di rumahnya.

Indah tidak menceritakan bagaimana kakak perempuannya memiliki keahlian menjadi dukun. Sedang keahliannya di bidang medis diperoleh saat kakak perempaun Indah sempat bersekolah di Akademi Kebidanan, namun akhirnya dikeluarkan karena ketahuan hamil diluar nikah. Dan kakak perempuan Indah itu kemudian menikah dengan duda beranak dua setelah kekasih yang menghamilinya menghilang karena mendapat kabar kekasihnya hamil. Dengan bantuan dukun, janin di dalam perut kakak perempuan Indah digugurkan.

Kondisi keluarga di Yogya demikian itu tak membuat tenang. Setiap kali Indah mendengar pembicaraan teman-temannya di sekolah tentang aborsi di koran-koran, muka dan hatinya merasa ditampar. Indah benar-benar merasa terhempas perasaannya jika mendengar kabar berita tentang aborsi.

“Bagaimana batin Indah tidak merasa tersayat, jika ternyata salah seorang anggota keluargaku melakukan aborsi?” Indah bercerita sembari beberapa kali harus menyeka air matanya. Ada kepedihan di sana. Tetapi aku tak kuasa membantu membelainya. Itu tidak mungkin aku lakukan. Jika ia adik kandungku, mungkin aku sudah membalai sayang padanya. Tetapi Indah bukan siapa-siapaku, jadi aku hanya bisa ikut bicara sambil sedikit memberi dorongan moral agar Indah tidak jatuh dalam dunia hitam sebagaimana kakak perempuannya.

Kini aku tampaknya menjadi korban guna-guna ibu Indah. Aku masih bingung sebenarnya, namun Mbah Maryuni dan Mbah Hudi rupanya amat yakin.

“Salah satu jalan untuk menghindari guna-guna itu, kamu harus pindah dari sini.” saran Mbah Hudi.

Kabar ini harus aku simpan rapat-rapat agar ayah dan ibu ku tidak mengetahui, apalagi, sebentar lagi semester akhir tiba. Kepindahanku dari rumah Mbah Hudi bisa membuat ayah dan ibu berang dengan kemungkinkan memutus biaya sekolahku. Pindah sekolah juga berarti tak mudah untuk naik ke kelas dua Aliyah. Banyak hal yang kemudian menjadi beban pikiran setelah saran Mbah Hudi agar aku pindah guna menghindari guna-guna Bu Wasis.

Dalam keadaan gundah dan dihinggapi seribu tanya tentang kebenaran guna-guna, aku tetap mengajar mengaji seperti biasanya. Tetapi kebenaran guna-guna itu secara perlahan aku rasakan. Dalam setiap waktu, aku tidak bisa lepas dari pandangan Indah. Walau hanya sekejap. Walau hanya sekedar melihat rumahnya. Aku seperti kerbau yang dicokok hidungnya, apalagi kalau urusannya berhubungan dengan Indah. Keinginan kuat untuk selalu bertemu dengan Indah terus kurasakan.
***bersambung

Pituah Lelaki Rambut Wangi pada Malam Puisi
Bambang Saswanda

Ruwatan Rambut Gembel
Gendhotwukir

ceritanet©listonpsiregar2000