ceritanetsitus karya tulis, edisi 178 senin 090713
ikut mailing list
tentang ceritanet
Katamu sungai itu adalah belahanmu Sedang delta adalah kepunyaanku Dan kita bertemu di arus tenang rawa itu Sesaat di penantian senja kelam Tapi ular kau! Katamu, Ganjar Sudibyo "Sudah lama menjadi pemakan mie instan, nabung bertahun-tahun tapi rumah sederhanapun belum terbeli jua!" gerundelan temanku nyaris tak terdengar bak kalah bersaing dengan jeritan orgasme minyak goreng dalam wajan super panas ketika bawang merah kumasukkan dan bulir-bulir air yang masih membasahi bawang sehabis dicuci memang menambah kencang dan heboh teriakannya, seperti rentetan bunyi petasan cabe rawit, dan dia bertanya: "Mas Hayat sudah ambil rumah dimana? Rumah, rumah, janjimu, janjimu, Presiden Hayat wajahmu belum tiba jua padahal rindu sudah jadi doa hanya cahayamu saja menerangi seluruh diam di sini Di Sini, Dewi Penyair Kali pertama seorang wali menyerahkan seorang gadis kepadaku; bukan untuk dinikahi tetapi untuk diajari mengaji. Puspita Indah Sari, begitu nama gadis itu, namun orang memanggilnya Indah. Putri dari Pak Wasis ini --tetangga Mbah Hudi-- baru ditarik dari Yogyakarta karena kakak perempuannya tak tahan dengan ulah Indah. Menurut Pak Wasis, saat di Yogya Indah selalu bergaul dengan pemuda-pemuda mabuk, bahkan --tambah Pak Wasis-- Indah pernah melompat jendela hanya karena ingin mendatangi pesta sabu di salah satu rumah kost temannya. Maling dan Ustadz, Imron Supriyadi
Katamu sungai itu adalah belahanmu Sedang delta adalah kepunyaanku Dan kita bertemu di arus tenang rawa itu Sesaat di penantian senja kelam Tapi ular kau! Katamu, Ganjar Sudibyo
"Sudah lama menjadi pemakan mie instan, nabung bertahun-tahun tapi rumah sederhanapun belum terbeli jua!" gerundelan temanku nyaris tak terdengar bak kalah bersaing dengan jeritan orgasme minyak goreng dalam wajan super panas ketika bawang merah kumasukkan dan bulir-bulir air yang masih membasahi bawang sehabis dicuci memang menambah kencang dan heboh teriakannya, seperti rentetan bunyi petasan cabe rawit, dan dia bertanya: "Mas Hayat sudah ambil rumah dimana? Rumah, rumah, janjimu, janjimu, Presiden Hayat
wajahmu belum tiba jua padahal rindu sudah jadi doa hanya cahayamu saja menerangi seluruh diam di sini Di Sini, Dewi Penyair
Kali pertama seorang wali menyerahkan seorang gadis kepadaku; bukan untuk dinikahi tetapi untuk diajari mengaji. Puspita Indah Sari, begitu nama gadis itu, namun orang memanggilnya Indah. Putri dari Pak Wasis ini --tetangga Mbah Hudi-- baru ditarik dari Yogyakarta karena kakak perempuannya tak tahan dengan ulah Indah. Menurut Pak Wasis, saat di Yogya Indah selalu bergaul dengan pemuda-pemuda mabuk, bahkan --tambah Pak Wasis-- Indah pernah melompat jendela hanya karena ingin mendatangi pesta sabu di salah satu rumah kost temannya. Maling dan Ustadz, Imron Supriyadi