ceritanetsitus karya tulis, edisi 178 senin 090713

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

komentar Rumah, rumah, janjimu, janjimu
Presiden Hayat
www.presiden-hayat.blogspot.com

"Sudah lama menjadi pemakan mie instan, nabung bertahun-tahun tapi rumah sederhanapun belum terbeli jua!"   gerundelan temanku nyaris tak terdengar bak kalah bersaing dengan jeritan orgasme minyak goreng dalam wajan super panas ketika bawang merah kumasukkan dan bulir-bulir air yang masih membasahi bawang sehabis dicuci memang menambah kencang dan heboh teriakannya, seperti rentetan bunyi petasan cabe rawit, dan dia bertanya: "Mas Hayat sudah ambil rumah dimana?" namun aku tidak terlalu jelas mendengar karena roh Rudi Choerudin sedang membuatku in trance memasak dengan menyiapkan bawang goreng extra dan tempe mendoan untuk menemani mie instan yang sudah selesai kuseduh sebagai menu brunch ku, sementara sekaleng krupuk dan segelas susu juga sudah duduk manis menunggu di meja, jadi aku tanya dia: "mau masak mie juga?" sambil pandangan mataku membelok ke tangan kiri temanku  yang memegang sebungkus mie instan serta dan sebutir telor berkulit coklat dan suara seduhan mie yang melemah membuat aku bisa mendengarnya jelas: "hujan besar mas! lapar" dengan tangan kanannya menepuk-menepuk perut semi six packnya, yang kusebut semi karena rata tidak, gendut juga jauh, yang kayaknya jelas bukan sebagai hasil latihan bench crunch tapi kurang gizi kayaknya juga bukan jadi kulepas saja di dalam hati; huh... mendeskripsikan sesuatu ternyata tidak mudah ya sehingga kukembalikan energiku ke otak bagian kiri:  "rumah.rumah. kamu tadi bilang apa ya?" untuk mencoba mengkonfirmasikan kebenaran pertanyaannya tapi dia malah mengajak: "itu mas, ada pameran perumahan, gimana kalau nanti sore ke JCC yuk!" dan masih tetap sibuk dengan titik-titik akhir persiapan mie maka kuanggukkan kepalaku: "bakda ashar aja" sambil menunjuk panci yang kusisihkan di tatakan panci kompor gas sebelah kanan sementara temanku melanjutkan bicara: "air panas bekas masak mie nya jangan dibuang ya mas, aku mau masak mie juga biar cepat matang" sedang otak kananku kembali lagi berkuasa membayangkan nikmatnya mie panaku, hmmmm tapi kujawab juga dia: "ok, aku tunggu di ruang makan ya" sambil membawa 'hasil panenanku' ke meja makan.
*** 

Pagi baru saja datang ketika melihat brosur-brosur dari pengembang perumahan dan apartemen yang berdesakan di salah satu tas dan ingatanku memutar lagi percakapan di kos-kosan yang terjadi beberapa tahun yang lalu itu karena sejak SMA aku memang sudah indekos dan waktu jadi mahasiswa juga memondok, demikian juga saat sudah bekerja walau tentu saja dengan alasan yang berbeda-beda berhubung ketika di SMA, aku harus indekos di jantung kota kabupaten sedang indekos ketika sudah bekerja di Jakarta bukan berarti aku kecanduan indekos, tapi, eits... alasanku dan masalah indekos tentu tidaklah penting karena yang lebih penting adalah apakah 'pemerintah benar-benar memperjuangkan perumahan buat rakyatnya?' berhubung di Jakarta dan sekitarnya, apartemen dan perumahan berkembang biak lebih dari 70,000 ribu unit setiap tahunnya dan masih saja setiap tahun terus tumbuh namun 'siapakah yang menikmatinya?' dan jelas bukan buruh ataupun pegawai bergaji kecil walaupun ketika pidato berapi-api di panggung kampanye memekik, kalau terpilih jadi pengelola negara atau wakil rakyat akan berjuang mensejahterakan rakyat dan pastilah mensejahterakan rakyat salah satunya tentunya menyediakan perumahan murah buat rakyat walaupun ketika kutanya orang-orang kebanyakan atau pegawai-pegawai biasa, maka jawabnya selalu belum mampu bayar muka atau bank tidak meloloskan kredit KPR atau KPA nya dan wajarlah kalau banyak orang selalu mengulang pertanyaan: 'jadi selama ini mereka memperjuangkan rakyat yang mana?' yang bisa saja dijawab dengan Republik Rakyat Cina atau Rakyat Jepang dan bisa jadi Rakyat Amerika tapi intinya apartemen dan rumah yang bagus-bagu bukan buat rakyat melainkan buat 'tuanku orang-orang asing dan orang-orang kaya biarpun rakyat tidak peduli apakah kau mau pakai sistem ekonomi pancasila, neolib, kerakyatan atau sistem ekonomi setang belang karena yang diinginkan rakyat adalah kau bersungguh memperjuangkan kepentinganya, bukannya kalau terpilih malah melacur dan menjadi antek orang-orang kaya yang rakus dan super egois.

Di luar, saat ini hujan juga menggerompok Jakarta.

Pagi menggerigis dan tidak berdaya.

Entah, kemana anak-anak jalanan akan berteduh. 
***

Katamu
Ganjar Sudibyo

Di Sini
Dewi Penyair

Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

ceritanet©listonpsiregar2000