ceritanetsitus karya tulis, edisi 178 senin 090713

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

novel Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

Kali pertama seorang wali menyerahkan seorang gadis kepadaku; bukan untuk dinikahi tetapi untuk diajari mengaji. Puspita Indah Sari, begitu nama gadis itu, namun orang memanggilnya Indah. Putri dari Pak Wasis ini --tetangga Mbah Hudi-- baru ditarik dari Yogyakarta karena kakak perempuannya tak tahan dengan ulah Indah. Menurut Pak Wasis, saat di Yogya Indah selalu bergaul dengan pemuda-pemuda mabuk, bahkan --tambah Pak Wasis-- Indah pernah melompat jendela hanya karena ingin mendatangi pesta sabu di salah satu rumah kost temannya. Kakak perempuannya sudah tak tahan lagi dan Indah dipulangkan ke Metro; kembali kepada orang tuanya.

Aku tak sepenuhnya percaya begitu saja pada cerita itu. Kalaupun benar, pasti ada persoalan yang memaksa Indah harus melakukan itu; tak ada asap kalau tidak ada api. Ketika Indah mulai belajar ngaji, di tidak menceritakan tentang itu dan sendiri belum mencoba menggali tentang siapa Indah sebenarnya walau jelas ada keinginan membuktikan kebenaran cerita Pak Wasis. Yang aneh , menurutku, kenapa Pak Wasis  sebagai ayahnya seketika membuka aib anaknya sendiri padaku padahal aku bukan siapa-siapa mereka. Yang diketahui Pak Wasis cuma aku adalah cucu Mbah Hudi yang kesehariannya mengajar mengaji di masjid dan pagi harinya aku sekolah di Al-Mizan. Itu saja. Lain tidak. Tapi bisa jadi Pak Wasis memang ingin memberi pengantar tentang tugas --dan mungkin sekaligus harapan-- yang akan kuemban.

Praktisnya memang aku anggap saja sebagai amanat berat yang sebelumnya belum pernah aku emban. Jangankan meluruskan moral orang lain, komitmen terhadap diri sendiri untuk menjadi orang baik saja masih dalam proses latihan. Apalagi harus mengajari orang lain yang seumur.

”Kalau sebatas mengajari mengaji, Insya Allah. Tetapi kalau lebih dari itu, mungkin saya sarankan Pak Wasis ke Mbah Hudi saja, supaya lebih afdlol,” pintaku saat Pak Wasis menyerahkan Indah secara ’bulat-bulat’ padaku.
”Saya percaya pada Dik Alif. Sebab, secara umur hanya selisih dua tahun. Jadi anggap saja, Indah ini adik yang sedang memerlukan bimbingan seorang kakak, terutama pendidikan agama,” Pak Wasis seakan memposisikan aku sebagai maha guru yang bisa menyulap keburukan seketika menjadi kebaikan.

Dengan dasar niat baik, kucoba untuk memenuhi amanat ini. Ilmu agama yang kupunya --walau baru sebatas kulit-- bisa aku manfaatkan semaksimal mungking bagi orang lain. Sebab kata Rasul; sebaik-baik manusia adalah, manusia yang bermanfaat bagi orang lain. (al-hadits).  

Setelah Pak Wasis pergi, aku merasa sedikit kagok. Indah duduk menatap hening lantai.

”Sebelumnya pernah mengaji?”
Indah hanya menggeleng. Aku sodorkan buku iqra satu. Kubuka lembar pertama.
”Bisa membaca ini,” kutunjuk huruf alif yang berharkat fathah.
Juga menggeleng.

Aku kemudian menutup buku iqra. Malam itu aku tidak berhasil mengajaknya bicara; hanya mengangguk dan menggeleng.

Sekitar 15 menit mengangguk dan menggeleng, kuberi buku iqra dan kutinggal dia. Aku mengaji dengan yang lain dan kulirik dengan ekor mataku, dia tetap tak bergerak menatap kosong lantai di depannya. Buku iqra tak disentuhnya.

Aku makin penasaran. Pasti ada sesuatu yang pernah terjadi.

Keesokan harinya dia datang lagi --jelas disuruh Pak Wasis-- dan dia kembali menyendiri seperti membuat tembok kaca di sekelilingnya biarpun ada sebagian diantara mruid ngaji adalah teman masa kecilnya sebelum dikirim sekolah ke Yogyakarta. Gelagat aneh Indah ini sedikit banyak menyita waktu khusus sementara aku harus mengajari sekitar 30-an anak dari berbagai usia. Aku akan merasa lega jika kebetulan Mbah Hudi sedang bugar dan berkenan ikut mengajar mengaji. Paling-paling aku hanya kebagian 10 orang, sisanya mengaji dengan Mbah Hudi. Tapi belakangan, Mbah Hudi sepertinya sudah menyerahkan penuh kepadaku.

”Mohon maaf, kalau saya boleh tahu. Apakah Indah memang sejak dulu gadis pendiam?” tanyaku pada Pak Wasis sat berkunjung khusus ke rumahnya membahas Indah.
”Sebelum ke Yogya, Indah termasuk anak yang ceria. Bahkan dalam acara tertentu, seperti peringatan 17 Agustus atau kalau ada perlombaan baca puisi dan menari, Indah selalu mendapat juara. Kadang juara satu. Kadang juara dua. Tapi entahlah, sepulang dari Yogya kok lebih banyak mengurung di kamar,” aku Pak Wasis sambil menunjukkan beberapa foto Indah yang berpose dengan menenteng piala.

Dari pembicaraan dengan Pak Wasis aku menduga sikap dingin Indah sebagai bentuk protes atas sikap keluarga Pak Wasis  yang terlalu protektif. Mungkin karena mendapat kabar negatif tentang Indah di Yogya, Pak Wasis dan keluarga kemudian memilih ‘mengekang’ dari pada memberi kebebasan untuk berpikir pada hal-hal positif. Selain mengaji ke masjid, Indah praktis tidak boleh keluar. Sekolahpun diantar dan dijemput. Ruang geraknya benar-benar terbatasi. Tindakan Pak Wasis terhadap Indah, menurutku, justru sangat membahayakan pertumbuhan dan perkembangan jiwanya. Sebab bisa menjadi bom waktu yang setiap saat bisa meledak.

Bagiku ini adalah pekerjaan berat. Indah memang bukan siapa-siapa, cuma tetangga Mbah Hudi. Tetapi mendengar kisahnya dan menyaksikan kebisuannya, aku seperti tertantang. Indah bukan lagi sekedar amanah yang harus kupegang tapi juga seperti menjadi tantangan bagi ego; aku pasti bisa mencairkan kebisuannya. Dan aku yakin akan bisa.

Hari Minggu pekan depan ada acara lomba baca puisi di Al-Mizan, dan aku merencanakannya sebagai pintu masuk untuk berkomunikasi dengan Indah, jadi bukan hanya anggukan dan gelengan saja. Aku minta ijin pada Pak Wasis agar Indah bisa ikut serta dalam lomba itu. Harapanku, Indah secara perlahan akan kembali menemukan jati dririnya yang hilang.

“Tapi mohon maaf Pak, Indah akan pulang agak terlambat. Selain itu Indah tidak usah dikawal sebagaimana biasa. Insya allah, saya akan menjaganya,” aku mohon izin pada Pak Wasis.

Pak Wasis setuju walaupun ada kegundahan dan kekhawatiran dari sorot mata Pak Wasis, seolah-olah anak bungsunya akan dimakan serigala liar. Aku paham karena seiman-iman pemuda seusiaku bisa saja tiba-tiba berubah menjadi singa yang kehausan dan kelaparan yang menerkam siaoa saja.

“Sejak berangkat sampai pulang, saya akan kawal Indah,” kataku meyakinkan.
***

Katamu
Ganjar Sudibyo

Rumah, rumah, janjimu, janjimu
Presiden Hayat

Di Sini
Dewi Penyair

ceritanet©listonpsiregar2000