Memutuskan pilihan presiden bisa amat cepat; masuk ke bilik suara dan keputusan pada detik itu juga. Pasti ada, entah mencontreng satu calon, semua calon atau tidak mencontreng satupun. Itu keputusan politik resmi. Yang lain sekedar mengikuti garis partai. Massa PDI-P milih Mega, pendukung Partai Demokrat ke SBY dan orang Golkar nyontreng JK.
Bagi yang tak mau ikut garis partai dan juga bukan anggota partai apapun tapi ingin punya pilihan mantab sebelum tiba di bilik suara, maka pertimbangan bisa amat rumit. Banyak sekali faktor yang harus dipertimbangkan, karena sebenarnya sekedar memilih manusia biasa; ada otak, ada hati, tak bisa menahan jalannya waktu, juga tak punya jari sakti yang menyentuh semua barang jadi emas. Manusia biasa!
Cuma manusia biasa yang satu dengan manusia biasa yang lain itu jelas berbeda sehingga yang satu menang dan jadi presiden yang lain kalah dan jadi tukang komentar. Kenapa?
Waktu pemilihan presiden Amerika Serikat –yang diikuti seluruh dunia. semboyan change –perubahan— sepertinya menjadi kunci kemenangan Barack Obama. Orang Amerika yakin Obama akan membawa perubahan, entah sekedar perubahan citra Amerika di dunia atau perubahan kebijakan. Perubahan.
Rakyat Amerika, saat memilih Obama, agaknya ingin menyatakan tutup pintu pada rasialisme masa lalu. Amerika abad 21 adalah Amerika yang tak perduli warna kulit dan etnis. Suku, agama, dan ras, bukan soal lagi bagi seorang pemimpin.
Seandainya 2 faktor kemenangan Obama –mengingat dia menjadi idola orang Indonesia karena pernah sekolah di Menteng, Jakarta Pusat— dimasukkan ke pemilihan presiden Indonesia Tanggal 8 Juli, yang bisa menang adalah Jusuf Kalla. Dia cuma wakil presiden alias ban serep, apalagi dilaporkan sering berbeda pendapat dengan Presiden Susilo Bambang Yudhyono. Sedangkan Mega pernah wakil presiden juga pernah presiden. JK adalah perubahan --yang relatif dibandingkan 2 yang lain.
Dari segi sara, JK juga menang karena terpilih sebagai presiden non Jawa pertama -- B.J, Habibie bukan dipilih tapi cuma otomatis naik pangkat dari wapres dan begitu ada kesempatan langsung disingkirkan. JK bisa menjadi pernyataan bangsa Indonesia bahwa sara itu tinggal sejarah.
Soalnya apakah memang rakyat Indonesia perlu perubahan? George W. Bush menang 2 putaran karena dalam pemilihan 2004 orang Amerika justru mengharapkan ‘status quo.’ Sedang soal sara, Amerika perlu waktu 233 tahun merdeka sedang Indonesia baru 64 tahun. Jadi dengan status quo dan masih perlunya sara yang unggul adalah Susilo Bambang Yudhono, disusul Mega (karena menjabat presidennya sudah lebih dari 5 tahun lalu dan ada darah Bali)
Jadi 1 untuk JK, 1 untuk SBY dan Mega masih 0.
Jelas bukan change dan sara saja yang jadi pertimbangan memilih pemimpin negara. Di negara-negara Barat soal pribadi dianggap tak ada kaitan dengan kemampuan memimpin. Ada Perdana Menteri Inggris Winston Chuchill yang terkenal kerap minum brandy, dan agak berlebihan, lantas Presiden John F. Kennedy punya segudang cewek ‘hit and run’ sedang Presiden Bill Clinton melakukan oral seks di kantornya. Kegemaran pribadi yang tidak relevan dengan kemampuan memimpin tak perlu diributkan.
Di Indonesia kasusnya pernah hampir sama. Presiden Soekarno punya 5 istri resmi dan sejumlah pacar. Jelas bukan gelimang prempuan itu yang bikin dia jatuh. Tapi Tahun 2004, SBY sempat kena goyangan kabar burung kalau dia sudah menikah dan punya anak ketika masih taruna di Akabri. Isu itu ditanggapi serius dengan rencana gugatan hukum dari Partai Demokrat, namun tiba-tiba hilang dan SBY terpilih jadi presiden. Presiden Abdurahman Wahid juga penah harus bekerja keras menanggapi tuduhan berhubungan intim dengan seorang perempuan selain istrinya.
Di Indonesia kehidupan pribadi tampaknya masih ada pengaruhnya, walau tak besar. Dan JK yang kembali dapat angka karena sejauh ini tak ada badai isu perempuan atau laki-laki. Sedang Mega --setelah suami pertama wafat dalam kecelakaan pesawat-- dilaporkan pernah menikah dengan seorang diplomat Mesir namun perkawinan itu belakangan dibatalkan.
Maka angka sementara JK 2, SBY 1 dan Mega tetap 0.
Setelah faktor-faktor sosial pribadi di atas, saatnya mengukur kemampuan memimpin. SBY dan Mega jelas di atas JK –pengusaha sukses tapi jelas kalau mengurus negara beda urusannya. Tapi pengalaman di bidang politik tidak menjamin. John McCain adalah senator kawakan, Hillary Clinton –walau tak sesenior McCain— sudah 3 tahun lebih dulu masuk Senat Amerika Serikat dibanding Obama. Akhirnya yang paling tidak berpengalaman yang menang.
Itu di Amerika Serikat sedang di Indonesia kemampuan memimpin lembaga formal penting –Soeharto salah satu buktinya; 32 tahun! Hanya Abdurahman Wahid saja presiden terpilih yang tidak punya pengalaman di pemerintahan; Soekarno ya –sebagai pemimpin cikal bakal pemerintah— Soeharto ya, dan SBY ya. Jadi JK harus minggir di bagian ini.
Dan SBY yang unggul karena Mega sebenarnya tak pernah terpilih tapi terangkat setelah Gus Dur dijungkal. Selain itu PDI-P pimpinan Mega pecah belah menjadi beberapa partai, sedang Partai Demokrat SBY justru merangkul segala jenis orang (ada akademisi, tentara, pengacara, maupun wartawan). Perolehan suara Partai Demokrat di parlemen juga meningkat, antara lain karena sosoo kepemimpinan SBY –selain dugaan karena tingginya jumlah orang yang tidak bisa milih.
Dengan demikian JK dan SBY bersaing 2-2.
Sekarang yang paling penting; kebijakan pembangunan. Dan karena sejak Tahun 1998, sepertinya ekonomi yang menjadi masalah terpenting di Indonesia. Ada perdebatan ekonomi liberal dan ekonomi kerakyatan antara kubu SBY dan Mega. SBY sudah berulang kali membantah tuduhan itu dan malah yakin kebijakan ekonominya selama 5 tahun memproteksi ekomomi lemah. Tapi tetap saja para pengamat –dan saingan SBY—yakin bahwa ekonomi Indonesia semakin terbuka bagi investasi asing.
Selain itu hutang Indonesia juga mencapai jumlah tertinggi pada saat pemerintahan SBY. Dan ketika Menteri Keuangan-nya menjelaskan matematika hutang itu dengan kesimpulan tidak perlu dikuatirkan, orang menuding bukan hitungan hutang yang jadi masalah tapi persyaratan hutang itu yang umumnya meminta liberalisasi perekonomian.
Sedang ekonomi kerakyatan adalah cita-cita Bung Karno, kata Mega, yaitu sistem perekonomian yang mementingkan rakyat kecil yang bisa membuat bangsa Indonesia berdiri di atas kaki sendiri. Bagaimana caranya tidak terlalu jelas, buktinya juga tidak tampak karena sebagian orang masih ingat kebijakan penjualan BUMN di jaman pemerintahan Mega.
JK pernah mengatakan akan menempuh kebijakan affirmative untuk usaha skala mikro dan kecil, tapi itu baru sekedar janji saja. Tak lama setelah Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad terpilih kembali –dan diikuti unjuk rasa—JK memuji kebijaakan perekonomian Presiden Iran itu. Menurut JK, Ahmadinejad telah berusaha berusaha membangun perekonomian negara melalui kekuatan sendiri –sekitar 70% pendatapan pemerintah Iran berasal dari minyak dan gas.
Namun sebagai seorang pengusaha –dengan prinsip dasar ongkos sekecil mungkin dan untung sebesar mungkin— JK yang disebut memutuskan impor beras karena harga yang lebih lebih murah. JK juga pernah mengatakan tak keberatan dengan ekonomi liberal asal fair.
Beberapa survey menyebutkan pemilih Indonesia menganggap kebijakan ekonomi sebagai faktor terpenting dalam memilih presiden. Cuma maunya pengusaha Jakarta –apalagi yang menyumbang dana ke salah seorang atau ketiga calon presiden--- tentu amat beda dari pendeta di Pulau Lembata, guru ngaji di Kendal, atau pensiunan TNI di Malinau.
Tidak ada nilai untuk ketiga calon.
Artinya Mega 0, SBY 2, JK 2
Akhirnya, ketampanan atau kecantikan juga berperan dalam menentukan pilihan pemimpin. Tahun 2004 George Bush menang karena diperkirakan ada dampak negative dari dagu John Kerry yang agak diluar proporsi. Di Inggris Tahun 1997 Tony Blair –yang banyak jual senyum-- dengan mudah mengalahkan William Hague, yang jarang rambutnya.
Ketampanan SBY dan JK bisa diperdebatkan, tapi Mega sekali waktu mengatakan kepada massanya supaya memilih calon presiden yang cantik. Dan hanya ada seorang calon perempuan yang cantik, katanya.
Maka hasil akhirnya Mega 1, SBY 2, dan JK 2.
***
Tentang madu, kumbang, dan bunga yang hanyut
Bambang Saswanda
Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi