ceritanetsitus karya tulis, edisi 177 jumat 090626

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

novel Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

Pagi telah lepas dan aku seperti biasa berkumpul dengan anak-anak Genesiss; ngobrol tentang apa saja. Tak sekalipun anak-anak Genesiss menyinggung kehidupanku di rumah Pak Win. Isen-iseng, pernah juga sekali dua kali keinginan untuk berkunjung ke rumah Pak Win dan nginap tapi selalu kutolak; aku yang datang ke mereka.

”Lif, ada kabar dari Mbah. Katanya Mbah Hudi sudah mulai sakit-sakitan. Katanya usahakan kamu bisa pulang barang sebentar,” Sukijan menyampaikan pesan dari keluarga di Ganjar Agung. Sebagai tukang becak, dia sering melewati Desa Ganjar Agung, Dan Sukijan bukanlah orang asing dalam keluargaku karena sekali-sekali dia pernah menginap di rumahku. Jadi kalau ada kabar dari Ganjar Agung, siapapun yakin Sukijan akan menyampaikannya.

Aku langsung bergegas dan lega melihat rumah Mbah Hudi seperti biasa; tak ada keramaian. Setengah berlari aku masuk ke kamarnya; dia sedang menatap kosong ke langit-langit kamarnya dan tersentak melihatku.  

Peluk cium Mbah Hudi tak henti-henti.Mbah Hudi yang selama ini hanya bisa terbaring seketika bisa setengah bangun dan memelukku erat. Beberapa orang di dalam kamar tercengang melihat kami berdua.
 
”Alhamdulillahirobbil ’alamiin. Akhirnya kau datang juga Lif. Jangan pergi lagi Lif. Anak-anak mengaji di masjid masih menunggumu. Mbah sudah tidak sanggup kalau tiap malam harus seperti dulu.”

Tak bisa kutahan air mata. Setetes embun yang sedari tadi sudah berkubang di pelupuk mata terjatuh ke pipi atasku. Tak banyak kata yang kuucapkan, hanya isak tangis yang tertahan. Ada perasaan berdosa yang seketika menelusup dalam bilik jantungku karena meninggalkan Mbah Hudi yang sebenarnya sudah kuanggap sebagai orang tuaku sendiri. Aku juga merasa telah menyelewengkan amanat ayah agar tetap tinggal di rumah Mbah Hudi.

Kondisi yang memaksaku harus pergi, tapi tetap saja rasa bersalah menyelinap. Dan kini aku dihadapkan pada 2 pilihan yang sama-sama penting. Melihat kondisi kesehatan Mbah Hudi seperti sekarang, aku sepertinya harus kembali ke Desa Ganjar Agung. Paling tidakaku bisa kembali membantu bahkan menggantikan Mbah Hudi untuk mengajar mengaji.
Tetapi, gelak tawa, tangisan, rengekkan Fani dan Ferdi langsung membayang. Keduanya akan menyimpan kerinduan jika tiba-tiba saja aku menghilang tanpa bekas. Siapa yang mesti kupilih? Mbah Hudi atau Fani dan Ferdi.

”Sekarang, kemasi barang-barangmu. Dan mulai hari ini kembalilah ke rumah ini sebagaimana dulu,” ujar Mbah Maryuni memohon. ”Ini demi kesehatan Mbahmu Lif,” tambahnya sambil menyeka air matanya yang mengembun.
 
Jelas aku tidak mungkin secepat itu meninggalkan keluarga Pak Win dan langsung masuk kembali ke rumkah Mbah Hudi. Fani dan Ferdi sudah melekat dihatiku dan jelas tak mungkin membawa mereka berdua ke rumah Mbah Hudi. Selain akan menambah beban, juga belum pasti Pak Win mengijinkannya walaupun aku yakin suasana di rumah Mbah Hudi akan lebih baik buat Fani dan Ferdi. Terlepas dari hubungan Pak Win dan istrinya, mustahil mereka mau melepas kedua anaknya.

Sepertinya aku harus kehilangan Fani dan Ferdi. Membayangkannya saja aku sudah setengah menderita. Tapi paling tidak Pak Win dan aku sepakat untuk tetap datang ke rumhanya dua kali dalam semingggu untuk mengajar ngaji.

Di Desa Ganjar Agung aku kembali seperti sebelumnya; mengajar mengaji. Aku juga kembali bertemu dengan kelompok yang biasanya mabuk di gardu. Bukan tidak mungkin jika mereka masih menyimpan dendam terhadapku. Tapi kalau sampai terjadi bentrok, mungkin akibatnya akan lebih parah karena anak-anak Genesiss sudah mengetahui siapa menjebloskanku ke penjara.

Malam Minggu pertama aku lihat gardu itu sepi, dan malah ada lampu yang terang, bukan lampu remang-remang. Ssapapun di gardu itu akan langsung terlihat wajahnya. Terasa amat berbeda. Anak-anak muda yang biasa mabuk di gardu seperti lenyap di telan bumi. Dua pekan kemudian baru aku tahu kalau  Sintong dan komplotannya sedang menjadi buronan polisi karena masuk dalam jaringan pengedar ganja dan putaw.

Dua bulan sudah aku menjalani aktifitas rutin, namun Sintong maupun salah seorang komplotan tak juga menunjukkan batang hidungnya. Kenapa seketika aku ingin bertemu mereka? Kerinduankah? Dendamkah? Aku tak tahu tapi ingin bertemu mereka.
***

Satu, Dua, Dua
Liston P. Siregar

Tentang madu, kumbang, dan bunga yang hanyut
Bambang Saswanda

ceritanet©listonpsiregar2000