Tentang madu, kumbang, dan bunga yang hanyut
Bambang Saswanda
1
Dalam dendam luka bibir bunga, ditingkah gemulai kepak sayap sayap yang teralun rindu, aku kelu, merafal mantra birahi yang singkap. Oh yang setaman, didihkan wangimu, sampai kita saling memuji digemetar waktu berikutnya, hingga aku khidmat mengeja bahwa yang ditunduk jemari daun itu adalah bungaku yang hijrah dimusim semi, lamunku sungguh..
2
Dan pun kini kau tiba, lekas beringsut dari deru-deru kota pagi ini, beserta geletar kelopak sayapmu, menindih aku berpeluh resah, mengajak maduku menari mendebur awan, lalu kau kan kuhujani kau dengan derasnya laksana batu batu yang terlumuti. atau lebih baik. Kutunggu saja kau di pintu taman, mengarak barisan gairahmu. Tapi.... akh, sebab musabab tiba-tiba kubenci, semula kutenang, lalu maduku asin, hanyut kelaut, kusut, lebih baik senggamahi aku di pantai mana kan terdampar.
3
Ini tipu detik yang menelikung tepi tepi kelopakku, mengandung ribuan lelucon tentang asmara dan pertemuan, dalam kelaskelas angin di bibir semenanjung ini, kau dendangkan saja lonceng seribu tangisan pada hanyutku, niscaya akan lumpuh debur laut ini, menepikan ku segera. Tentang madu ini, sungguh, masih terjaga atas muslihat benci yang berdentum dalam bibir ajalku. Lebih untukmu, kusisakan manisan ratu, setelah ini kau setebuhi, jangan kau bermimpi menziarahi kuburku sepatahpun: ingat, gugurku saja tak bertabur kemboja.
medan/juni 2009
sajak Tadarus Kesunyian
Bambang Saswanda
Tadarus kesunyian khusuk pada musim-musim yang tak henti berputar
bayang-banyang pun entah, berlari dari satu padang kepadang lain
membaca apa saja yang lekat dalam sadar
mengilhami alam lain yang di luar tubuh
satu kalimat sahaja
membangunkan detak jantung yang bernyanyi bisu
sujud semesta pada satu yang ada dan tiada
sunnah dan fardhu seirama berlaku satu
ya Tuhanku
tadarus kesunyianmu begitu perkasa mempersatukan langit-langitMu beserta mega cahaya
hitam dimataku terang bagiMu
alam yang bergandengan, akur menuju satu sajadah sujud yang searah
dengung dan ngiang meremuk redamkan tulang
dari tak bersuara lalu menggema hadir dalam barisan ibadah
dentum mendentum seluruh jagad raya yang terbentang
dalam sunyi, dzikir sahut bersambut padaMu berserah
medan, juni 2009
Satu, Dua, Dua
Liston P. Siregar
Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi