ceritanetsitus karya tulis, edisi 176 kamis 090604

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

novel Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

Bu Siska dan Dimas tak lagi terlihat di dalam ruang tamu. Apa mungkin mereka masuk ke kamar utama?

Tidak tahu persis apa yang telah terjadi di dalam kamar itu, Dimas pulang dari rumah sebelum Bi Siti datang menjelang subuh. Sementara Bu Siska bangun sudah pukul 7, saat aku hendak berangkat ke sekolah

”Gimana perkembangan Fani dan Ferdi?” tanya Bu Siska saat sarapan bersama.

Pertanyaan aneh dari seorang ibu; seharusnya ibu dan ayah yang lebih tahu tentang perkembangan putra-putrinya.

”E, maksud Ibu perkembangan mengajinya,” dia meluruskan pertanyaannya seperti membaca benakku.
”Fani sudah lumayan. Dia sudah menyelesaikan Iqra empat. Kalau Ferdi baru mulai Iqra satu,” jawabku seadanya.

Bu Siska manggut-manggut. Tak jelas anggukan Bu Siska pagi itu, antara mengerti dan tidak mengerti. Sebab seperti cerita Pak Win, Bu Siska tidak bisa mengaji. Jadi sangat mungkin dia tidak mengerti istilah 'iqra' yang aku sebut.

”Hei! Kenapa melamun?!” Kholis tiba-tiba sudah berada di belakangku. Aku baru sadar kalau hari itu anak-anak Genesiss sudah masuk sekolah kembali.
”Enak tinggal di rumah Pak Win?” selidik Kholis.

Aku tak mungkin membuka rahasia keluarga Pak Win, karena sudah menjadi bagian keluarga Pak Win dan Bu Siska. Keburukan keluarga mereka adalah ’aurat’ yang harus aku tutupi. Dan, aurat --bagiku-- bukan hanya sebatas pusat sampai ke lutut bagi laki-laki, dan sekujur tubuh wanita kecuali muka dan tangan. Llebih dari itu, penilaian burukku terhadap keluarga Pak Win dan Bu Siska juga bagian dari aurat yang harus aku tutupi lewat upaya yang terus menerus membangkitkan prasangka baik terhadap keduanya. Toh, sebrengseknya keluarga Pak Win, mereka masih punya keinginan agar kedua anaknya menjadi anak yang saleh; mereka masih menyuruhku mengajar Fani dan Ferdi untuk belajar shalat dan mengaji.

Malam berikutnya, selain membawa Dimas, Bu Siska mengajak sepasang laki-laki dan perempuan. Aku tak tahu status mereka berdua. tapi dari oborlannya mereka adalah  pasangan selingkuh.

”Sis, kapan suamimu pulang?” tanya perempuan itu sambil menghembuskan asap rokok dari bibirnya.
”Mau seminggu lagi, mau satu bulan lagi, terserah. Semakin panjang dia pergi, sSemakin enjoy kita,” ujar Bu Siska, disambut tawa mereka. Keras tapi tederngar dibuat-buat.
”Kalau suami gua sih masih 3 bulan. Jadi ya aku masih bisa keluar masuk rumah semaunya dengan Mas Hardi,” ujar perempuan itu sembari bersender mesra ke laki-laki di sampingnya.

”Lif! Alif!” suara Bu Siska memanggil. Aku sengaja duduk di ruang tamu di sebelah ruang TV tempat mereka bercengkrama; cukup untuk mereka tidak perdulikan tapi juga cukup untuj mendengar obrolan mereka.

Aku muncul dari balik pintu depan. Perempuan teman Bu Siska menatapku heran.

”Sis, kau pelihara brondong juga ya?” ujar perempuan muda tanpa beban.
”Hus! Jangan sembarangan. Alif ini guru mengaji anakku.” Bu Siska membela dan kontan saja jawaban itu disambut tawa cemooh.
”Hari gini, elu masih mikirin mengaji?” perempuan muda itu kian mencibir.
”Tik, boleh saja kita rusak, tetapi anak-anak jangan ikut rusak.”
”Wah, sejak ada guru ngaji, lu sudah pintar ceramah, Sis.”

Ingin kugosok mulut itu dengan sambal. Kalau saja aku tidak menghormati Pak Win. entah apa akan terjadi apa dengan kedua pasang laki-laki dan perempuan di depanku itu. Mungkinkah aku mengajak anak-anak Genesiss untuk memberi pelajaran pada mereka? Tiba-tiba rasa dendam menggumpal.

”Pintu pagar tolong dikunci. Karena tamu-tamu ini akan menginap disini.”

Aku keluar. Seperti yang diperintahkan Bu Siska. kukunci pintu pagar. Kedua mobil rupanya sudah masuk garasi. Sesaat aku menghela napas. Dadaku terasa penuh melihat Bu Siska dan para tamunya. Ketika aku masuk kembali, mereka sudah tidak ada di ruang tamu. Sudah pasti mereka masuk ke kamar yang sudah mereka atur.

Sesaat aku masuk ke kamar Fani dan Ferdi. Kubenahi selimut yang terbuka dari tubuhnya. Kucium kening mereka mereka dengan kasih sayang. Setitik embun menetes dari mataku. Seandainya aku tidak ada di rumah ini, lantas dengan siapa Fani dan Ferdi bermain. Bi Siti tidak mungkin akan bisa mengantar sekolah; pekerjaannya sudah demikian banyak.

Tapi dengan kondisi seperti ini, aku tidak mungkin akan betah berada disini, tidak mungkin aku terus menerus melihat kemunkaran. Ini dilema karena jika aku pergi dari sini, lantas bagaimana nasib Fani dan Ferdi? Betapa kecewanya Pak Win jika aku mengakhiri kepercayaan ini?

Belakangan aku sadar bukan hanya Bu Siska yang suka membawa laki-laki ke rumah. Pak Win tak berbeda. Sepulang di luar negeri, Reny --kekasih Pak Win sebelum menikah dengan Bu Siska-- yang dibawa menginap ke rumah, biarpun Bu Siska ada di rumah. Bahkan Pak Win tak perduli kedua anaknya sudah tidak atau belum.

”O, jadi rumah ini sudah berubah menjadi rumah bordir ya?” ujar Bu Siska seakan tak pernah melakukan hal yang sama.
”Ini rumahku. Jadi aku berhak melakukan apa saja di rumah ini,” bentak Pak Win sambil menarik Reny masuk ke dalam kamar.

”Kak, siapa perempuan yang bersama papa itu?” tanya Fani membuatku gelagapan. Aku harus mencari alasan.
”O, itu...itu, e. Saudara papa yang ada di Kalimantan."
”Tapi kenapa mesti masuk kamar mama sih kak?”

Aku jadi binggung. ”O, karena..karena ada masalah penting yang harus dibicarakan. Sudah, kita masuk kamar. Ini sudah waktunya tidur,” kutarik mereka ke dalam kamar.

Sementara Bu Siska sudah hilang entah kemana.

Hari-hariku di rumah Pak Win dihinggapi perasaan dosa dan bersalah. Kemunkaran yang terjadi di depan mataku tak juga sanggup aku cegah. Di satu sisi, Fani dan Ferdi  cukup menghibur sekaligus terasa menjadi tanggungjawabku. Tetapi di sisi lain, aku kini terhimpit oleh persoalan di keluarga Pak Win yang sudah jelas-jelas bertentangan dengan hati nuraniku.

Membiarkan kemunkaran yang terjadi di depan mata, sementara aku hanya diam bukankah ini bagian dari kedloliman?
”Apabila melihat kemunkaran diantara kamu, maka tegurlah dengan tangan. Kalau tidak bisa, maka tegurlah dengan lisan. Kalau tidak bisa, maka cukup dengan (membenci) dalam hati. Dan demikianlah selemah-lemah iman.”

Hadits itu kembali melintas di benakku. Kiai Dalhari, pimpinan pondok tempat aku menggali ilmu agama, selalu mengutip hadits ini jika di pesantren ada kejadian yang dinilai melanggar aturan agama.

Dan posisiku rasanya menjadi amat lemah; hanya membenci dalam hati tanpa berbuat, apalagi mencegah secara terbuka. Banyak alasannya, semacam kombinasi perasaan tidak enak, perasaan takut karena yang ditegur adalah orang yang lebih tinggi jabatan atau derajatnya. Aku cuma bisa mikul dhuwur mendem jero.

Menyembunyikan atau bahkan memuji Pak Win dan Bu Siska, dengan macam cara sehingga keburukan mereka bisa tertutupi. Pak Win dan Bu Siska kubiarkan bersembunyi dalam kamuflase? Entahlah?. Aku sama sekali tak punya keberanian untuk berdiri dan memukul kemunkaran itu, biarpun aku pernah memukul Sintong, si preman Desa Ganjar Agung.

Ingin aku berlari dan keluar dari kubangan dosa di rumah Pak Win, tapi tak ada dayaku? Sementara Pak Win terus memberikan percaya padaku untuk selalu mendampingi Fani dan Ferdi. Berbagai perasaan ini kemudian kuadukan pada Sang Khaliq. Ku sebut nama-Nya ratusan kali agar segera mendapat petunjuk-Nya; harus bagaimana aku menyikapi kehidupan di rumah Pak Win.
***

Nganggur
Amir Ramdhani

Kota Yang Sepi
Dinar Emilda

ceritanet©listonpsiregar2000