ceritanetsitus karya tulis, edisi 176 kamis 090604

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

sajak Kota Yang Sepi
Dinar Emilda
www.dinar02liebe.multiply.com

rintik hujan tak menghalangi langkah
menyusuri kota tua tempat kita bertemu dahulu
menyusuri jalan-jalan kau dan aku pernah singgah
kudatangi cafe tempat kau nyatakan kasih
kudatangi lapangan bola tempat kau bercengkerama
kudatangi tempat latihan gitarmu
di mana sering kurasakan getaran mengalun
sambil memandang sosokmu..

hujan rintik-rintik akhirnya reda
tempat itu tak seindah dulu
terasa sepi hambar dan tak bermakna
terasa getir saat duduk di cafe itu
terasa sepi menghampiri tempatmu bermain bola
terasa alunan gitarmu tak terdengar di telingaku
hingga senja semakin dalam

entah mengapa ingin ku berlari pulang
enggan bertemu dirimu
tapi hati kadang meronta ingin mengenang masa indah dulu
ku berdiri menatap langit yang semakin gelap
adakah keceriaan yang dulu masih tersisa di sana?
namun langit pun tak berpihak,
enggan dewi fortuna singgah di kota itu
kalau bisa kuputar kembali,
ingin rasanya ada di sana

20 tahun lalu
bersamamu sambil bersenda gurau
tapi kenyataan ternyata berkata lain
harus kuhadapi kesendirian
mengenang masa-masa indah bersamamu
tanpa bisa kembali ke sana,
dalam kesepian ke dua
March, 2009

Dendam Akan Cinta
dendam ku pada cinta ini
tak bisa kulepas
berharap waktu berpihak
pada insan yang tak berdosa

ingin kukejar cinta ini
tapi ke mana ku lari?
tak pernah terlihat jejaknya
hanya dirasa oleh hati yang putih

tak pernah ingin ku mengelak
namun sakit yang kurasa
mengapa harus padaku terjadi
entah penyakit atau sedang mengandung

namun tak jelas kapan kan berakhir

waktu, tolong katakan
demi hati yang putih bersih
ambil dendamku akan cintanya
agar tak kurasa lagi esok
***

Nganggur
Amir Ramdhani

Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

ceritanet©listonpsiregar2000