ceritanetsitus karya tulis, edisi 175 rabu 090520

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

novel Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

Selama dalam status skors, aku memutuskan tetap tinggal di posko Genesiss. Selain sambil menjadi full timer di posko, aku juga harus tetap membantu di peternakan Kholis. Letak rumah Kholis dan sekolah yang hanya 300 meter, memudahkan aku siap di posko saat anak-anak Genesiss mangkal setiap kali istirahat. Tetapi posko Genesiss juga menjadi tempat untuk bersembunyi kala bolos sekolah.

Pekan kedua, masa skors pertamaku habis. Aku kembali ke sekolah, mestinya, dan aku masih merasakan sesuatu yang hilang di saat tidak menyaksikan anak-anak Genesiss yang suka bikin ’ulah' justu membuat suasana sekolah agak segar. Tapi aku harus menunggu satu pekan lagi untuk berkumpul dengan anak-anak Genesiss di sekolah karena skors akibat insiden perkemahan masih harus dijalani satu pekan lagi.

Belum genap dua pekan aku tinggal di posko Genesiss. Aku dikenalkan Kholis pada Pak Win—seorang pengusaha muda yang baru pindah dari Samarinda. Umurnya baru 34 tahun. istrinya bernama Siska --wanita muda asal Kuningan Bandung. Pasangan ini mempunyai 2 anak. Yang pertama Fania Putri Kencana, biasa dipanggil Fani. Saat aku kenal dengan keluarga itu, Fani masih berumur 10 tahun kurang 12 hari. Anak kedua Pak Win laki-laki berumur 5 tahun; Ferdinan yang dipanggil Ferdi.

”Saya minta tolong, kalau bisa Dik Alif mengajari mengaji anak-anak saya. Sebab, terus terang saja saya ini sibuk. Isteri saya juga tidak bisa mengaji. Jadi kalau Dik Alif bersedia, selain mengajar sekaligus tinggal bersama kami.”

Tawaran ini mengembalikan ingatanku pada kegiatan rutin di Desa Ganjar Agung dulu. Bedanya, kali ini aku harus menjadi guru ngaji privat bagi anak-anak Pak Win.

”Gimana Dik?” desak Pak Win.
”Ambil aja Lif! Elu kan pinter ngaji,” Kholis ikut mendorong.

Satu hari setelah pertemuan dengan Pak Win aku memutuskan untuk menerima tawaran itu. Bukan hanya sekedar mengajar mengaji, tetapi aku tinggal bersama mereka. Sementara pekerjaan di rumah Kholis, hanya bisa kulakukan sesekali saja. Di rumah Pak Win, aku juga harus ikut membantu bersih-bersih rumah: menyapu, membersihkan kaca jendela dan lainnya.

Memang Pak Win tak pernah menyuruh, tetapi di rumah Pak Win aku harus tahu diri. Bagaimana mungkin aku tidak tahu diri, jika di rumah Pak Win aku semuanya gratis. Aku masih ingat kata Mbah Hudi yang sering memberitahuku dengan mensinyalir ayat Al-Quran; Waidza huyyiitum bitahiyyati Fahayyu bi ahsaana minha au rudduhaa (Jika engkau diberi sebuah kehormatan seseorang, maka balaslah kehormatan itu dengan yang sepadan atau lebih).

Pak Win sudah memberi kepercayaan padaku untuk mengajari kedua anakknya mengaji dan tinggal bersama mereka. Bagiku ini sebuah penghormatan yang tak bisa kubalas hanya dengan ucapan terima kasih. Oleh sebab itu, di rumah Pak Win aku benar-benar memberikan yang terbaik.

Selain aku, di rumah Pak Win juga ada Bi Siti, yang setiap pagi bertugas memasak dan mencuci pakaian untuk keluarga Pak Win. Tetapi, karena Bi Siti rumahnya dekat dengan rumah Pak Win, Bi Siti akan pulang setelah meneyelesaikan tugasnya; mencuci dan memasak. Besok, pagi-pagi buta usai Shubuh Bi Siti sudah datang ke rumah Pak Win guna meminta uang belanja pada Bu Siska.

Sudah 2 pekan aku tinggal di rumah Pak Win. Tetapi selama itu pula aku tak pernah melihat suami istri itu bercengkrama di ruang keluarga sebagaimana keluarga pada umumnya. Pak Win hampir setiap hari pulang sudah larut malam. Bu Siska sendiri tak jelas pekerjannya apa. Aku juga tidak mungkin menanyakan hal-hal yang bersifat pribadi. Yang aku tahu, Bu Siska selalu pergi setelah Pak Win pergi ke kentor. Karena masing-masing memilliki mobil sendiri, jadi mereka tak pernah pergi secara bersamaan. Untuk hal itu, aku juga tak berhak bertanya kenapa mereka begitu. Sebab tugasku hanya mengajari mengaji Fani dan Ferdi. Lain tidak. Jadi segala urusan diluar tentang apa yang dilakukan Pak Win dan Bu Siska bukan menjadi hal yang prinsip untuk aku tanyakan. Dalam hati kecilku yang terdalam, hanya ada secercah harapan, agar Fani dan Ferdi bisa mendapat bimbingan agama, sesuai kemampuan yang aku punya.

”Dik Alif, satu pekan ini saya akan ke luar negeri. Jadi tolong jaga Fani dan Ferdi. Besok pagi-pagi sekali saya sudah harus ke Bandara,” kata Pak Win kemudian mengendong Fani dan Ferdi sembari memberitahu mereka kalau ayahnya akan pergi dalam satu minggu.

Fani yang umurnya lebih tua dari Ferdi sempat menanyakan apakah mamanya ikut atau tidak.

”Mama tidak ikut. Jadi kalian akan ditemani Mama, Bi Siti dan Kak Alif,” Pak Win dengan sangat sayang memeluk erat keduanya.
”Papamu itu kan orang yang super sibuk. Jadi waktunya hanya habis untuk pekerjaan,” Bu Siska datang dari arah dapur.

Ia sepertinya mendengar percakapan kami. Ia agak sinis pada Pak Win. Aku tidak tahu kenapa Bu Siska bersikap seperti itu. Tak ada sikap hormat sama sekali pada suaminya.

”Kamu nggak usah singgung pekerjaanku. Urus saja dirimu sendiri,” meninggi.
”Memang apa selama ini aku turut campur dalam pekerjaanmu?! Apa pernah aku minta diurusi sama kamu? Tidak kan?!” suara keduanya sudah makin keras.            

Ini tidak baik bagi Fani dan Ferdi. Cepat-cepat aku mengajak mereka bermain di halaman belakang, sambil memberi makan ikan di akuarium. Pertengkaran mereka sesekali hanya aku dengan samar. Tetapi aku masih bisa mendengarnya.

”Aku sadar, pernikahan kita memang bukan atas dasar suka sama suka. Kamu menikahi aku hanya karena aku sudah lebih dulu hamil. Sehingga aku merasa kalau kamu memang tak pernah cinta dan sayang padaku?!”
”Lalu kenapa kalau memang itu keadaannya?!” Pak Win kian meninggi.
”Dengar ya! Aku menikahi kamu hanya karena aku ingin menyelamatkan nama baik keluargaku.  Bukan karena aku cinta dan sayang padamu!”
”Iya, karena alasan itu sehingga sampai sekarang kamu masih selalu mendatangi Reny mantan kekasihmu dulu, iya kan?!”
”Itu bukan urusanmu!”

Pak Win kemudian melangkah lebar. Bu Siska hanya terduduk di sofa ruang tengah. Sesekali saja aku melirik pada mereka. Aku tidak ingin mereka tahu kalau aku sempat mendengar pertengkaran keduanya.

Malam pertama sepeninggal Pak Win ke luar negeri, Bu Siska pulang agak larut. Padahal biasanya jam sembilan sudah pulang. Atau paling malam jam sepuluh. Kali ini sudah dini hari. Seorang laki-laki muda seumur Pak Win memapah Bu Siska yang sempoyongan. Sesekali terdengar cekikikan keduanya. Bu Siska mabuk berat.

”Dik tolong kunci pintu gerbang,” perintah laki-laki muda, yang belakangan kuketahui namanya Dimas.

Jantungku berdegup kencang. Pikiranku jadi tak karuan. Aku tak mengerti sikap Bu Siska malam itu. Kali saja stres akibat pertengkaran semalam, pikirku. Tetapi apa semua keluarga yang stres akibat cek-cok suami istri harus mencari pelarian dengan melimpahkan emosinya ke laki-laki lain. Entahlah!

Ritual Suci, Gendhotwukir
Kelas Menengah? Gombal, Presiden Hayat
Setan, Dimanakah Malaikat? Rama Yunalis Oktavia

ceritanet©listonpsiregar2000