ceritanetsitus karya tulis, edisi 174 senin 090427

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

novel Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

Sejak Genesiss lahir, aku dan kawan-kawan di sekolah menjadi kelompok yang disegani. Bukan hanya pada keilmuan dan orgaanisasi, tetapi juga dalam aju jotos. Bagaimanapun Genesiss tetap mengusung motto kedamaian, yang tertulis jelas di logo partai berbentuk prisma, yang dibawahnya ada slogan C-5 TA. Deklarasi Genesiss yang resmi menjadi partai, disambut riuh redam oleh para simpatisan, terutama di sekolah. Setiap kali bertemu sesama anggota, aku dan kawan-kawan memperlihatkan salaman khas ala Genesiss. Dari tangan, kaki, pantat sampai colek hidung. Dan terakhir ketika sama-sama mencolek hidung, keduanya berteriak Genesiss. Salaman ala Genesiss ini sempat menjadi trend di Madarsah Aliyah Al-Mizan, walaupun sebagian enggan meneriakan Genesiss.

Memasuki bulan pertama, Genesiss tetap didukung 11 pengurus dengan mayoritas anggota berasal dari putra-putri para pejabat Metro, anak Kapolsek, Kapolres, Danramil, anggota DPRD, camat, dan pengusaha. Mereka berampur dengan anak petani, buruh, ojek, dan pedagang kaki lima. Dengan ragam anggota yang berlatarbelakang berbeda inilah, Genesiss justeru makin dinamis dan tidak elitis. Sukijan, pimpinan Genesiss yang juga kakak kelasku, juga bekerja sebagai penarik becak yang  nyambi sekolah. Dia diangkat sebagai ketua karena jiwa kepemimpinannya memiliki nilai lebih dibanding yang lain.

Dalam beberapa waktu, ada simpatisan tidak langsung yang juga merapat dengan Genesiss. Tetapi secara organisatoris, mereka tidak bersedia duduk sebagai perwakilan di setiap kelas. Mereka hanya mendukung kegiatan yang dilakukan Genesiss, baik di dalam atau di luar sekolah. Karena tak ada proses rekrutmen keanggotaan, maka Genesiss berjalan seperti air. Mengalir saja. Tak ada rapat anggota apalagi rapat pimpinan. Tetapi ada komitmen bersama, bagi anggota yang melanggar kode etik Genesiss, yang menjadi landasan ideologi partai, maka anggota tersebut akan dikeluarkan. Anggota, misalnya, harus meninggalkan minuman keras dan tindakan asusila. Setiap harinya pertemuan hanya kongkow-kongkow di sekolah dan di luar sekolah, membahas tentang persoalan yang berhubngan dengan keluhan siswa atau problem anggota partai. Di dalam sekolah, posko Genesiss adalah kantin Mak Unah, persis di belakang sekolah.

Tidak ada kewajiban absen, tapi aku dan kawan-kawan selalu ’nongkrong di posko, sekalipun hanya beberapa menit.  Dari rutinitas pertemuan kongkow-kongkow inilah, beberapa siswa lain di luar Genesiss juga ikut nimbrung, juga murid sekolah lain. Kehadiran mereka membuat Genesiss banyak mendapat informasi tentang kegiatan sekolah lain, termasuk undangan perkemahan Manunggal ABRI selama 1 minggu, dan Sukijan langsung menanggapinya.

”Kawan-kawan. Sesuai dengan komitmen kita, Genesiss sebagai organisasi non-sekolah juga harus mendukung kegiatan sekolah. Dan kali ini kita mendapat undangan perkemahan di Metro Kibang. Ini menjadi kesempatan kita, keluarga besar Genesiss untuk menunjukkkan kepada sekolah bahwa kita ada bukan untuk kenakalan, tetapi untuk berprestasi.”
”Sebaiknya kita tidak usah membawa nama sekolah. Kita bawa saja nama Genesiss!” Agus menyela.
”Persoalannya bukan apa-apa Gus,” Sukijan menjelaskan, ”Undangan ini ditujukan kepada sekolah. Lagi pula kalau kita bawa nama Genesiss, orang akan bertanya sekolah mana yang menaungi Genesiss. Padahal kita sudah sepakat, Genesiss bukan organisasi yang berada di bawah sekolah, tetapi organisasi luar sekolah.”           

Sore itu akhirnya bersepakat jika undangan perkemahan diserahkan kepada Pak Amri, pembina organisasi siswa di sekolah. Empat andalan Genessis menghadap Kepala Sekolah dan Pak Amri, yaitu Sukijan, Sudirman, Rahmad, dan Dedek. Keempat pentolan Genesiss ini siap berhadapan dengan siapa saja, termasuk urusan tawuran. Sukijan memiliki basis abang becak, sedang Sudirman punya kenalan di kalangan birokrat Metro, Rahmad bisa menjaring preman pasar Metro, dan Dedek adalah Koordinator Tae Kwon Do Wilayah Lampung Tengah. Jadi sekali saja Genesiss terdengar dilukai orang, semua jaringan iutu dapat menjadi bom waktu yang menunggu komando. Bahkan, para preman di Metro tidak segan-segan berbagi ongkos dengan anggota Genesiss yang sedang kehabisan uang.
***  

Pukul 09.00 pagi, 11 anak-anak Genesiss sampai di lokasi perkemahan. Saat itu Genesiss untuk sementara dikubur habis dan mengatasnamakan sekolah. Perkemahan ini tidak seperti biasa, karena semua agenda diatur ABRI. Bahkan sampai soal makan semua peserta bergabung dengan tentara. Maklum, judulnya Perkemahan Manunggal ABRI dan Rakyat.

Sejam kemudian semua peserta sudah harus berkumpul untuk pemetaan wilayah kerja. Perekemahan bersama dengan ABRI benar-benar menguras tenaga. Setiap hari semua peserta diberbantukan dalam proses pembangunan fisik di kecamatan Metro Kibang. Sejak dari rehabilitasi sekolah, jembatan, dan fasilitas umum lain. Dengan kerja ekstra inilah, maka pada malam harinya tidak ada lagi acara khusus seperti perkemahan yang biasa.

Sampai hari kelima tak ada ganjalan, tapi memasuki hari terakhir, aku  dan kawan-kawan terusik oleh ulah salah seorang aparat. Persoalannya sepele. Menjelang apel pagi pukul 06.00, Rahmad masih tertidur sementara yang lain sudah siaga di depan tenda. Tanpa permisi, seorang aparat memeriksa setiap tenda. Melihat Rahmad masih tergolek di dalam tenda, dia dengan kasar menendang kaki Rahmad, yang secara refleks menendang balikt. Sang aparat terkejut bukan kepalang.

”Kacuklah!” Rahmad seketika melompat dan siaga menyerang.

Aku dan teman-teman yang melihat peristiwa itu kemudian melingkar dan mengepung aparat. Dua aparat itu agak panik melihat kedatangan kami.

”Oi, Pak. Kami ini manusia, bukan kambing. Jangan sembarang aja membangunkan orang tidur”
”Jam sekarang bukan jam tidur. Sebentar lagi apel pagi. Jadi semua harus siaga di depan tenda,” ujarnya dan beberapa aparat lain mulai berdatangan.
”Iya, tapi Bapak tidak bisa semena-mena pada kami,” Sukijan menambahkan.
”Kamu tidak usah membela kawan kamu yang salah. Sekarang kalian ke posko. Kita selesaikan disana,” salah seoramg aparat memaksa kami ke posko.
”Tidak ada perlunya kami ke posko. Kami tidak ada urusan dengan posko. Yang penting bapak harus minta maaf dengan kawan kami, karena sudah membangunkan dengan cara yang tidak wajar,” kataku agak meninggi.
”Sudahlah dik, kita selesaikan di posko saja. Tidak enak dilihat temen-teman lain,” aparat lainnya merangkul Sukijan.
”Tidak bisa, pak!”

Suasana makin tegang ketika salah satu teman dari kami dipaksa untuk ikut ke Posko. Sukijan mendorong aparat yang menarik paksa.

”Bapak maunya apa sih!? Ini kampung kami. Saya putra asli Metro Kibang. Di kecamatan ini semua keluarga saya. Jadi kalau sampai terjadi keributan, saya tidak segan-segan mellibatkan mereka,” Sukijan mengancam dengan membohongi aparat.
”Priiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit,” peluit panjang menandai apel pagi dimulai.

Semua kemudian bubar tanpa penyelesaian. Seperti sebelumnya. usai apel pagi masing-masing zona melakukan kerja sebagaimana biasa. Tetapi tidak demikian dengan Genesiss.  Aku melihat, beberapa utusan sekolah lain sudah mulai menyiapkan peralatan kerja bakti tapi kami rapat di dalam tenda. Dan beberapa menit kemudian, kami bergerombol menuju posko ABRI.

Brakk, Sukijan mengebrak meja.

Dan Sukijan langsung disergap dari belakang.  Sementara aku dan kawan-kawan tak bisa berbuat banyak karena secara sigap puluhan aparat siaga penuh.

”Ada apa ini kok ribut-ribut,” salah seorang aparat yang terlihat berwibawa hanya dingin melihat kejadian itu. Sepertinya ia petinggi di posko.
”Ayo silakan duduk dulu dik. Kok kayak mau perang saja.”

Sukijan dilepaskan dan kami semua duduk. Hanya beberapa aparat saja yang tampak berjaga-jaga di belakang kami. Yang lain ke luar. Sepertinya mereka juga melakukan pengamanan di luar. Sukijan kemudian menceritakan duduk persoalan sampai terjadinya kericuhan.

”Itu masalah kecil. Hanya salah paham saja. Tentang anak buahsaya, biar kami yang tindak. Sekarang adik-adik kembali melakukan kegiatan seperti biasa.”
”Kami tidak ingin melanjutkan kegiatan ini, pak!” Rahmad menyela pembicaraan.
”Wah, ya jangan emosional seperti itu dik. Kan tinggal satu hari.”
”Jan, kita cabut,” Rahmad mengajak kami semua keluar dari posko.

Dan semua ikut keluar.

”Apapun risikonya, hari ini kita cabut. Kami membantu anak Genesiss yang perempuan membongkar tenda. Kalau ada aparat yang melarang, tidak usah dihiraukan,” Sukijan memberi komando dan kami berbagi tugas membongkar tenda dan berberes-beres.

Aku dan Agus kebagian membantu Genesiss perempuan membongkar tenda.

“Hei! dik, kenapa sudah dibongkar. Hari ini belum boleh pulang,” salah seorang aparat menegur. Tapi tak kami hiraukan. Kami terus membongar tenda.
”Kami diperintahkan kepala sekolah untuk pulang hari ini,” Agus memnajwab sekenanya.
”Dari sekolah mana kamu?!” tanya aparat meninggi.
”Tanya saja sama koordinator kami di seberang sana,” jawab Agus sekenanya.
”Hei!” aparat ini merasa dilecehkan dan mendorong Agus.”Kamu mau saya tembak apa?”
”Tembak saja kalau bapak berani. Ayo tembak!” Agus nekat duel..
“Saya laporkan kamu pada kepala sekolah,” ancam aparat itu.
”Ya laporkan saja. Emang gue pikirin.”
”Kamu nantang, ya sama aparat,” sekali ini dorongan aparat agak lebih keras, sehingga Agus sempat sempoyongan. Hampir jatuh, tapi masih bisa menjaga keseimbangan.
”Hei, pak! Gaji bapak itu dari orang tua kami. Jadi bapak jangan sok jagoan,” kataku membela Agus.

Karena kejadian itu jauh dari barisan laki-laki, Aku dan Agus hanya dapat melakukan pembelaan semampunya, didukung teman-teman perempuan. Tapi Sukijan melihatjuga kejadian itu dan mendekat.

”Bapak kalau mau buat ribut lagi, lepas baju dan senjata. Kita duel di lapangan. Ajak orang kampung ke sini untuk menonton sekalian,” Sukijan seketika menantang.
”Awas kamu ya?!” aparat meninggalkan kami.
”Awas juga Bapak?!” Rahmad menyela.

Tenda selesai dibongkar. Semua barang sudah dikemasi. Tinggal menunggu jemputan mobil, yang sudah dipesan. Siang itu. sesampai di posko Genesiss kami merasa aman. Tetapi karena masih ada satu hari lagi,  anak-anak Genesiss tidak bisa langsung ke sekolah, akan menjadi bahan pertanyaan. Aku yang masih diskors tak punya beban. Tetapi akibat kasus ini, aku kuatir juga Jangan-jangan skors atasku ditambah satu pekan lagi. " Wah gawat juga," pikirku agak khawatir.

Sehari setelah kejadian, Kodim Metro sudah langsung melapor ke sekolah, tapi karena anak-anak yang ikut perkemahan belum muncul, sekolah agak kesulitan mencari tahu kemana kami pergi setelah minggat dari bumi perkemahan.

“Kalian sudah memalukan sekolah. Seharusnya ini tidak terjadi.” Pak Amri yang didampingi Kepala Sekolah dan Guru BP benar-benar marahu.
“Dan sebagai imbalan atas pelanggaran di perkemahan, kalian semua d-skors dua minggu,” Pak Amri membagikan surat.

Semua tertunduk. Tak ada yang protes. Saat itu, juga Pak Amri secara paksa melepas logo partai yang menempel di baju.

“Yang lain juga harus dilepas. Kalau tidak dilepas, jangan salahkan kami, kalau kami harus menyuruh aparat untuk menangkap kalian. Ikuti saja organisasi yang ada, tidak perlu pakai partai-partaian. Ngerti?!”

Mendapat kabar itu, ada perasaan haru, kesal, dan geli. Genesiss harus mendapat sial gara-gara membuat ulah dengan aparat ABRI. Surat skors secara bersama-sama akhirnya dibakar di depan sekolah. Usai membakar surat skors, kami bubar menuju posko. Pak Amri dan guru yang melihat dari jauh pembakaran surat skors hanya menggelangkan kepala
***
bersambung

Dunia, Ria Cuma Mau Jadi Guru TK
Bunga Rumput Liar

Habis Cerita
Moyank

ceritanet©listonpsiregar2000