ceritanetsitus karya tulis, edisi 174 senin 090427

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

memoar Dunia, Ria Cuma Mau Jadi Guru TK
Bunga Rumput Liar
1 Juli 1977 - 5 Desember 2008

Dulu, semasa balita, Ria pernah punya banyak cita-cita gila: menjadi pramugari, pemain sepak bola sekaligus supir truk sampah. Ha ha! Kanak-kanak memang begitu. Mereka akan menyimak kehidupan sehari-hari di sekitar mereka, menghayati dan menyerapnya, berusaha melibatkan diri sekaligus meniru apa saja yang dia suka. Dan orang-orang di sekitar Ria kecil adalah pramugari, para penonton sepak bola di televisi dan supir truk sampah yang setiap pagi lewat di depan rumah. Menyenangkan!

Menyenangkan?

Sungguh. Menyenangkan bagi Ria kecil membayangkan  diri berseragam oranye seperti bibinya, berstoking rapih dengan make-up menghiasi wajah, bersepatu tinggi dan menyeret koper berkereta, berbahasa Inggris dan bisa menyayikan lagu Mother How Are You Today. Sepulang terbang bibi juga sering membawa roti lapis yang enak. Waa! Ria kecil lantas ingin menjadi pramugari.

Ria kecil juga suka membayangkan dirinya menjadi pemain sepak bola. Sebab para lelaki dewasa di sekitarnya adalah penonton setia  pertandingan sepakbola. Memang hanya menonton di televisi agaknya. Ha ha, begitu sederhana alasannya.

Tentang menjadi supir truk sampah?

Itu karena rumah Ria kecil dekat dengan tempat pembuangan sampah, Ria kecil melihat para supir yang terlihat riang gembira datang dan pergi mengantarkan isi truknya ke sana.

Begitulah

Menjadi kanak-kanak adalah kenangan tersendiri. Tangis dan tawa silih berganti. Pelukan orang-orang dewasa yang membuat hangat dan nyaman dunia. Ibu bagi Ria kecil adalah teman sekaligus musuh. Ibu selalu merawat, menjaga sekaligus melarang dan memarahinya. Ayah bagi Ria kecil adalah orang yang menemaninya belajar menikmati hujan untuk pertama kali, belajar bagaimana berbagi, memberi dan mengekspresikan cinta. Bersama ayahnya Ria kecil sering berbagi gigitan roti dan pergi berjalan-jalan dipagi hari,  bergembira di taman serta mengumpulkan bunga di sekitar kompleks pekuburan di dekat rumah. Ria adalah peri kecil bagi ayah.

Lalu lahirlah dia. Anak laki-laki yang ditunggu. Cucu pertama laki-laki dari anak pertama laki-laki; adikku. Serta-merta ia lahir dan seolah langsung menjadi raja. Tiba-tiba Ria kecil merasa telah  menjadi kanak-kanak yang kehilangan semuanya. Semuanya. Terutama ayahnya. Ria kecil cemburu karena ayahnya mengangkat bangga bayi laki-lakinya meski tak berkata apa-apa. Ria kecil begitu peka terhadap semua perubahan di sekitarnya.

Barangkali tidak semuanya benar bahwa Ria kecil telah ditinggalkan ibu, ayah, paman, bibi kecuali pengasuhnya. Barangkali hanya ledakan kecemburuan Ria kecil. Tapi sungguh hampir tidak ada yang mencatat rasa pedih itu telah terjadi di hati Ria kecil. Tak ada yang mengerti dan membantu menyelamatkan perasaan terlukanya. Tak ada yang berusaha memberi pengertian bahwa tidak benar ia ditinggalkan. Bahwa bayi yang baru lahir memang sungguh mengagumkan dan membahagiakan semua orang tetapi  bahwa Ria tetaplah peri kecil. Ria kecil terjebak rasa sedih luarbiasa lantas berusaha kembali menarik perhatian semua orang di sekitarnya. Tumbuhlah ia menjadi anak menyebalkan bagi sebagian orang, terutama ibunya. Pelan-pelan Ria kecil mulai ditinggalkan lingkaran cinta para penonton sepak bola di rumahnya.

Tahukah apa yang terjadi? Semakin ia ditinggalkan, semakin ia menyebalkan. Demikian seterusnya sebab semakin ia berusaha mendapatkan perhatian.

Ada sebuah catatan manis di seputar masa balita kehidupan Ria. Ria kecil yang sedih memiliki pengasuh muda. Padanya Ria kecil sungguh-sungguh boleh bersandar dan berlaku sebagaimana layaknya seorang gadis kecil seusianya. Ria kecil boleh menangis bila merasa sakit atau sedih. Ria kecil boleh mengganggu kegiatan pengasuhnya seperti menyeterika baju, membersihkan rumah dan lain-lain. Ria kecil boleh meminta pelukannya setiap saat Ria membutuhkan. Ria kecil selalu merasa ada yang melindunginya bila bersama pengasuhnya. Ada kemarahan dan kejengkelan kecil yang sesekali disampaikan pengasuh, tapi kejengkelan dan kemarahan yang disampaikan dengan rasa manis dan keakraban yang tak pernah bisa tergantikan. Ria kecil tak pernah merasa dimusuhi pengasuhnya.

Tapi Ria kecil memang tak perlu merasa sedih berlama-lama. Sebentar kemudian Ria langsung mengerti bahwa ayahnya tak pernah meninggalkannya. Mereka berdua masih boleh berbagi gigitan roti dan bermain hujan bersama. Tidak ada yang berubah kecuali ia sekarang mempunyai seorang adik laki-laki yang apa boleh buat telah memaksanya berbagi cinta. Sudahlah, Ria. Kau bisa menjadi bintang bagi dirimu sendiri, kan?

Yup

Bisa

Ria kecil mulai tidak terlalu peduli lagi pada rasa kehilangannya. Ria kecil mulai menggali kebahagiaan sendiri. Kepada ember di kamar mandi Ria kecil biasa berbagi cerita apa saja saat berpegangan di jamban. Ria kecil bisa tertawa menyadari bahwa tak mungkin ia bisa membelah air di dalam ember, seperti seseorang yang membelah puding menajdi dua potongan besar.

Ria kecil bahkan bisa berlama-lama di  kolong meja, menunggu datangnya mahluk-mahluk kecil dan berharap mereka akan menyapa dan mengajaknya bermain sebentar. Ia bermain rumah-rumahan ataupun mobil-mobilan dan berbicara banyak dengan kawan-kawan khayalnya.

Ria kecil mulai tidak terlalu bergantung lagi dengan pengasuhnya, tapi kenangan berada di dalam dekapan dan lindungannya membuat Ria tidak mudah putus asa dan belajar percaya bahwa ada seorang yang tak akan pernah pergi dari sisinya. Kketika pngasuhnya menikah, ia tetap kerap mengunjunginya, membawa Ria kecil pulang ke rumahnya dan memanjakan perempuan kecil itu semampu dia. Rumah pengasuh yang berjalin bambu dan dari lubang-lubang gentingnya Ria kecil bisa melihat bintang-gemintang. Lantai tanahnya tempat Ria kecil mengorek dan mencari undur-undur. Ria kecil lelap tertidur dalam pelukan pengasuhnya di malam hangat dan menunggu hari ceria besok paginya: bersama kawan-kawan.

Ria dan kawan-kawannya bertelanjang dada di halaman rumah tanah pengasuhnya, bermain kelereng, berkejaran dan kembali ke pangkuan sang bibi. Hari yang penuh pelukan, penuh kecupan, penuh tawa, dan penuh kehangatan. Tak ada alasan untuk bersedih.

Lalu keluarga Ria kecil pindah kota. Kembali Ria harus sendirian dan berusaha mandiri untuk membahagiakan diri sendiri. Ayah sibuk bekerja dan bekerja. Ibu mengandung seorang bayi lagi dan selalu siap dengan persediaan kemarahana untuk Ria. Lalu? Tidak ada cara lain. Keluar saja dari rumah dan bermain.

Rumah baru adalah sebuah rumah kecil di tepi kota dengan halaman berpagar jajaran pohon ubi kayu yang daunnya sering dipetik ibu. Di sebelah kiri rumah Ria kecil  adalah rumah seorang tetangga yang luarbiasa tidak ramah dan  menyebalkannya. Ria kecil sering mencuri bunga sepatu di situ. Sedikit miring ke arah kiri, di depan rumah, tinggal seorang anak laki-laki bernama Maul. Belakangan Ria kecil tahu nama panjangnya adalah Maulana. Barangkali Maul  adalah kawan kecil pertama Ria di lingkungan itu. Maul sering bermain sepeda di depan rumahnya dan sering sekali mengeluarkan bau ikan dari mulutnya selepas disuapi ibunya.

Di sebelah rumah Maul adalah rumah yang penuh dengan jemuran cengkeh di tikar dan para gadis. Hanya satu nama yang Ria ingat: Mbak Susi, yang mudah diingat  karena pernah berusaha membuat Ria kecil percaya bahwa ada seorang Puteri Malu yang tinggal di dalam sebutir jeruk yang sedang di kupasnya. Uh! Itu pasti jeruk asam. Warna kulitnya hijau tua dan di dalamnya kuning muda. Di dalam daging jeruk yang kuning muda dan asam itu Mbak Susi menaburkan garam. Ria kecil mendengarkannya membual tentang apa saja yang dilihatnya pada jeruk itu sebagai kisah Puteri Malu.

Ria kecil mempunyai pengalaman sedih ketika gerombolan anak-anak tetangganya mengajari Ria jajan kudapan di warung yang bertebaran di wilayah itu.

"Ria mau jajan?"
"Jajan? O, mau"
"Kalau gitu Ria harus ambil uang. Ria punya uang?"
"Uang?"
"Uang."
"Iya. Kan katanya mau jajan. Nanti kalau ada uang kita jajan lalu kita makan bersama."

Ria kecil berusaha mengingat sesuatu; di sudut lemari makan ibu sering menumpuk koin. Itu uang, kan? Nah, berarti bisa untuk jajan.

"Lima rupiah?"
"Tidak papa."
"Oke!"

Ria kecil kembali ke rumah, membuka lemari dan mengambil beberapa keping lima rupiahan lalu menyerahkannya pada anak yang paling tua. Lalu mereka mulai memikirkan jenis jajanan yang akan mereka beli. Orong-orong, sejenis kerupuk berbentuk pipa pendek berwarna merah. Setelah dibelanjakan, ternyata uangnya kurang untuk semua anak.

"Ada lagi, Ria?"
"Ada lagi, sih. Ng... Sebentar."

Ada perasaan tidak enak, tapi Ria tidak tau itu perasaan apa. Ia kembali lagi menuju lemari dan mengambil lagi beberapa keping uang lima rupiahan.

Hari itu Ria kecil dan kawan-kawannya menghabiskan beberapa rupiah untuk membeli kudapan yang dimakan bersama atas prakarsa anak tetangga yang paling tua di gerombolan mereka. Lalu pada suatu hari.

"Ria lihat uang ibu di lemari?"
"Lihat," jawab Ria tanpa dosa.
"Lho, sekarang ada dimana?"
"Sudah buat beli orong-orong."
"Apa?"
" Beli orong-orong buat Abang Sal, Kak Teti, Kak Titi, Abang Bob, Abang Mi dan Pupung."
"Riaaaa!!! Itu uang belanja. Buat beli sayur, buat beli lauk dan kue buatmu. Kenapa tidak tanya ibu dulu?."

Ria kecil tak punya jawaban. Hanya bingung kenapa ibunya demikian marah. Uang itu diletakkan di sudut lemari. Tidak pernah ada larangan untuk mengambilnya dan tidak tertutup sama sekali. Lalu salah? Kenapa? Tapi Ria kecil tahu ibunya bukan hanya marah, juga sedih luar biasa.

"Lain kali harus bilang dulu. Bilang pada ibu kalau kamu ingin membeli sesuatu."
"Ya," jawab Ria masih bingung juga.
"Itu namanya mencuri."

Ria kecil masih tetap bingung. Semua orang bilang mencuri itu berdosa, tapi dia tidak pernah menyangka kali ini dia telah melakukannya. Mencuri. Mengambil sesuatu tanpa ijin pemiliknya. Jadi yang kulakukan itu namanya mencuri?

"Ria."
"Ya."
"Mulai hari ini Ria cuma boleh makan kue satu hari satu kali."
"Ya"
"Karena uang untuk membelinya tidak ada lagi untuk membeli berkali-kali."
"Ya."
"Sore-sore ibu kasih Ria uang untuk beli kue satu. Satu saja dan satu kali satu hari."
"Ya."
"Mengerti? Nah. Jangan begitu lagi."

Rasanya sungguh menyiksa bagi Ria kecil karena disebut pencuri. Itu melukai hati. Tapi Ria menjadi sadar, ia juga harus berhati-hati dengan kawan. Tidak semuanya baik. Naluriah ia mulai mengerti bahwa kemarin ia telah dijebak oleh anak-anak yang lebih besar darinya. Baik. Tidak akan terjadi lagi. Ria kecil menjalankan hukumannya dengan rela dan tidak rewel sama sekali.

Di lingkungan baru ini Ria kecil bertemu sebuah keluarga Aceh yang sungguh bersahabat yang mempunyai beberapa anak yang semuanya menjadi teman bermain Ria kecil. Mereka sering mendirikan tenda di dalam rumah menjebakkan diri ramai-ramai didalamnya, dan mencoba berusaha mencari jalan keluar. Sseru. Juga bersepeda, bermain masak-masakan, atau bermain boneka. Bersama anak-anak itu Ria kecil bisa berbagi cerita. Ada cerita tentang A Meng si tukang tape yang suka menculik anak-anak, tak benar tapi jadi cerita favorit bagi mereka.

Lalu keluarga Ria kecil pindah lagi. Ayah  mendapat rumah dinas di wilayah yang lebih ke arah kota. Lingkungan itu kecil namun bersahabat, meskipun penuh debu! Dan di sini Ria kecil masuk Taman Kanak-kanak. Hore!
***

Ria, TK dan Kawan Baru 

Taman kanak-kanak milik yayasan ibu-ibu tentara berhalaman luas dan banyak mainannya; mengasyikkan. Ada ayunan berantai besi tempat anak-anak perempuan rebutan, ada jungkat-jungkit. Ada bak pasir tempat mengotori diri tanpa dimarahi. Ada peluncuran berbahan fiberglass yang kerap membuat pantat panas, tapi yang paling menyenangkan adalah pondok berpeluncuran kayu. Ria kecil sering menghabiskan waktunya di situ.

Di pondok itu, yang sering dianggapnya sebagai miliknya, Ria kecil sering berbaring sambil berkhayal. Mungkin pernah pula ia tertidur. Tapi yang sangat diingat adalah Ria kecil lebih suka bersendirian daripada harus rebutan main ayunan di halaman. Malas.

Kelasnya adalah sebuah ruang besar berpenyekat kain sebagai pembatas dengan kelas lain. Di kelas sebelah ada sebuah piano kayu. Setiap hari Ibu Asnah memainkan pianonya untuk mengiringi semua anak bernyayi.

"Taman yang paling indah, hanya taman kami. Taman yang paling indah taman kanak-kanak"

Atau

"Bila ku pergi dari sekolahku Tidak kulupa pada bu guru. Tidak kulupa pada pak guru. Ilmu yang kukejar, selama belajar dibimbing bu guru. Bila berwenang kan ku beri bintang, tanda terima kasihku. Bila berwenang kan kuberi bintang. Tanda trimakasihku."

Wow, taman kanak-kanak. Ttempat yang selama ini dicarinya. Tempat dimana keriangan disemai dan anak-anak boleh bergembira sebagai dirinya masing-masing. Ria kecil memang tidak sama dengan Citra atau Dita. Semua anak boleh mengembangkan bakatnya masing-masing dan diberi kesempatan yang sama untuk mengekspresikannya. Setiap anak adalah istimewa. Di Taman kanak-kanak Ria kecil telah menemukan seorang sahabat setianya, Tuti dengan dua ekor kuda di kepala.

Mari menari, mari menyanyi. Mari berkejaran dan berlari-lari. Kupu-kupu sayap kuning sering hinggap di taman ini. Kau suka? Ada kucing yang kadang-kadang datang berkunjung. Ada kawan bernama Chandra yang selalu berkeringat dan kepalanya bau ayam. Ada Mia yang rambutnya sering dikepang dua. Ada Om Yadi yang sering mengantar pulang sekolah. Bertiga, berempat di satu sepeda motor itu menyenangkan, meskipun berbahaya. Ada acara menari di televisi yang tak pernah kuikuti. Ada acara menyanyi di radio yang memberiku kesempatan menyanyi solo karena suaraku yang keras sekali. Ada upacara yang sering membuatku kena hukuman karena lupa pakai seragam. Ada bubur kacang hijau dan susu coklat atau bihun goreng di setiap hari Sabtu yang ceria. Seandainya selamanya sekolah bersuasana seperti TK; menyenangkan luarbiasa!
***

Ria, SD, dan Sekolah-Sekolahan

Uhuy, Ria kecil masuk SD. Menyenangkan menjadi seseorang yang dianggap lebih besar. Tapi, ups Ria kecil juga merasa kehilangan taman bermain di TK. Yup. Hidup memang pilihan. Kita tidak bisa mendapatkan segalanya apalagi dalam satu waktu. SD Ria kecil adalah sebuah sekolah dasar negeri berhalaman debu pasir, yang akan mengepul gila bila terkena terjangan kaki anak-anak yang berlarian. Dan Ria kecil akan menghabiskan 6 tahun di sana.

Di sekolah baru Ria kecil bertemu lagi kawan TK, Tuti, gadis kecil yang dulu berekor kuda dua dan sering berpita ungu di atasnya. Tuti yang menenteng tas koper kecil serta merta juga mengenalinya. Lantas mereka berdua meminta ibu guru mendudukkan mereka pada bangku yang sama. Taman kanak-kanak telah membentuk persahabatan kecil.

Tahun berlalu dan Ria kecil tidak lagi duduk di kelas terbawah. Ria yang sudah lebih besar mengambil peran sebagai tokoh yang dewasa di kelompok bermain. Peran menjadi ibu saat bermain rumah-rumahan menyenangkan, tapi lebih menyenangkan kalau sedang bermain sekolah-sekolahan. Ria kecil selalu menjadi gurunya.

Segerombolan anak-anak kelas 1 sampai dengan kelas 3, duduk berjajar membentuk setengah lingkaran. Biasanya Ria kecil, yang paling tua menjadi pemimpin kelompok dan berhak menentukan apa saja yang akan mereka lakukan, mainkan, atau perankan. Ibarat kata, bola sedang berada pada kekuasaan kakinya.

"Ayo  main sekolah-sekolahan. Bila hari ini kegiatannya menggambar, maka besok kita bisa mengadakan lomba menyanyi, lusanya kita akan memasak bersama."

Di kelompok bermain itu ada rupa-rupa kelakuan kawan-kawan. Rini yang sering buang angin, Agung yang sering bertugas  mencari siapa pelakunya bila bau angin Rini tadi tiba-tiba tercium. Juga ada kawan yang tak pernah menyanyikan lagu yang lain. Hanya satu lagu: Skip To My Lou.

Di luar kelompok sekolahan, Ria yang sudah lebih besar juga masih sering bergabung kawan-kawan yang lebih tua. Saat-saat itu Ria belajar bagaimana orang mengasuh kawan kecilnya.

Dan menjadi pengikut, anak, atau murid dalam peran bermain di kelompok yang lebih tua menyenangkan, tapi berperan sebagai guru adalah saat-saat yang paling menyenangkan. Mulailah timbul catatan kecil itu. Mmenjadi guru itu menyenangkan; Ria ingin jadi guru TK.
***

Kenapa Maunya Menjadi Guru TK, Ria? 

Ada 2 versi jawaban. Satu versi Ria kecil dan satu lagi versi Ria dewasa.

Ria kecil mengatakan TK adalah tempat yang menyenangkan. Banyak mainan dan semua yang dilakukan dapat membuat dirinya bahagia. Di TK Ria kecil boleh bermanja,  menangis, tertawa, marah, mengekspresikan segala perasaan tanpa hambatan dan juga tanpa perlu merasa bersalah. Beristirahat di saat lelah dan berteriak keras. Versi Ria kecil itu telah menyampaikan kepada orang-orang di sekitarnya dan juga kawan-kawan kecilnya bila menanyakan cita-cita. Ria kecil memiliki bahasa kanak-kanak untuk menjelaskan cita-citanya.

Sedangkan versi Ria dewasa tentang cita-cita menjadi guru lengkap di dalam buku catatan harian imajinernya. Tercetak kuat di dalam kepala dan benak, tergurat di sepanjang perjalanan hidupnya. Anak-anak membutuhkan tempat tumbuh yang dapat membuat mereka merasa aman, nyaman, merasa diterima sebagaimana dirinya sambil tetap ditanamkan nilai-nilai umum agar kelak dapat hidup bermasyarakat dengan baik dan tidak tercerabut dari kelompok masyarakatnya. Anak-anak harus tumbuh  bahagia dan percaya diri serta memiliki kemampuan untuk bertahan hidup dengan keuletannya memecahkan masalah. Anak-anak harus dibantu menjadi mandiri tanpa membuatnya merasa terbuang. Seringkali cara mencintai anak-anak salah dan malah membuat mereka menderita dan itu akan terbawa dan terkenang seumur hidup, sadar ataupun  tidak.

Jadi kenapa Ria ingin menjadi guru TK? Karena perjalanan hidupnya sendiri. Ria besar sadar tidak mudah menjadi orangtua yang mengerti pada kebutuhan masing-masing anak. Bila sepasang orangtua memiliki 3 anak maka mereka membutuhkan pemahaman untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani, dan juga rohani, dari 3 orang unik yang berbeda. Anak-anak adalah manusia yang juga harus didengar kebutuhan sementara orangtua adalah manusia-manusia yang juga punya keterbatasan dan masalah sendiri.

Bila ada yang tidak baik dalam pertumbuhan seorang anak, siapa yang salah? Bisa jadi bukan kesalahan siapa-siapa, barangkali karena hanya keterbatasan masing-masing yang akhirnya berbenturan dan menimbulkan masalah-masalah baru bagi orang-orang di sekitarnya, termasuk anak-anak. Karena menyadari itu maka Ria ingin menjadi guru TK, berharap bisa membantu pertumbuhan anak-anak dan membuat mereka mempunyai perjalanan hidup dan pertumbuhan yang lebih sehat dari perjalanan dan pertumbuhannya dirinya. Ria ingin memastikan segala hal manis yang pernah didapatkannya pada masa kanak-kanak akan didapatkan juga oleh anak-anak lain dan segala pengalaman buruk tak terulang lagi.
***

Perjuangan Ria Muda Meraih Cita-cita

Susah menyakinkan banyak orang. Lulus SMA Ria muda harus menghadapi ide orang banyak bahwa sebaiknya ia tidak mengambil kuliah di impiannya di sebuah kampus yang menyediakan program pendidikan calon guru TK. Ria muda gamang. Ia kalah suara. Semua orang mengkhawatirkan bunyi cita-citanya. Kenapa harus jadi guru TK sih, Ria?

Guru TK itu, kata mereka, bergaji kecil dan tak akan pernah sanggup membiayai kehidupan secara layak. Hidup yang layak itu mahal. Apa kau memang mau menjalani gaya hidup yang susah Ria? Begitu selalu kata mereka. Atau begini, sekolah saja di jurusan ilmu lain, lalu nanti kalau masih ingin menjadi guru TK maka menjadilah.

Ria muda kalah. Ia sekolah Ilmu Budaya dan Bahasa Cina. Dipilih ilmu budaya karena masih dirasa dekat dengan minatnya, lalu Bahasa Cina karena --menurut perkiraan orang banyak-- bahasa tersebut akan menuai banyak keuntungan finansial di kemudian hari. Uang. Pada saatnya kita akan bekerja untuk mencari uang. Duh!

Ada perang besar di dalam hati Ria muda. Selain harus menunda belajar bagaimana menjadi guru TK, ia juga harus mengahadapi gaya kehidupan perkuliahan di kampus yang sangat tidak sesuai dengan jiwanya. Dosen-dosen yang lebih banyak menyakiti daripada membangkitkan. Dosen-dosen yang lebih banyak menjatuhkan daripada menyemangati. Dosen-dosen yang rajin melarang mahasiswa untuk berekspresi. Belajar, belajar dan belajar! Dan itu artinya menghadapi buku-buku dan tugas-tugas tanpa kehidupan sosial sama sekali. Bahkan tak ada waktu lagi untuk kegiatan seni. Barangkali tidak semua kampus menawarkan hal-hal menyedihkan seperti itu, tapi begitulah yang dialaminya. Atau mungkin terasa menyakitkan hanya karena  gaya perkuliahan yang tidak sesuai dengan jiwa mudanya?

Lantas Ria muda memutuskan untuk menyelamatkan diri. Berhenti berendam dalam api neraka, lau melangkah menuju cita-cita dan mimpinya. Kembali ke rencana semula: sekolah untuk menjadi guru TK.

Ria muda melewati titik-titik persinggahan unik selama perjalanannya memperjuangkan cita-cita. Ia pernah belajar advertising lewat program kursus singkat. Ia juga belajar musik, karena sungguh meyakini bahwa kehalian musik akan membantunya kelak. Dan sampailah Ria muda di kursus singkat calon guru taman kanak-kanak. Ria muda juga melatih Bahasa Inggris, dan lewat kursus, membaca, dan mendengars dia menjadi lebih percaya diri. Ria muda mendapatkan ide memanfaatkan keterampilan-keterampilannya untuk mengejar cita-cita dan mulai menulis lamaran kerja untuk banyak sekolah. Ada yang membuatnya yakin bahwa Guru TK memang jalan hidupnya. Ia merasa tenang dan mantap luar biasa.
***

Ibu Guru Ria

Takdir. Ria muda telah mengirimkan sekitar 10 lamaran kerja dan beberapa adalah lamaran menjadi guru TK. Selain itu ada lamaran untuk bidany yang pernah dipelajarinya: advertising, marketing dan musik. Ria muda pernah mendapat alamat satu TK didapatkan dari sampah kertas lamaran kerja sepupu yang juga sedang mencari pekerjaan. Takdir, begitulah demikian orang menyebutnya. Lima lamarannya ditanggapi dengan panggilan wawancara. Dan kelima-limanya adalah panggilan dari TK. Waw!

Panggilan yang paling menarik datang dari sekolah yang alamatnya didapat dari tumpukan sampah kertas sepupunya, sebuah TK berlabel internasional. Waw. Dan Ria muda menjadi amat bersemangat dengan panggilan wawancara tersebut. Tak berani berharap terlalu banyak, walau perasaannya sekali lagi mengingatkan tentang panggilan hidup dan cita-cita, serta kesempatan yang sekarang sedang menyala di depan matanya. Ria muda menjalani proses pencapaian cita-citanya dengan bara di dada. Ria muda bahwa dia bisa.

Dan Ria guru telah 5 tahun mengajar. Berpindah dari satu sekolah ke sekolah lain untuk belajar banyak hal. Belajar dalam arti yang luas. Ada sesuatu yang lebih dari hanya sekedar bekerja untuk mencari uang. Bbekerja di sebuah sekolah sebagai guru memiliki makna lebih dari uang. Ria menggapai cita-cita dengan sungguh-sungguh. Maka Ibu Guru Ria  melakukan tugasnya juga dengan sungguh-sungguh. Ria guru mengajar dan belajar. Dan Ria guru memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di sebuah perguruan tinggi bersistem pendidikan mandiri. Ini menyenangkan. Tak ada lagi rasa tertekan dalam belajar dan bekerja.

Suatu pagi di taman yang berumput, Ria guru berkejaran dengan beberapa ekor belalang. Anak-anak tertawa gembira.  Mereka besorak seru. Beberapa anak mulai bergerak meniru: berlompatan, berkejaran, dan berlarian mengejar belalang. Beberapa anak mulai bergulingan di rerumputan  yang basah.

Hari demikian indah dan cerah.
***

Bunga Rumput Liar atau Buruli--terlahir Pulung Amoria Kencana-- kerap mengirim tulisan ke ceiritanet. Memoar ini ditulis Maret 2005 namun diperlukan waktu sebelum kekasihnya, Syamsinar Radjam, menemukan kembali tulisan ini setelah Pulung Amoria Kencana wafat 5 Desember 2008.

Habis Cerita
Moyank

Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

ceritanet©listonpsiregar2000