ceritanetsitus karya tulis, edisi 171 selasa 090210

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

novel Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

Pagi menjelang. Hari itu adalah penentuan nasibku; dikeluarkan atau hanya diskors. Sampai istirahat tiba, aku belum juga dipanggil, malah Rahmad yang dipanggil Kepala Sekolah. Di ruang kepala sekolah sudah ada guru pembimbing Sispala. Tapi tak ada urusan dengan nasibku; uda undangan dari Kodim Metro agar anak Sispala dan Pramuka ikut perkemahan Manunggal ABRI di kecamatan Metro Kibang, sekitar 2 jam dari pusat kota Metro.

Jam istirahat usai dan pelajaran baru saja mulai ketika Rahmad masuk kembali ke kelas setelah dipanggil Kepala Sekolah. Sebelum duduk ke bangkunya, Rahmad berbisik kepada Pak Syahrial yang baru membuka buku Pelajaran Bahasa Indonesianya. Mata Pak Syahrial menuju ke arahku.
“Alif di tunggu Kepala Sekolah.”

 Detak jantungku berdebar lebih tidak karuan. Bayangan dikeluarkan dari sekolah makin terbayang. Aku tidak langsung menuju ruang Kepala Sekolah, tapi lebih dulu ke Musholla di kantor Pramuka, sekitar 50 meter dari kantor kepala sekolah. Dua raka’at aku lakukan shalat sunnah. Mohon kepada Allah Swt, agar kiranya sanksi ini tidak seberat yang pernah ditimpakan pada tiga siswa. Ada perasaan ringan setelah mengadukan diri di Musholla; La Yukallifullahu Nafsan Illa Wus’ahaa (Allah tidak akan menimpakan suatu cobaan, kecuali sesuai dengan kemampuannya).

Dengan langkah mantap, kuucapkan basmalah, sebelum mengetuk pintu ruang kepala sekolah. Di dalam ruangan ada tiga guru; Pak Muhtar, Pak Winarno, dan Wali Kelas, Pak Zazili.
“Gimana kabarnya Alif?” Pak Muhtar meredakan ketegangan.
“Alhamdulillah baik,” jawabku singkat.
“Orang tuamu sudah tahu tentang persoalanmu?”
“Sengaja memang tidak saya beri tahu, Pak.”
“Kenapa begitu?”
“Saya tidak ingin orang tua saya sedih gara-gara ulah saya.”
“Tapi kalau nanti kamu dikeluarkan dari sekolah ini, kami harus panggil orang tuamu.”

Ucapan Pak Muhtar menggetarkan seluruh nadi. Getaran jantung makin tidak teratur dan mengeras.

“Silakan nanti surat ini dibuka. Apapun keputusannya, ini sudah melalui rapat antara sekolah dan yayasan.”

Aku keluar. Jam istirahat kedua tiba. Semua siswa berhambur keluar. Anak-anak Genesiss tak sabaran.

“Gimana, Lif keputusan sekolah?” Rahmad tak sabar lagi mendengar kabarku.
Belum sempat aku membuka amplop, Agus tiba-tiba langsung menyerobot, menarik kami berdua ke arah kantin. Aku hanya berjalan gontai.

“Ha….ha…”, Agus tertawa. “Untung elu Lif, nggak dikeluarin,” Agus memelukku erat. Aku belum tahu sanksi yang ditimpakan padaku. “Cuma diskors 2 minggu, Lif,” tambahnya.

Seketika aku sujud syukur. Sampai tiga kali aku sujud. Sebuah keputusan yang melegakan. Kalau aku dikeluarkan, jelas urusannya jadi panjang. Selain harus menahan rasa malu, aku juga harus berhadapan dengan ayah dan ibu, yang sudah pasti akan marah besar jika mendengar pura tunggalnya dikeluarkan dari sekolah bergengsi sekelas Al-Mizan.

Jadi mulai besok aku sudah tidak sekolah lagi. Walau hanya sementara, tetapi pisah dengan teman-teman, terasa berat juga. Aku tidak mungkin hanya termangu mengisi hari-hari kosong, tapi tinggal di Posko Genesiss mungkin membuat aku akan mendapat banyak dorongan moral. Belum lagi kesibukan memberi makan ayam dan mengambil telur di peternakan Kholis. Sepertinya tak seburuk yang semula kubayangkan.

“Santai aja sih 'Lif. Kita orang akan selalu temenin elu,” hibur Rahmad.
“Kawan-kawan sepakat, elu ikut kemah manunggal dengan ABRI di Metro Kibang. Pekan depan kita berangkat. Mau?”
“Udah deh Lif, ikut aja. Kita disana bisa enjoy,” Agus serius.
“Ok! Aku ikut!”
“Nah, gitu dong!”

Sepekan sebelum kemah Manunggal ABRI, anak-anak Genesiss kumpul di posko. Entah gagasan siapa awalnya, pembicaraan menghangat tentang Genessis berubah jadi partai. Karena anggapan partai sama saja dengan organisasi intra sekolah, maka tak ada beban sedikitpun terhadap akibat yang timbul dikemudian hari. Yang didaulat sebagai ketua Partai Genesiss adalah Sukijan. Selain aktif di Genessis, senioritas Sukijan juga diperhitungkan di kalangan anak-anak Genesiss dan anak-anak Al-Mizan maupun di beberapa sekolah lainnya.

Malam itu juga, semua anak-anak Genesiss serius merancang logo, moto dan tujuan partai, sama seperti rapat partai politik. Sukijan berdiri di depan memegang boardmaker hitam, penuh percaya diri sama seperti anak-anak Genessis lainnya. Tetapi kami semua sebenarnya tidak persis 'binatang' seperti apa sebenarnya partai itu. Jadi moto yang diambil semaunya saja, asal enak di dengar dan enak dirasa.
“Motonya C 5 TA,” Rahmad spontan.
“Apaan 'Mad, C 5 TA. Kayak merek kaos,” Kholis protes.
“Canda, Cinta, Colek, Cuek, Cium  Takwa,” Rahmad serius.
“Oi  bagus juga itu,” Agus menimpali.
“Gimana penjelasannya, 'Mad,” Marshal menyela.
“Kita dalam keseharian kan bercanda. Sesekali juga ada sedikit rasa cinta sama cewek. Sudah itu colek dikit boleh juga dong. Dan Cium…”
“Jadi boleh kita orang cium cewek?” seloroh Agus.
“Nggak gitu, Gus. Elu ngeres terus. Cium itu arahnya ke taqwa, yaitu cium sajadah. Itu kan usul gua sih. Kalau ada yang lain boleh juga sih,” Rahmad jadi tak terlalu yakin dengan usulnya.

Seluruhnya ada sepuluh usulan motto partai Genesiss, tapi forum malah sepakat dengan usulan pertama C 5 TA ditambah lagi dengan prinsip partai yaitu; kedamaian, dengan simbol warna biru tua. Kesepaktan malam itu kemudian dilanjutkan dengan pembuatan logo dan bendera partai. Besoknya langsung dipesan ke tukang sablon, dan tiga hari sebelum kemah semua asesoris partai sudah beres. Biaya cetak ditanggung urunan oleh semua anggota Genesiss.

Tak satupun anak-anak Genessus yang mengerti tentang Undang-undang Kepartaian. Kami yakin Partai Genesiss sama saja dengan organisasi intra sekolah lainnya. Intinya adalah kami maumenjadi positif, menggerakkan Ggeng Genesiss yang sebelumnya cenderung negatif ke sebuah organisasi yang baik dan benar. Dan partai sudah pasti organisasi yang baik dan benar itu,

Resminya partai Genesiss ditandai dengan pemasangan logo di setiap baju sekolah. Anak-anak Genesiss memasang logo Genesiss di sebelah dada kanan. Sementara di baju belakang, ada tanda tiga kancing baju yang harus di pasang sebagai simbol tiga prinsip dasar partai Genesiss; Iman, Ilmu, dan Amal.

Dan memang sejak Genesiss bertransformasi menjadi partai, anak-anak Genesiss tidak lagi ikut tawuran antar sekolah. Kkegitan yang dilakukan justru lebih pada aktifitas akademis; mengundang Ustadz Bayumi alumnus Pondok Pesantren Gontor untuk mengajar kursus Bahasa Arab dari dasar, disusul dengan Ustad Teuku Zuhri, alumnus Pondok Pesantren di Aceh yang fiqh, dan beberapa aktifis organisasi di Metro untuk memimpin diskusi Genessis.

Walau tidak langsung mahir dalam bidang tertentu yang diajarkan, anak-nak Genesiss sedikit banyak terbantu oleh kegiatannya . Beberapa bidang studi di Madrasah yang masih belum jelas sesekali dibahas dalam forum Genesiss, juga praktik shalat, maupun mengurus jenazah dan latihan pidato. Lambat laun, dengan beberapa materi yang berjalan secara acak itu, anak-anak Genesiss yang biasa mabuk mulai menghindari minuman bealkohol.
***

Untung Ada Bugil
Liston P. Siregar

Gie
Rama Yunalis Oktavia

ceritanet©listonpsiregar2000