ceritanetsitus karya tulis, edisi 171 jumat 090206

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

cerpen Untung Ada Bugil
Liston P. Siregar

Acara utama mau nonton bareng pelantikan Barack Obama, persisnya mau sok ikut-ikutan ‘menyaksikan sejarah ditulis’ biarpun cuma dari layar TV sejauh 16.355 kilometer dari Washington; di rumah susun Kebon Kacang, Jakarta Pusat. Tapi hanya sekitar 1,1 kilometer dari SDN 01 Menteng, bekas sekolahnya Obama–yang katanya— pernah menang lomba makan kerupuk.

“Cocoklah tempatmu itu,” kata Alan yang sudah minta cuti dari kantor. “Kalo lapar tinggal teriak ke tukang soto mie dari terasmu.” Jam 8 pagi, dia kirim  SMS; “gw sdg tgng bgt, klu bini ngasih, gw ngk ikt.” Alan tidak jadi datang, mungkin memang istrinya mau bersetubuh atau dia cuma mendengkur sendirian karena istrinya ngantar anak ke sekolah.
 
Kketika layar CNN  mulai menampilkan ribuan orang antri di stasiun kereta api Washington, hanya ada Abubakar dan James di depan Sony Bravia 42 inci, yang mulai kuangsur awal Desember untuk nonton pesta kembang api tahun baru di Sydney, London, dan New York. Tiga lain gagal datang; Alan –entah karena bersetubuh sama istri atau mendengkur--  Suparno – yang mengaku cutinya mendadak dibatalkan bos-- dan Ahmad –“sorry bro, macet berat di sini, ogut balik ke rumah lagilah.”

Perasaanku tak enak, tapi kutenang-tenangkan. Sambil membawa 3 mangkuk coklat panas ke ruang tamu aku hidupkan suasana; “Mantab punya, orang Indonesia nonton sejarah Amerika pakai teknologi Jepang.” Abubakar mengibaskan kecil kepalan tangannya, James memukul pelan meja dengan punggung tangan. Semangat tinggi, pikirku, yang membuat jadi semakin cemas.

Abubakar dan James sudah beberapa kali ketemu, di rumah susunku. Bahkan istri keduanya juga pernah bertemu, juga di rumah susunku. Karena masih bujang, aku lebih fleksibel mengundang kawan-kawan ngumpul sekaligus pula mereka bisa jadi korban eksperimen masakanku. “Pantas elo single terus. Hidupmu sudah terlalu enak,” kata Abubakar sekali waktu. Hidup bujang memang sudah masuk menyerap ke hati dan akalku. Aku tak bisa membayangkan ada orang lain yang lalu lalang di teritori pribadiku selama sehari sekalipun.

Tapi aku akan amat tersiksa kalau nonton sendirian, entah itu final Liga Champion, film Che Guevara, main PS3 Gears of Wars, atau pesta kembang api tahun baru Sydney. Lempar komentar sana sini --dan sekaligus mendengar komentar sana sini dari orang lain—mutlak kubutuhkan. Untuk menikmati ketegangan secara optimal, maka aku harus mengelolanya dengan menyalurkan sedikit demi sedikit lewat celutukan sana sini.

“Masak satu tim tergantung Gerard, ya nggak mungkin,” waktu nonton Liverpool kalah dari Manchester United di Champions. “Kalau Guevara masih hidup, kira-kira mendukung Osama nggak?” atau “lu lindungi dari belakang, biar gua terobos pos musuh yang ujung kiri sana noh,” maupun “gile, katanya krisis keuangan tapi kembang api besar-besaran 15 menit habis berape.”

Itu mutlak. Atau kumatikan TV dan tidur. Besok tinggal baca koran dan internet; tanpa tekanan dan ketegangan. Sekedar informasi kering bisa langsung masuk dengan lancar ke otakku sebelah kiri. 
***

“Apa kira-kira yang dipikirkan kedua anak Obama ya?” Abubakar memulai.
“Mungkin janji bokapnya boleh melihara anjing. Yang pasti mereka ikut kursus senyum bersahabat dan beradab 2 minggu penuh,” balasku.
“Kalo istrinya 2 minggu membahas pakaian,” tambah James.

Di layar TV tampak Presiden Bush melambaikan tangan, masuk ke helikopter yang akan membawanya pensiun ke kampungnya di Texas. Senyap.

Aku duduk di tengah, Abubakar di sebelah kanan melonjorkan kaki, dan James di kiri dengan satu kaki bersila di sofa. Keduanya sudah duduk nikmat, jadi tak enak meminta James bergeser ke tengah supaya aku lebih leluasa bolak balik ke dapur.

Kamera bergerak ke ratusan ribu massa.

“Mantab…nggak perlu minta cuti untuk nonton sejarah,” kuhidupkan lagi suasana.
“Kalau bos marah, laporin ke polisi. Ya nggak,” kata Abubakar. “Gile, muka bos gua langsung kebayang.”
“Inikan sejarah dunia cing, bukan cuma Amerika,” James nyelutuk.

Suasana sudah cair. Aku lega, senang, dan agak lupa daratan.

“Yoi, pelantikannya saja bisa menghentikan serangan Israel ke Gaza.”  

Tiba-tiba aku mendengar jelas debar jantungku. Kesalahan besar telah kulakukan.

Terdengar suara kaki Abubakar ditarik; posisi duduknya kini bersandar tegak. Di kiriku terdengar gerakan James menurunkan kaki kanan; dia bersandar agak ke kiri ke arah lengan sofa, sedikit menghadap ke aku dan Abubakar. Aku membatu, darahku membeku. Kutarik nafas pelan, tapi tak berhasil memancing komentar yang mencairkan, yang sekaligus akan membantuku mengendalikan atmosfir ketegangan di atas sofa biru di ruang tamuku. Kutatap layar TV tapi nanar; hanya titik-titik pasir.

“Keterlaluan… orang Palestina dibantai dan seluruh dunia diam,” kata Abubakar sambil tangan kanannya menggaruk-garuk kepala.
“Timur Tengah itu rumit, dan dunia belum ketemu perspektif yang tepat,” kata James mencoba meredakan. Aku lega; di layar TV terlihat lagi marinir Amerika berbaris rapi dan gagah.

Tapi Abubakar sudah duduk tegak.

“Perspektif apa lagi. 1.300 orang Palestina di Gaza dibantai terang-terangan sama Isreael. Ngerti masalahnya nggak? Kalau nggak ngerti, ya nggak apa-apa., tapi diam… jangan ngaco.”
“Bukan ngaco, tapi gimana dengan hak membela diri Israel?”
“Membela diri apaan. Membunuh 1.300 orang, sebagian besar anak-anak dan perempuan…. Membela diri??? Salah besar. Itu namanya pembantaian,” Abubakar mengangkat telunjuk menuding-nuding Sony Bravia. Di layar TV tampak seorang ibu kulit hitam. Entah apa yang dikatakannya tak bisa kudengar. Suara Abubakar dan James berlintasan seperti desing peluru di telingaku.
  
“Siapa yang duluan menyerang? Dua hari setelah Natal, roket Palestina terbang ke Israel. Hamas yang tidak mau memperpanjang gencatan senjata.”
“Gini. Anak singkong di belakang kompleksmu melempar batu ke rumahmu. Kaca jendela pecah, atau taruhlah kepalamu bocor, kena 2 jahitan. Tapi apa besoknya kau bawa senapan mesin M16 untuk menembaki seluruh kampung sampai semua anak kecil di sana mati supaya tak ada lagi lemparan batu. Begitu…,” Abubakar menggeser arah badannya setengah menghadap aku dan James.
“Oh. jadi menurutmu orang Palestina baru satu kali menembak roket ke Israel?”

Aku masih berjuang mencari jalan untuk mengkoreksi kesalahan terbesarku. Palestina adalah satu-satunya hal yang tak bisa kukomentari. Terlalu rumit dan terlalu banyak pihak luar yang ikut campur, juga terlalu banyak darah dan emosi yang terlibat. Aku berani berkomentar apapun –Liga Utama Inggris, Liga PSSI, dangdut, jazz, mode pakaian, jihad, sepeda gunung, motor gede, Uni Eropa, program nuklir Iran, credit crunch atau apa saja — terlepas dari ngawur tidaknya. Berkomentar sudah menjadi mekanisme otak dan tubuhku untuk bisa bertahan hidup, tapi tidak tentang Palestina dan Israel. Tidak.

Dan aku tak bisa langsung keluar dari perdebatan --seperti yang kulakukan selama ini— karena Abubakar dan James duduk di sebelah kiri dan kanan di sofa rumahku atas undanganku.

“Kembali ke soal perspektif tadi. Lu kurung orang pakai tembok setinggi  2 meter sampai makanan, minuman, dan obat-obatan tak bisa masuk. Terus lu harapkan orang di dalam kurungan tembok itu diam saja, manggut-manggut. Emangnya orang Palestina burung beo? Mereka itu manusia, sama seperti kita-kita ini, sama persis!” teriak Abubakar sambil menunjuk hidungnya.
“Terus tembok itu dibangun untuk apa?” James menyorongkan mukanya ke arah Abubakar sampai dengus nafasnya terasa menghembus pipi kiriku.
“Karena Israel bangsat, barbar, pembunuh. Dan selalu berhasil lolos dari hukuman,” tangan kanan Abubakar yang dikepal mengayun-ayun di udara.

Kupegang kepalaku dengan kedua tangan. Kutarik semua energiku. “Begini kawan-kawan. Untuk menyelesaikan masalah Palestina, diperlukan orang yang pertama-tama harus berpihak pada perdamaian, tapi juga berpihak pada Palestina dan sekaligus berpihak pada Israel,” kuselesaikan kalimatku perlahan-lahan.

“Ah wartawan bijak,” Abubakar melambaikan tangan kanannya seolah-olah memperkenalkan aku kepada ratusan ribu orang di layar TV. “Peliputan yang dicanangkan sebagai seimbang dan adil itulah yang telah membiarkan pembantaian manusia tak berdosa berlangsung terang-terangan.”
“Media yang terlalu berpihak pada selera murahan yang membuat jadi makin rumit. Demi dramatisasi dan sensasi. Gambar-gambar penguburan dengan ribuan penduka, gedung yang ambruk di Gaza, pesawat tempur Israel, tank-tank Israel. Seolah-olah di Israel tak ada orang yang mati, tak ada rumah yang rusak. Sensasi memang laris,” sambung James.
“Lu gila kali ya. Tiga belas orang mati lu persoalkan, yang 10-nya cuma  tentara lagi. Kau harus lihat dengan perspektif kemanusian; 1.300 mati dibantai, puluhan ribu rumah hancur. Nah ini dia yang diperlukan; perspektif kemanusiaan, yang tadi kau cari-cari itu. Cuma justru itulah yang tidak ada,” Dan Abubakar setengah berteriak dan mengeja; “T i d a k a d a.”

Aku menyerah. Bobot kepala dan dada kujatuhkan seluruhnya ke perut, menunduk tak berdaya.

“Kompleksitas Timur Tengah nggak bisa dibuat jadi satu potong doang. Hamas tidak mengakui Israel dan berjuang dengan kekerasan. Artinya Hamas yang memulai kekerasan. Untung mereka tidak punya senjata nuklir. Kalau punya, bukan cuma Israel yang mereka musnahkan… seluruh dunia bos.”
“Kalau ada orang yang masuk ke rumahmu dan tak mau keluar, terus kau diam saja duduk-duduk sambil merokok di luar. Kalau orang idiot ya begitu… Negara Israel itu berdiri di atas tanah Palestina!!!!” Abubakar memekik sampai aku yakin terdengar tetangga.

“Jadi Israel sebagai negara mau diabaikan??? Negara itu nyata, dengan kekuatan ekonomi, militer, dan sistem politik sama sosial yang jalan beneran. Itu kenyataan. Mau dimusnahkan? Suruhlah Hamas beli senjata nuklir dari Iran… lha memang cuma kekerasan yang mereka bisa.”
“Nggak ngerti gua jalan pikiranmu. Asli, nggak ngerti… Nggak ngerti. Apakah persoalan politik antara Hamas dan pemerintah Israel bisa menjadi alasan dari pembantaian 1.300 orang yang nggak tahu apa-apa tentang politik. Lu punya hati nggak.”
“Bung, hati gua teriris setiap melihat foto-foto dari Gaza…kebayang anak dan istri. Tapi sekarang ini yang penting adalah bagaimana supaya tragedi itu tidak terulang…”
“Seret Ehud Olmert dan antek-anteknya ke pengadilan internasional Den Hag dan hukum seberat-beratnya,” Abubakar menyela dengan pekik terkerasnya.

Sekarang, tukang soto mie di bawah pasti juga bisa mendengar. Matilah aku, apa kata orang; keributan di rumahku telah menggoncang ketenangan rutin tengah hari di Kebon Kacang. Tinggal menunggu siapa yang lebih dulu tergerak untuk mengetok pintu. Rina di sebelah kanan --kalau dia juga pas minta cuti—  atau istri Rahmat di sebelah –kalau sedang tidak jemput anak dari sekolah— mungkin tukang soto mie di bawah atau Mang Ajap di atas, yang pasti sedang nonton TV juga. Bisa jadi Pak RT sudah mendapat laporan. ‘Eureka,’ badanku mendadak tegak kembali.

“Terus setelah Ehud Olmert ditembak mati, urusan selesai?”
“Pemerintah Israel berikutnya pasti mikir 20 kali untuk membantai orang Palestina. Sekarang ini tak ada tekanan internasional dan Israel bebas membantai orang tak berdaya. Bukan Sekjen PBB yang cuma ngomong doing, tapi yang bertindak membela kemanusiaan. Itu yang dibutuhkan, Tangan kita semua sudah berdarah membiarkan orang Palestina dibantai… Jelas???”
“Oke, terus setelah itu apa… Satu-satunya jalan keluar adalah Hamas mengakui Israel; ada dua Negara yaitu Israel dan Palestina yang berdampingan dengan damai. Itulah yang diusulkan bertahun-tahun tapi dimanakah Hamas berada…” balas James dengan suara yang lebih pelan, mungkin merasa memenangkan perdebatan.
“Tapi Hamas menang pemilu dan suaranya adalah suara mayoritas rakyat Palestina. Hormati demokrasi bung, kan itu yang didengung-dengungkan Negara Barat yang selalu pakai standard ganda,” Abubakar kembali menggelegar tak mau kalah.

Kutarik nafasku. “Sudahlah, memang semuanya bangsat dan anjing. Kalau sudah politik tak akan kemana-mana,” teriakku sambil menggebrak meja. Ketiga mangkuk coklat panas dan piring berisi kacang bergetar kecil. Abubakar dan James kaget; keduanya melongo.

“Mau Ehud Olmert, mau Ismail Haniyeh, Mahmoud Abbas, Bush, Obama, SBY, semuanya penipu. Tukang tipu rakyat, harus diadili. Bangsat, kurang ajar, anjing kurap, setan alas!” genggaman tangan kupukulkan ke udara kosong. “Kita semua harus kembali ke khitah John Lennon; imagine there is no country,” kuhentakkan kaki ke lantai sambil membayangkan Mbok Sarinah di tingkat bawah sedang tidur dan tersentak bangun. ‘Kok belum ada juga yang mengetok pintu,’ aku mulai cemas.

“Itu masalah utamanya; pemerintah dan kekuasaan. Anjing pemerintah, anjing negara, ganyang senjata, hidup kemanusiaan,” teriakku sambil menggebrak meja dan menghentak kaki bersamaan, dengan harapan satpam di Plaza Indonesia bisa ikut mendengar.

“Tok…tok… tok….” Aku langsung bangkit melompati kaki Abubakar dan membuka pintu; ada Rina, di sampingnya berdiri istri Rahmat dengan anaknya yang masih pakai seragam sekolah putih merah di belakang, juga ada Mang Ajap dan Mbok Sarinah.

“Maaf  Mas, kami bukan mau mengganggu, tapi mungkin perlu bantuan,” tanya istri Rahmat halus. Aku intip pakai ekor mataku Rina dan Mang Ajap melotot ke dalam rumah, menyelidik.

“Maaf, maaf… saya jadi bikin repot. Nggak apa-apa Mbak, cuma asyik berdebat. Itu teman saya Abubakar dan James,” kataku dengan senyum direnyah-renyahkan sambil menunjuk ke arah Abubakar dan James. Keduanya tersenyum membalas --senyum beradab kayak kedua anak Obama di TV.

“Ya sudah, kalau perlu apa-apa, kasih tahu kami Mas,” kata istri Rahmat sambil berbalik diikuti yang lain. Rina dan Mang Ajap masih melempar sorotan tajam penasaran ke dalam. “Beneran lu Ok,” bisik Rina sebelum benar-benar pergi.  “Ok berat ‘Rin, makasih ya,” dan kututup pintu.

Layar TV sudah berganti dengan sinetron Bugil, Bule Gile --acara TV yang paling menjijikkan di seluruh alam semesta. Kukeraskan suaranya; “nah pas banget acaranya; Bule Gile,” celutukku mencoba menguasai kembali keadaan. 

Aku mau melangkah kembali ke tengah sofa dan Abubakar berdiri; ”Gua cabut.”
Basa-basi aku tanya; “nggak nonton Bule Gile dulu.”
“Udah cukup ketemu orang gila hari ini.”

Giliranku melongo. Untunglah tak ada suara James terdengar dari belakangku. Abubakar pergi, kututup pintu, dan basa-basi ke James; “lu makan siang di sini ya bro.”
“Nggaklah, nunggu bentar biar nggak ketemu orang sinting di tempat parkir.”

Aku duduk di sofa, kira-kira diantara Abubakar dan aku duduk tadi. Pantat bagian sebelah kanan terasa hangat sedikit, sisa-sisa peninggalan Abubakar. Kukeraskan suara TV. Untuk pertama kalinya --dan sekali-kalinya—  aku tersenyum riang nonton Bugil.
***

Gie
Rama Yunalis Oktavia

Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

ceritanet©listonpsiregar2000