ceritanetsitus karya tulis, edisi 170 selasa 090120

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

novel Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

Dengan menyerahkan berkas dukungan, teman-teman Genesiss berharap aku tak bernasib sama dengan rekan-rekan lainnya. Hanya karena terlambat membuat pernyataan sikap bersama untuk menolak dikeluarkannya anak-anak Al-Mizan, Genesiss harus kehilangan tiga orang. Walau diberi surat pindah, tetapi dikeluarkan dari sekolah tetap menjadi hal menyakitkan.

Pak Muhtar, sesaat membaca beberapa lembaran pernyataan sikap yang dibawa Rahmad dan Sukijan, hanya diam.

“Baik, ini saya terima. Tetapi jangan berharap banyak. Sebab baik sekolah atau yayasan tidak ingin membedakan perlakuan antara Alif dengan yang sebelumnya, yang sudah dikeluarkan,” Pak Muhtar seolah tak ingin ada pengaruh luar dalam memutuskan kebijakan terhadap kasus yang menimpaku.

“Tapi kasus Alif tidak sama dengan kasus narkoba, Pak,” Sukijan berargumen.
“Saya tidak bisa memutuskan sekarang. Ada rapat dewan guru dan yayasan. Jadi tunggu saja. Yang penting Alif masuk sekolah seperti biasa sampai ada keputusan.”

Walau agak kecewa, Sukijan dan Rahmad tetap berharap, dengan pernyataan sikap bersama dari beberapa organisasi intra sekolah Al-Mizan bisa mempengaruhi kebijakan sekolah. Rasa pesimis dan harap-harap cemas juga seketika bergelayut dalam benakku.

“Tenang saja Lif. Kau tetap sekolah. Mudah-mudahan tak seburuk yang kita kira,” ujar Rahmad setelah berkumpul kembali di posko Genesiss. Anak-anak Genesiss lain langsung pulang setelah mendengar laporan dari Rahmad dan Sukijan. Tinggal aku, Sukijan, Rahmad, Agus, Marshal, dan Kholis; mereka rupanya ingin menghibur kekalutanku.

Jam 4 sore, anak-anak Genesiss yang berdatangan, untuk meramaikan acara nongkrong. Sejak bebas dari penjara, aku lebih banyak tinggal di posko Genesiss. Makan dan minum aku numpang pada Kholis, karena posko Genesiss memang garasi mobil Kholis yang didekonstruksi jadi semacam ruangan kantor.

Sebagai tukar jasa, aku ikut membantu membersihkan kandang ayam dan mengumpulkan telur di rumah Kholis. Keluarga Kholis memelihara  2000 ayam, dan etiap pagi telurnya harus diambil. Alhamdulillah, sesekali aku dapat bonus gaji dari Ibu Kholis. Cukup sebagai tambahan untuk beli rokok anak-anak Genesiss.

Sore itu kami nongkrong di warung depan, setitar 10 meter dari posko. Ada 12 orang anak Genesiss dan beberapa anak kampung yang memang sering mangkal bersama kami. Mereka itu beragam, ada pencopet, mantan napi yang membunuh teman sendiri, perempuan 'ayam kampung.' Anak-anak Genesiss sendiri bisa dibilang terlalu alim dibanding anak kampung itu, tapi kami bergaul baik dengan mereka tanpa harus kena pengaruhnya. Ada juga anak Genesiss yang pernah mabuk, tapi bukan di posko dan juga bukan saat nongkrong sama anak Genesiss lainnya. Mabuk di posko atau ketika ngumpul dengan anak Genesiss akan dikeluarkan agar Genesiss tidak jadi kelompok tukang mabuk.

Kami lagi ngobrolo naglur ngidul ketika suara derum motor  dari arah simpang empat di ujung jalan membuat kami semua otomatis berdiri. Ada sekitar 7 motor bergoncengan, dan semuanya langsung parkir di depan warung persis di depan kami. Dengan gaya preman, Sintong yang menjadu pemimpinnya turun dari motor dan bertolak pinggang.

“Kami kesini bukan ada urusan dengan kalian, tapi dengan Alif,” kata Sintong yang menganakan kacamata hitam. Aku jadi tak bisa menyorot tajam matanya. Spontan, aku mendekat ke arahnya sekaligus sebagai gerakan agar teman-teman lain tak ikut campur. Jarak kami sekiar 3 meteran; walau pelan tapi aku berjalan tegas. Tak tahu apa yang ada di benakku; mungkin instink membela diri semata yang membuat aku melangkah ke arahnya.

Tiba-tiba Sukijan berdiri. Dia kenal betul Sintong, tapi Sintong tak tahu kalau Sukijan anak Genesiss. Aku sendiri tidak pernah menceritakan pada anak-anak Genesiss kalau yang sering mengangguku di Desa Ganjar Agung adalah ‘geng Sintong.' Aku tak suka tawuran, sekedar menyaksikanpun aku tak suka.

”Oi, Tong! Ngapain lu rame-rame kesini?!” Sukijan berjalan lebih cepat dan langsung berdiri di depan Sintong. 
“Ada urusan sedikit sama Alif,” jawabnya singkat.
“Ngapain Alif?! Gua kasih tahu ya. Alif dan anak-anak Genesiss sudah seperti saudara sendiri. Jadi apapun persoalanya yang berhubungan dengan anak-anak Genesiss juga menjadi urusan gua,” Sukijan agak meninggi.

Sukijan memang bukan preman, tapi dia sering naik becak di pasar dan Sintong tahu persis karakter teman-teman Sukijan di pasar. Para penarik beca bukan hanya solider sesama teman, juga berani mati.

“Elu tahu kan siapa gua!? Dan gua tahu persis siapa elu!” tegas Sukijan.
“Lawan aja Jan. Kita ma nunggu komando aja,” celutuk Rahmad yang dari tadi menahan emosi. Rahmad termasuk anak Genesiss yang temperamental. Ia lebih suka menyelesaikan persoalan dengan kekerasan dari pada dengan dialog --hampir sama dengan tentara dan polisi.

“Elu ganggu Alif, sama aja elu ganggu gua,” Sukijan seperti berbisik, tapi persis di depan muka Sintong. Jarak antara hidung mereka berdua, mungkin tinggal dua jari saja.

Sintong sepertinya kaget dengan reaksi Sukijan dan Rahmad. Aku berdiri agak ke belakang kiri Sukijan; menghormati Sukijan yang menyelesaikan persoalan tapi juga siap kalau memang harus turun tangan.

Dia naik kembali ke sepeda motornya. "Urusan gua dengan Alif belum selesai." Sukijan, aku, dan kawan-kawan lain diam saja menyaksikan mereka semua menghidupkan motor. Deru motor menghilang ke persimpangan.
*** 

Hujanku Rinduku
Presiden Hayat

Meong Pada Bu Haji
Multama Nazri HSB

ceritanet©listonpsiregar2000