ceritanetsitus karya tulis, edisi 170 selasa 090120

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

cerpen Hujanku Rinduku
Presiden Hayat

Jakarta, di suatu malam di Bulan Januari; pembicaraan hangat, aroma harum coffe latte dan wajah-wajah sumringah menjebakku tak beranjak dari kedai kopi ini. Tapi kadang-kadang rasa nyaman justru memukul otakku sampai menjadi idiot. Juga menipiskan empati, altruis, dan kepedulian terhadap orang-orang miskin dan tak berdaya.

Beberapa jam lagi hari Minggu menggantikan hari Sabtu. Aku bisa rasakan angin Januari yang dingin mengamuk dengan bengis di luar kedai kopi ini. Menggedor-gedor dinding kaca. Menampar gedung-gedung. Menggoyang-goyangkan Pohon Angsana yang pucat terasing di hutan beton yang angkuh.

Tiba-tiba senyum hujan menggodaku. Menawarkan kenangan manis saat aku masih bocah. Ketika hujan berjumpalitan memijat-mijat kepala dan tubuhku, ketika kusambut hujan dengan hangat karena terjun bebas dari langit untuk memberi kehidupan.

Aku pamit dari kedai kopi dan ada rasa nyaman saat berjalan keluar untuk mencumbu hujanku. Wrrrgh... angin dingin menghadangku saat keluar dari pintu. Bocah pengojek payung terhuyung-huyung dihantam angin. Giginya bergemerutuk dan tubuhnya menggigil menahan dingin. Sialan! Terkutuklah negara yang membiarkan kemiskinan merampas masa bahagia anak-anak bangsa.

Aku kekang rasa kangenku pada hujan dan berjalan bersama si bocah menuju ATM. Beberapa menit kemudian ganti haluan ke minimarket. Dia segera berlari memburu calon pelanggan lain ketika kuberikan ongkos. Aku ambil 2 bungkus susu kotak dan sebungkus rokok. Gizi lengkap dalam kandungan susu sangat kuperlukan untuk doping begadang, sementara rokok untuk menghalau kantuk. 

Setengah meter di depan mini market, ibu-ibu pengemis menahan langkahku. Aku melirik jam tangan. Ha! hampir tengah malam begini masih 'bekerja.' Apakah dia belum cukup uang untuk makan besok? Dia masukkan uang yang kuberikan ke balik selendang batik lusuhnya dan membiarkan koin recehan beberapa ratus perak di gelas plastik bekas Aqua. Tangan kirinya seperti sudah lengket denga gelas pastik itu.

Aku tertegun dan tersihir untuk menghabiskan malam di sini. Kutengok ke kiri dan kanan; ada sedikit ruang kosong di bangku sebelah kiriku. Aku duduk dan menawarkan rokok. Orang disampingku  menggeleng; "terimakasih mas." Tak sampai lima menit, ada lagi nenek pengemis yang berdiri memelas di hadapanku. Dia juga memasukkan uang pemberianku ke balik kembennya dan membiarkan uang recehan tetap di gelas plastik.

Seorang gadis muda turun dari mobil. Rambutnya di-highlight dan  dandanannya 'siap tempur' untuk ke pesta. Sambil chit-chat di hp, matanya tampak jelalatan mencari seseorang. Ketika melihat sedan hitam menepi dan parkir, bergegas dia mendekatinya. Seorang lelaki setengah baya keluar dari mobil dan berlari kecil menghindari hujan. Setelah sunpika-sunpiki, keduanya berjalan ke pintu diskotik.

Beberapa detik kemudian, bocah dekil lewat didepanku menggandeng anak perempuan lain yang sama dekilny> Kutaksir-taksir umur anak perempuan itu tak sampai 2 tahun. Tengah malam masih juga ada anak 2 tahun yang belum tidur; barisan pengemis yang tak akan pernah kutahu jam tidurnya dan tempat tidurnya.

Salah satu cewek yang nongkrong di warung mie membeli permen lolipop dan kembali ke tempat tongkrongannya. Penjual-penjual makanan nampak sibuk membuatkan pesanan pembeli. Pengamen --yang itu-itu saja-- dengan lagu --yang itu-itu saja-- bergiliran mendatangi pembeli yang sedang makan. Ada yang solo karir, ada yang berempat lengkap dengan set drum kecil. Apakah yang berempat lebih banyak dapat uang?

Di depan wartel, sekelompok laki-laki kemayu berkumpul menghamburkan bahasa gaul. Hanya 3a meter di depanku, di tempat parkir, sepasang ABG nampak asyik bercanda mesra. Yang lelaki ganteng, yang perempuan cantik. Keduanya memakai sepatu dan baju merk terkenal yang menjadi seragam ABG seluruh planet; Levis dan Nike. Tak sungkan sesekali mereka berpelukan. Alamak! Si perempuan cantik yang duduk diatas motor itupersis menghadapku. Duduknya sembarangan, kedua pahanya membuka ruang ke dalam. Dia sudah tak ingat apapun dimesrai pacarnya.

Aku berdiri dan berjalan ke ujung jalan, menghadang hujan. Menuntaskan rinduku. Empat ibu-ibu pengemis jongkok merapat ke dinding toko yang sudah tutup. Mereka berbagi dua mangkok bubur ayam dan saling bertukar cerita. Tak jelas, tapi aku dengar seorang mengaku kalau sebagian perolehannya dirampas sama preman pasar. Aku berdiri di dekat mereka bukan untuk mendengar cerita mereka, tapi menikmati celoteh suara mereka berharmoni dengan suara hujan.

Sekitar lebih lima belas menit kemudian mereka mengumpulkan uang receh di masing-masing gelas untuk membayar bubur. Di tengah tampias hujan yang segar, wajah dan kaos yang sedikit basah, tatapan aneh mata orang-orang, berkelebatan di benakku Pasal 34 UUD 1945, Bunda Teresa, Khong-sim Kai-pang di cerita Kho Ping Hoo  dan Nabi Muhammad SAW yang sedang menyuapi pengemis buta yang membencinya. 

Kubuang semuanya dari benak itu dan kunikmati hujanku yang sudah lama kurindukan.
***

Meong Pada Bu Haji
Multama Nazri HSB

Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

ceritanet©listonpsiregar2000