ceritanetsitus karya tulis, edisi 170 selasa 090120

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

sajak Meong Pada Bu Haji
Multama Nazri HSB

Apakah manusia itu Bu Haji?
Apa benar mereka kaum ilahi,
Mengapa mereka banyak yang bunuh diri,
Dukun santet dianggap ayah sendiri.

Ini toh manusia itu Bu Haji ?
Yang oleh mereka anak yatim dizolimi,
Setelahnya enak tidur nyenyak dan bermimpi,
Manusia makhluk yang paling beradab, huhhhh basiiiii.

Walah rek..rek.. ini yah namanya manusia Bu Haji?
Menguasai hasil bumi tuk perut sendiri,
Tak menghiraukan pinjaman kecil petani
Wah, kalo begitu lebih mulia dong sapi?

Haduh..haduh.. manusia ini Bu Haji,
Mereka buat zaman ini seperti komedi,
Penjagal manusia kok iso nya banci,
Habis ditiduri kok dimutilasi,
Malah cengar cengir bangga waktu masuk tivi

Ternyata manusia ya Bu Haji,
Yang mengumbar ayat-ayat Kholik tuk membela diri,
Apa itu namanya, gosip selebriti?
Kawin cerai 4 x alasannya, bisa adil kok ama bini.

Aku bersyukur Bu Haji,
Menjadi makhluk yang oleh Muhammad disayangi,
Aku tidak pernah mengingkari jati diri,
Yang pura-pura tak melihat dan tak mengerti,
saat kaum ku disakiti.

Elus kepala ku Bu Haji,
Meong... meoooonggg aku bisa bernyanyi,
Jangan biarkan benar adanya reinkarnasi,
Karna terlahir jadi manusia aku tak sudi,
Jika ku harus jauh dari Sang Ilahi.
***

Torehan Keindahan Bundaku

Lemah bergelayut di lengan mu
Adakah karna menopang aku yang terlalu lama belajar berjalan?
Goresan abstrak disudut matamu
Terlukis memahat jelas, saat kau tersenyum,
Adakah karena mengawasi gerak lincahku?
Helaian rambut yang tak lagi legam.
Tak lagi dapat kau sematkan hiasan indah.
Lebih dari satu warna bermain pada mahkotamu.
Bahkan dayang nirwana, tak lagi mampu mengepang rambutmu yang menipis.
Adakah karna waktumu hanya tuk memikirkan ku?
Pewarna merah muda, yang dulu menghiasi bibirmu
Tidak lagi kau tebarkan untuk wajahmu
Bubuk wangi semerbak pada rona pipimu
Tidak lagi sempat menambah rias wajahmu
Adakah karna kebutuhanku semakin bertambah?

Bunda
Dulu kau begitu mewah dengan warna-warni dunia
Dengan segala riasan dan perhiasan yang ayah sematkan padamu
Tiada tampak kini karena biaya sekolah

Bunda
Dulu kau begitu jelita
Kau sangat menawan dengan gaun indah
Yang membuat ayah bangga saat menyematkan tangannya pada pingggang mungilmu
Dimana itu semua Bunda?
Apa karna kata orang kuliah itu mahal?

Bunda
Lengan lemah itu
Mata kuyu dan keriput
Rambut tipis dan putih

Bunda
Kusematkan kehendakmu dalam pikira
Kehendakmu agar kuperoleh ampun
Pinta yang sangat lirih di hati
Ketika bunda berkata
'Dinda, tambahkan satu keindahan, berikan aku senyuman bangga akan mu, saat menutup mata'

***

Hujanku Rinduku
Presiden Hayat

Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

ceritanet©listonpsiregar2000