ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 16, Rabu 4 Juli 2001
___________________________________________________


novel Dokter Zhivago 16
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960, dengan penulisan ejaan baru

 

Yang masuk itu orang gemuk dengan kemeja Tolstoy dan ikat pinggang kulit yang lebar, sepatu but dari vilt dan celana yang melembung ditentang lutut. Rupanya seperti orang yang baik hati, tapi sebuah 'prince-nez' dengan pita hitam lebar bergerak ganas di ujung hidungnya. Ia telah mencopot topinya di serambi, tapi tak menanggalkan syalnya yang dibawanya masuk terseret-seret di lantai, sedang topinyapun masih di tangannya. Segala beban ini mencegahnya untuk berjabatan tangan, bahkan untuk berkata : "Apa kabar?"

"'Hmmm," lenguhnya dengan putus asa, sambil menengok di sekliling kamar.
"Taruh di mana saja," kata Niikolay Nikolayevich, maka dengan beegitu Vyvolochnov dapat menguasai diri kembali serta buka mulut.

Dia adalah seorang murid Tolstoy yang membuat segala buah pikiran gurunya yang serba gerak itu menjadi dangkal hingga tak bebas dan lama tergenang tanpa gangguan. Ia datang untuk minta kepada Nikolay Nikolayevich supaya bicara dalam rapat untuk menyokong para tawanan politik, yang akan diadakan di salah satu sekolahan.

"Saya sudah pernah bicara di sekolah itu."
"Untuk menyokong polisi yang ditawan?"
"Ya."
"Harap bicara sekali lagi."

Nikolay Nikolayevich mengelak sedikit, lalu menyatakan bersedia. Selesai urusan itu, Nikolay Nikolayevich tak berusaha menahan tamunya. Sebenarnya ia dapat pergi seketika, tapi agaknya merasa bahwa itu kurang sopan, maka dicarinya buah tutur yang hangat dan wajar sebagai pamitan. Percakapan menjadi terpaksa-paksa dan tak nyaman.

"Jadi tuan sekarang dekaden? Menggunakan mistik?"
"Apa maksud tuan?"
"Itu tak guna. Tuan ingat dewan dusun kita?"
"Tentu! Bukankah kita kumpulkan bersama?"
"Dan sunggu baik dan meriah usaha kita memperjuangkan sekolah dan sekolah tinggi guru. Masih ingat?"
"Tentu. Baguslah pergulatan itu."
"Sudah itu adakah tuan bekerja untuk kesehatan umum?"
"Ada sementara."
"Hmmm... Dan sekarang yang serba tinggi saja, dan pohon air dan soal pemuda dan Mari seperti Matahari*. Tak masuk akal, sungguh, orang cendekia seperti tuan, dibekali rasa humor serta pengetahuan tentang manusia........ Wah! Tapi apakah dengan ini saya terobos apa yang kudus bagi tuan?"
"Apa guna, bicara untuk bicara saja? Apa yang kita ributkan? Tuan tak tahu idaman saya."
"Rusia butuh gedung sekolah dan rumah sakit, bukan faun dan pohon air."
"Tak ada yang menyangkal."
"Kaum tani berpakaian compang-camping dan kelaparan........."

Demikian percakapan tersentak-sentak. Meskipun sadar akan tidak ada gunanya, namun Nikolay Nikolayevich mencoba juga menerangkan apa yang menariknya kepada beberapa pengarang dari mashab symbolis. Lalu dengan beralih kepada ajaran-ajaran Tolstoy, berkatalah ia :

"Sampai ke satu hal saya ikuti tuan, tapi Tolstoy mengatakan makin banyak orang mengabdikan diri pada keindahan, makin jauh ia tinggalkan budi......"
"Dan tuan anggap baik yang sebaliknya, dunia akan tertolong oleh keindahan, begitu? Dostoyevsky, Rozanov**, sandiwara misteri dan apa lagi?"
"Tunggu, saya bentangkan dulu pendirian saya. Hemat saya, apabila binatang yang tidur dalam jiwa manusia dapat dikekang oleh ancaman --macam apa saja, penjara atau pembalasan setelah mati-- maka lambang tertinggi kemanusiaan adalah si penjinak singa dalam sirkus dengan cambuknya dan bukan pendeta yang mengorbankan diri. Tapi tak tuan lihatkah soalnya? Apa yang berabad-abad meningkatkan manusia atas hewan bukanlah pentung, melainkan musik dalam batin ; daya tak tertundukkan dari kebenaran yang tak bersenjata, dengan teladan yang menarik. Orang selalu berpendapat bahwa yang paling penting dalam Evangeli ialah pelajaran ahlak serta firman-firman. Tapi bagi saya yang terpenting ialah kenyataan bahwa Kristus bicara dengan parabel-parabel yang terambil dari penghidupan sehari-hari, bahwa ia jelaskan kebenaran dengan realitet sehari-hari. Gagasan yang mendasarinya ialah bahwa pergaulan antara manusia itu kekal, pun bahwa keseluruhan hidup ini suatu perlambangan, sebab keseluruhannya mengandung arti.

"Aku tak mengerti sepatah katapun. Hendaknya tuan tulis buku tentang itu!"

Akhirnya pergilah Vyvolochnov. Nikolay Nikolayevich bukan main geramnya. Ia marahi diri sendiri, sebab ia nafaskan beberapa buah pikiran yang paling intim kepada si ongok tadi, hingga tak sedikitpun ada hasilnya. Kemudian, seperti yang kadang terjadi, kemarahannya bertukar sasaran. Ia ingat hal lain yang juga mengganggunya, lalu dilupakannnya Vyvolochnov sama sekali.

Ia tak memelihara buku harian namun satu dua kali dalam setahun ditulisnya dalam buku catatan tebal buah pikiran yang meninggalkan kesan istimewa. Diambilnya buku itu, lalu mulai menulis dengan huruf-huruf besar yang mudah dibaca. Inilah yang ditulisnya.

"Sepanjang hari dibikin bingung oleh perempuan konyol dari Schlesingen itu yang datang pagi ini, duduk sampai waktu makan siang dan selama dua jam penuh mengesalkan hatiku dengan membacakan bahasa kacauan itu --naskah opera bersajak oleh symbolis X untuk simponi kosmogonis oleh komponis Y-- jiwa planet-planet, suara unsur-unsur, dan sebagainya dan sebagainya.

"Tiba-tiba mengerti mengapa bahan ini begitu buruk, membosankan dan dibikin-bikin, juga bila terjumpa dalam Faust. Seluruhnya merupakan kekenesan, tak seorangpun sungguh-sungguh berminat kepadanya. Orang modern tak memerlukannya. Bila ia gelisah oleh rahasia semesta, ia berpaling ke ilmu alam, tidak ke hexameter Hesiodus."

"Tak hanya bahwa bentuknya merupakan anachronisme dan bahwa jiwa-jiwa dari bumi dan udara itu cuma mengacaukan apa yang telah dijelaskan oleh ilmu, tapi juga oleh genre ini terlepas semat-mata dari inti sendiri, sebab musabab kesenian sekarang."

"Segala kosmogoni ini khusus untuk dunia purba, dunia yang penghuninya sangat sedikit, hingga alam belum diatasi oleh manusia. Mamut masih mengembara di bumi, naga dan dinosaurus masih segar dalam ingatan orang. Alam bersahaja nampak di matamu, menunjam ganas tak terelakkan pada kudukmu, hingga mungkinlah ia benar-benar penuh dewa-dewi. Itulah halaman-halaman pertama kontak insai, yaitu baru permulaannya."

"Dunia purba ini berakhir dengan Roma, berhenti lantaran penduduk terlalu padat."

"Roma adalah pasar loak untuk dewa-dewa pinjaman dan bangsa-bangsa terjajah, tempat jual beli berdasarkan dua pangkat --bumi dan langit-- yang pertama untuk budak-budak, lainnya untuk dewa-dewa. Dari Dacia, Herulia, Scythia, Sarmatia, Hyperboria. Roda-roda besar tanpa tanpa jari-jari, mata terbenam dalam lemak, kebiadaban, dagu berlipat, kaisar-kaisar yang buta huruf, ikan yang makan daging budak-budak terpelajar. Kebinatangan yang terpilin tiga kali lipa macam usus. Ketika itu lebih banyak orang dari yang pernah ada sesudah itu semuanya dijejalkan dalam gang-gang di Coliseum dan semuanya serba celaka."

"Kemudian di tengah onggokan emas dan pualan yang memuakkan ini datanglah Dia, dengan langkah cepat dan dilingkungi cahaya, berciri peri kemanusiaan dan dengan provinsialisme Galilea yang bijsaksana, maka sejak saat itu dak adalah dewa atau bangsa, yang ada hanya manusia --manusia si tukang, manusia penggarap ladang, manusia gembala dengan kawanan domba pada waktu surya terbenam, manusia yang namanya kurang megah bunyinya***, dinyanyikan dalam lagu dondang dan diperperibadikan dalam balai seni rupa antero dunia."
***

*. Judul sebuah buku sajak oleh K.D. Balmont
**. V. Rozanov, 1856-1919. Konsep-konsep historiosofisnya mempengaruhi beberapa orang intelektual di St. Petersburg dan Moskow. Aliran ini tak dapat diterima oleh penganut Tolstoy
***. Menunjukkan ucapan Gorky yang termashur : "Manusia yang namanya berbunyi megah."





 

ceritanet
kirim karya tulis
©listonpsiregar2000