ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 16, Rabu 4 Juli 2001
___________________________________________________


esei Sekali Lagi, Tionghoa Atau Cina
Myra Sidharta
Pada masa ini, soal Tionghoa atau Cina merupakan hal yang mubazir dan sekaligus sepele bagi saya. Bukankah ada begitu banyak hal-hal yang jauh lebih penting dan lebih aktual untuk dibahas? Mundur atau tidaknya Gus Dur, Imlek sebagai hari Nasional, pencabutan TAP-TAP yang ternyata berjumlah 62 butir, bukankah semua ini jauh lebih penting? Ada apa lagi mengenai masalah ini yang dapat saya bicarakan di sini setelah begitu banyak pakar-pakar yang telah membahasnya? Untuk mendapatkan ide-ide baru saya mengirimkan e-mail kepada seorang teman dari Belanda dan saya pun mengutarakan masalah saya kepada dia. Mungkin saja dia dapat membantu karena orang Belanda pun sekarang lebih suka disebut Nederlander dan tidak lagi Hollander seperti biasa. Temanku membalas: "Oh jangan salah, kita sekarang lebih suka disebut Nederlanders bukan karena merasa dihina sebagai Hollander, melainkan dengan alasan lain. Holland sebenarnya hanya suatu provinsi saja, sedangkan Nederland adalah seluruh negara.
selengkapnya

                                              komentar Cina-nya Indonesia

laporan Mimpi Administrasi Saya
Maya Susiyani
Saya pernah bermimpi, semua urusan administrasi, terutama yang berhubungan dengan instansi pemerintah Indonesia, bisa cepat, murah dan tidak ada calo.Saya memang bukan orang yang sangat teramat sibuk, yang terasa membuang waktu kalau terlibat urusan itu. Tapi juga bukan orang kaya raya, yang bisa membayar jasa seseorang untuk mengurus tetek bengek administrasi. Saya cuma ingin semua urusan administrasi untuk saya bisa saya tangani sendiri, dengan cepat, murah, dan tidak ada calo. Tapi seperti saya bilang, untuk Indonesia itu hanya mimpi saja. Mungkin berlebihan jika membandingkan dengan Amerika. Ini hanya urusan praktis saja, karena kebetulan saya berkunjung satu bulan ke Amerika, dan serasa mimpi saya bisa juga jadi kenyataan di suatu tempat yang jauh. Tentu saya tidak tahu bagaimana sebenarnya sistem administrasi negara di Amerika Serikat, cuma di meja-meja yang berhubungan langsung dengan orang-per-orang --atau dalam jargon politiknya ; dengan rakyat-- maka prinsip cepat, murah, dan langsung itu benar-benar nyata.
selengkapnya

 

sajak Kota Mati
Sutrisno Budiharto

Kotaku telah mati, kawan
sisa kilau lilin Sukowati-ku
yang kemarin masih indah, kini telah padam
terlindas angin busuk menikam perut

Kotaku telah mati, kawan
harapan apa lagi yang masih bisa digapai
bila hukum dan demokrasi hanya jadi kata basa-basi

Kotaku telah mati, kawan
bermimpi pun rasanya tak kuasa lagi
sebab, kebenaran tinggal menjadi patung-patung bisu
yang dikangkangi para mayat


Kotaku telah mati, kawan
cerita tentang apa lagi yang bisa dibangun
bila Merah-Putih itu hanya dikibarkan barisan mayat,
mayat-mayat yang takut lapar,
mayat-mayat yang takut kehilangan darah,
mayat-mayat yang takut mati.

Kotaku telah mati, kawan
tapi aku tak boleh mati
sebab aku tetap ingin mengibarkan Merah-Putih-ku, walau hanya dalam hati

Kotaku telah mati, kawan
tapi kita tak boleh menguburkan diri
peluklah aku, kawan
dan mari kita nyanyikan Indonesia Rasa bersama
di tempat yang tak mati.
selengkapnya

 

novel Dokter Zhivago 16
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960, dengan penulisan ejaan baru

Yang masuk itu orang gemuk dengan kemeja Tolstoy dan ikat pinggang kulit yang lebar, sepatu but dari vilt dan celana yang melembung ditentang lutut. Rupanya seperti orang yang baik hati, tapi sebuah 'prince-nez' dengan pita hitam lebar bergerak ganas di ujung hidungnya. Ia telah mencopot topinya di serambi, tapi tak menanggalkan syalnya yang dibawanya masuk terseret-seret di lantai, sedang topinyapun masih di tangannya. Segala beban ini mencegahnya untuk berjabatan tangan, bahkan untuk berkata : "Apa kabar?"
"'Hmmm," lenguhnya dengan putus asa, sambil menengok di sekliling kamar.
"Taruh di mana saja," kata Niikolay Nikolayevich, maka dengan beegitu Vyvolochnov dapat menguasai diri kembali serta buka mulut.Dia adalah seorang murid Tolstoy yang membuat segala buah pikiran gurunya yang serba gerak itu menjadi dangkal hingga tak bebas dan lama tergenang tanpa gangguan. Ia datang untuk minta kepada Nikolay Nikolayevich supaya bicara dalam rapat untuk menyokong para tawanan politik, yang akan diadakan di salah satu sekolahan.
selengkapnya

penulis edisi 16

 

 

ceritanet
©listonpsiregar2000