ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 16, Rabu 4 Juli 2001
___________________________________________________


sajak Kota Mati
Sutrisno Budiharto

Kotaku telah mati, kawan
sisa kilau lilin Sukowati-ku
yang kemarin masih indah, kini telah padam
terlindas angin busuk menikam perut

Kotaku telah mati, kawan
harapan apa lagi yang masih bisa digapai
bila hukum dan demokrasi hanya jadi kata basa-basi

Kotaku telah mati, kawan
bermimpi pun rasanya tak kuasa lagi
sebab, kebenaran tinggal menjadi patung-patung bisu
yang dikangkangi para mayat

Kotaku telah mati, kawan
cerita tentang apa lagi yang bisa dibangun
bila Merah-Putih itu hanya dikibarkan barisan mayat,
mayat-mayat yang takut lapar,
mayat-mayat yang takut kehilangan darah,
mayat-mayat yang takut mati.

Kotaku telah mati, kawan
tapi aku tak boleh mati
sebab aku tetap ingin mengibarkan Merah-Putih-ku, walau hanya dalam hati

Kotaku telah mati, kawan
tapi kita tak boleh menguburkan diri
peluklah aku, kawan
dan mari kita nyanyikan Indonesia Rasa bersama
di tempat yang tak mati.

Sragen Kulon, Mei 2001


Tanah Air dan Presidenku

Sesungguhnya…
aku sangat ingin mencongkel mata kalian
yang terhormat para hebat
agar kalian bisa melihat lagi
bahwa tanah airku, tanah airmu
bukan hanya Indonesia
tanah air sejatiku lebih luas dari jagad raya

Sesungguhnya…
aku juga ingin merobek lebar-lebar telinga kalian
yang mengaku pahlawan rakyat
agar kalian bisa mendengar lagi
bahwa presidenku, presidenmu
bukan hanya Soekarno, Soeharto, Habibie atau Gus Dur
presiden sejatiku adalah penguasa segala alam

Namun mata dan telinga kalian
rupanya masih tak bisa mengerti tentang kerinduan
rakyatmu
yang lama dijejali demokrasi basa-basi
Dan anak negerimu pun kembali kau biarkan menangis
membakar wajahnya sendiri bagai yatim piatu.
:sudah puaskah kalian?

Sesungguhnya…
aku juga sangat ingin membelah dada kalian
yang mengaku pejuang rakyat
agar aku bisa lebih mengerti
masihkah ada di hati kalian
tentang nama rakyatmu
yang sering kalian gemar-gemborkan.
:tapi kenapa wajah rakyatmu selalu terbakar
dan selalu kau biarkan terbakar bagai kayu bakar?
(ah, aku sudah lelah mendengar kata-kata kalian)

solo terbakar, 20 Oktober 1999

Akhirnya

Pada akhirnya kita adalah sampah
seperti kentut yang selalu dicampakkan
seperti kencing yang harus disingkirkan
seperti tinja yang harus dibuang
seperti limbah-limbah yang selalu di-sia-sia-kan

Pada akhirnya kita adalah sampah
Buat apa pusing memaniskan diri
Menyepuh nama dengan emas segala
:padahal malaikat tak bisa ditipu

Pada akhirnya kita harus menyerah
kemanapun berlari
setinggi apapun membangun mimpi
akan luruh juga nantinya
harus berlutut juga akhirnya
seperti daun yang kehabisan usia.

Pada akhirnya kita harus menyerah
pada tanah dan batas waktu
tapi kadang kita lupa bertanya
untuk apa kita harus di sini
padahal, dunia ini bukan untuk dimiliki
bahkan, tubuhmu-pun bukan milikmu.

Pada akhirnya kita hanyalah sampah
yang harus dikuburkan sedalam rahasia
tapi kadang kita lupa bertanya
rahasia macam apa lagi yang harus dijumpai nanti?

Pada akhirnya kita memang harus pasrah
dalam ketidakpastian atau ke-sia-sia-an
tapi kadang kita lupa bertanya
apakah hidup ini harus dimaknai?

Akhirnya kita hanyalah sampah
tapi tak boleh menyerah
barangkali saja, waktu masih memberikan kesempatan
membuka rahasia, sebelum segalanya sia-sia.

solo, mei 2001




 

ceritanet
kirim karya tulis
©listonpsiregar2000