ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 16, Rabu 4 Juli 2001
___________________________________________________
komentar Cina-nya Indonesia
Liston SiregarWaktu masih SD di Medan, masa awal 1970-an, ibuku punya tukang jahit langganan. Orang Cina tua berkaca-mata tebal dan selalu pakai celana piyama garis-garis biru tua. Kadang dia pakai baju piyama juga, tapi lebih sering pakai kaus kutang putih, yang kalau diingat-ingat lagi sekarang aku yakin merk Swan. Tokonya di Kampung Keling --namanya memang Kampung Keling tapi hampir semua toko punya orang Cina putih, kecuali toko olahraga, toko kain, tukang martabak India, dan satu sekolah India Khalsa. Tak ada merek di toko tukang jahit itu, selain sebuah pening kecil dari seng yang dimur lengket di bagian tengah kusen atas pintu tokonya ; Warga Negara Republik Rakjat Tiongkok.
Isi tokonya sendiri cuma satu meja besar dengan lapisan kayu coklat yang berat, dan lemari kain berpintu kaca di sekeliling dinding. Mesin jahit kayaknya di taruh di belakang, jauh di dalam rumah tokonya. Di ujung meja yang berat ada setrikaan besar, untuk jahitan jadi yang waktu diambil mungkin dianggap masih kurang licin oleh pelanggan. Dipasangnya stop kontak, dipercikkan air, dan bresss. Lurus tulen.
Kelurusan itulah salah satu kekesalan kami, walau persisnya aku cuma ikut-ikutan kedua abangku. Celana pendek putih seragam sekolah yang ujung depan selalu lurus membuat kami jadi sedikit ketinggalan jaman, dan ketika orang-orang sudah pakai retsleting dan kami masih pakai kancing, maka lengkaplah sudah ketinggalan jaman kami. Ketertinggalan semakin jauh lagi karena orang mulai pakai bahan kain yang mengkilat, sementara kami masih katun kasar yang selalu tampak kayak habis dicuci pakai kanji kental. Nasib kami sama saja untuk celana bukan seragam sekolah.
Buruknya lagi, nasib kami tadi lebih banyak ditentukan si tukang jahit Cina itu, yang selalu dipanggil Cik. Ibuku waktu itu Kepala Sekolah dengan determinasi yang kuat dan cukup otoritatif, tapi di toko tukang jahit itu dia selalu takluk. Sesekali kami menunjuk bahan-bahan yang sok modern di lemari kainnya, tapi dia dengan aksen Cina yang kental berhasil mementahkan semua keinginan kemodernan kami dengan dua alasan utama ; kainnya kurang kuat atau susah mencucinya. Kami bertiga pun terlempar lagi ke masa lalu.
Kekuatan jahitan adalah sumber kekesalan kedua. Semua celana kami baru dijadikan lap pel kalau sudah kesempitan, dan dengan ukuran awal yang sengaja agak dilonggarkannya, dijaminlah kalau kami hanya celana baru setiap Hari Natal. Titik. Tak ada alasan kain di bagian pantat sudah agak aus, atau kancingnya lepas, atau sakunya bolong. Semua celana Cik tahan banting.
Abang sulungku yang pertama kali bebas dari penjajahannya, lantas menyusul abangku yang nomor dua. Aku kebagian yang terakhir, yang membuat nasibku lebih buruk lagi karena ada masanya ukuran panjang celanaku tak boleh mendekati lutut di saat celana pendek sepanjang lutut justru sedang mode. Mungkin karena kesal, aku pernah bertanya kepada ibuku, apakah karena orang Tiongkok maka suatu saat dia akan dipulangkan ke Cina. Bapakku yang menjawab, ''dipulangkan kalau ada perang sama Cina.'' Perang itu tak pernah ada.
Tahun 1980-an, waktu kuliah di Semarang, aku berteman dekat dengan Tandiyo Pramono, dan Susan Ismianti. Keduanya orang Cina tapi tak bisa bahasa Cina --kecuali kamsia-- bahkan kalau Tandiyo masih bisa merujuk pada marga keluarga Tan maka Susan sama sekali kosong dan tidak tahu sekaligus tidak perduli dengan marga keluarga. Aksen mereka juga bukan aksen Cina totok seperti Cik tukang jahit warga Tiongkok. Mereka berdua adalah bagian dari aksen khusus masyarakat Cina Jawa yang unik.
Hubunganku dengan kedua Cina itu amat baik, karena sampai pada tingkat keluarga luas. Bisa ikut acara ulang tahun keponakan, atau mengantar engkoh ke rumah keluarga. Tiap kunjungan ke Kudus, saya selalu mampir ke toko tembakau ayahnya Tandiyo dan pulangnya dibekali makanan dan minuman. Tapi praktis kami tak pernah menyentuh isu Cina dan pribumi. Mungkin waktu itu aku agak rikuh sendiri karena separasi Cina dan non-Cina di Medan yang cukup tegas --sampai ada satu masa di jaman SMA yang malam minggunya diisi juga dengan memukuki orang Cina-- membuat aku jadi sedikit merasa kagok.
Mereka benar-benar sahabat tulen yang bisa mewujudkan peribahasa kawan dalam duka dan suka. Tapi hanya beberapa tahun sebelum itu aku masih ikut dalam pasukan memukili keluarga-keluarga mereka --karena separasi Cina dan Cina ala Medan masih melekat. Juga bingung-bingung sendiri, apa kata kawan-kawan di Medan kalau aku pinjam uang orang Cina jika wesel datang telat, dan ternyata tanpa bunga. Cina membikin aku sedikit kagok.
Pindah ke Jakarta, aku berkawan lagi dengan rekan sekerja orang Cina asal Medan. Namanya Robin Ong. Tapi aku yakin dia dulu tidak pernah jadi korban kami. Soalnya Robin Ong tukang berantam, tukang mencaci-maki orang, atau sebutlah dalam satu kata ; tukang bikin masalah. Semua kebengalan orang bukan Cina bisa dia penuhi. Aku bahkan sempat mikir bagaimana caranya dia, dengan kebengalannya, bisa bertahan hidup. Di Medan, paling tidak di jamanku dulu, orang Cina cuma bisa lari atau kasih duit.
Dengan Robin Ong kesadaran Cinaku muncul kembali. Aku bisa saja mengatakan dasar Cina, atau Cina maunya untung sendiri, Cina balelong, atau lihat itu bangsamu korup melulu. Sebaliknya si Robin Ong itu sama ringannya mengatakan Batak main sikat dulu baru tanya, atau Jawa beraninya dari belakang maupun dasar Padang dagang melulu. Jelas dita tidak mengatakan itu kepada bos, atau kepada orang-orang yang tak suka main stereotype. Tapi kalau di jalanan, dalam insiden kekesalan lalu lintas, ada yang teriak Cina, maka Robin Ong teriak juga 'daripada Jawa' walau mungkin yang teriak tadi sebenarnya orang Madura.
Mungkin Cina berbau individualis, korupsi, kaya, dan tertutup --dan siapa yang menjamin tidak ada orang Jawa atau orang Batak yang individualis, korupsi, kaya dan tertutup. Tapi soal isitlah rasanya Cina tetap lebih enak dan modern daripada Tionghoa --atau Orang Jawa lebih modern daripada wong Jowo. Sudah saatnya generasi Indonesia paska Orde Baru yang memutuskan secara natural apa rujukan yang digunakan untuk Cina. Persinya Cina-nya Indonesia, jadi bukan Cina yang terbelit dengan kompleksitas sejarah pra-modern.
ceritanet
kirim karya tulis
©listonpsiregar2000