ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 16, Rabu 4 Juli 2001
___________________________________________________

esei Sekali Lagi, Tionghoa Atau Cina
Myra Sidharta

Pada masa ini, soal Tionghoa atau Cina merupakan hal yang mubazir dan sekaligus sepele bagi saya. Bukankah ada begitu banyak hal-hal yang jauh lebih penting dan lebih aktual untuk dibahas? Mundur atau tidaknya Gus Dur, Imlek sebagai hari Nasional, pencabutan TAP-TAP yang ternyata berjumlah 62 butir, bukankah semua ini jauh lebih penting?

Ada apa lagi mengenai masalah ini yang dapat saya bicarakan di sini setelah begitu banyak pakar-pakar yang telah membahasnya? Untuk mendapatkan ide-ide baru saya mengirimkan e-mail kepada seorang teman dari Belanda dan saya pun mengutarakan masalah saya kepada dia. Mungkin saja dia dapat membantu karena orang Belanda pun sekarang lebih suka disebut Nederlander dan tidak lagi Hollander seperti biasa.

Temanku membalas: "Oh jangan salah, kita sekarang lebih suka disebut Nederlanders bukan karena merasa dihina sebagai Hollander, melainkan dengan alasan lain. Holland sebenarnya hanya suatu provinsi saja, sedangkan Nederland adalah seluruh negara. Seseorang dari propinsi lain tentu saja tidak mau disebut Hollander, karena dia bukan dari propinsi tersebut. Apalagi di propinsi Friesland, yang sudah lama mau memisahkan diri dari Nederland karena mereka merasa berbeda dari pada penduduk-penduduk Belanda lainnya. Mereka sudah mempunyai lagu kebangsaan sendiri dan bendera mereka dengan bentuk-bentuk hati dipakai untuk susu Cap Bendera.

Sebenarnya istillah Dutch, Belanda, dalam bahasa Inggris lebih banyak dipakai sebagai penghinaan: Go Dutch, adalah makan-makan tetapi bayar sendiri-sendiri (bss) seperti istilah sekarang. Istilah ini sebenarnya berarti bahwa Belanda itu pelit, sedangkan Double Dutch berarti ngaco."

Cina Propinsi Mana
Dari teman-teman saya di Singapura dan Beijing saya terima email yang panjang lebar mengenai istilah Tionghoa atau Cina yang sebenarnya dua-duanya sudah dipakai sejak lama. Istilah Zhongguo (Tiongkok) sudah disebut dalam Liji, salah satu Kitab Confucius dan mengacu kepada tempat asal orang Tionghoa di zaman Purbakala yaitu di sekitar Sungai Kuning, yang juga merupakan tempat lahirnya peradaban Tiongkok. Mereka menganggap negara mereka sebagai pusat dunia, sehingga diberi nama Negara Tengah (Zhong berarti tengah dan guo adalah negara). Zhongguo atau Tiongkok dalam lafal Hokkian baru dipakai untuk nama negara pada akhir abad ke 19 ketika ada reformasi dan kaum revolusioner ingin menumbangkan kekaisaran Qing. Nama itulah yang kemudian dipakai dalam pembentukan Republik dengan nama Zhong Hua Min Guo.

Sebelumnya setiap kerajaan memakai namanya sendiri seperti Qin, Tang, dan sebagainya, untuk mengacu kepada negaranya. Kerajaan Qin (221-206 sebelum Masehi), menjadi sangat terkenal sebagai Sina di negara-negara sebelah Barat dari Tiongkok, seperti India, Arab, Yunani. Itulah sebabnya ada orang yang mengklaim bahwa Nabi Mohammad pernah mengatakan : "carilah ilmu sampai ke Cina."

Ketika saya bertanya kepada teman saya Haji Yunus Yahya, istilah mana yang sebenarnya dipakai Nabi --Tiongkok atau Cina-- beliau mengatakan bahwa Nabi memakai istilah Sin, tetapi dia menambahkan bahwa kalimat itu terdapat dalam Hadis, bukan dalam Kitab Suci. Bagaimanapun, rupanya istilah inilah yang dipakai para pedagang Arab ketika pergi ke Tiongkok untuk berdagang. Istilah ini mungkin juga dibawa oleh mereka ke kepulauan Nusantara. Setelah itu di dalam kitab-kitab Buddhisme disalin menjadi Cina dan istilah inilah yang terkenal sampai masa kini.

Orang-orang Tionghoa sendiri jarang memakai nama Cina untuk diri sendiri, tetapi di mana-mana kita kenal istilah Cina, serti Putri Cina, Pecinan, pacar Cina. Lalu istilah apa yang dipakai orang Tionghoa untuk diri sendiri? Menurut Profesor Zhou Nanjing dari Peking University, dahulu orang Tionghoa lebih sering menyebut dirinya menurut provinsi mereka, jadi yang dari provinsi Fujian (Hokkian) menyebut dirinya orang Hokkian, dari pulau Hainan adalah orang Hainan, dari Guangdong juga sebagai Guangdongren, bahkan dari kota besar dapat juga menyebut dirinya menurut kotanya, seperti orang Shanghai, orang Peking. Sedang orang Hakka yang tersebar di seluruh negara dan biasanya disebut Orang Tamu menyebut dirinya orang Hakka atau Khe. Ya, ada contoh lagi, orang dari bagian Utara menyebut dirinya Beifangren, dan dari Selatan Nanfangren. Rupanya kesadaran bahwa mereka adalah bagian dari suatu negara kesatuan belum ada.

Kadang-kadang mereka menyebut dirinya sebagai orang dari kerajaannya, seperti Songren (orang dinasti Song 960-1279), Mingren (orang dinasti Ming 1368-1644), tetapi bangsa Han tidak mengaku dirinya sebagi Qingren (orang dinasti Qing 1644-1911). Soalnya raja-raja dinasti Qing adalah bangsa asing, yaitu orang Manchuria.

Sebutan menurut salah satu dinasti malahan berlangsung sangat lama, yaitu dinasti Tang (618-907), yang memang sangat kuat terutama dalam perdagangan dan menghasilkan banyak benda kebudayaan yang bermutu. Sampai abad ke 20 orang Tionghoa masih sering menyebut dirinya Orang Tang ; Tangren dalam bahasa Mandarin, Tenglang dalam bahasa Hokkian atau Thongin dalam bahasa Hakka. Sedangkan Tiongkok adalah Pegunungan Tang ; dalam bahasa Mandarin Tangshan atau Tengshua dalam bahasa Hokkian. Istillah lain yang sering terdengar adalah Hanren dari nama suku mayoritas Han, untuk membedakan diri dari suku-suku minoritas seperti Hui, Mongol, Miao, dan sebagainya.

Dengan berdirinya Republik pada tahun 1911 yang oleh Kuo Min Tang yang diberi nama: Zhong Hua Min Guo, (Hokkian: Tiong Hoa Bin Kok), maka istilah Tiongkok dan Tionghoa menjadi populer. Tionghoa menjadi istilah pengganti untuk Tjina di Indonesia, karena terasa lebih bermartabat. Perlu diketahui bahwa pada masa itu orang Tjina sering merasa dihina dengan adanya istillah Cina loleng atau Cina mindering. Pada waktu yang sama di Indonesia istillah Inlander juga dianggap menghina dan merendahkan. Maka menurut Haji Yunus Yahya pula, ada kesepakatan antara pers bahasa Melayu-Tionghoa dan pers bahasa Melayu Tinggi, untuk saling menghormati dengan menggunakan Indonesia dan Tiongkok, sedang untuk orang-orangnya istilah yang tepat adalah Indonesier dan orang Tionghoa. Kedua istillah kemudian menjadi lazim di Indonesia sampai ada peraturan di zaman Orde Baru untuk menggantikan Tionghoa dengan Tjina sebagai tanda bahwa Tiongkok patut direndahkan karena dinyatakan (sekalipun tanpa bukti) terlibat dalam G30S.

Orde Baru mundur, dan tentu orang-orang ingin merehabilitasi istilah-istilah Tionghoa dan Tiongkok lagi. Memang alasan orang-orang yang pro Tionghoa-Tiongkok ini cukup kuat, tetapi yang pro Cina yang kebanyakan terdiri dari kaum muda juga masuk akal. Mereka sejak kecil sudah terbiasa dengan istilah Cina dan tidak merasa dihina atau direndahkan.

Usul saya adalah untuk mencari kompromi. Orang Tionghoa memang mempunyai begitu banyak nama, dan sampai sekarang ini Hanren, Huaren, Huaxiaren, Zhongguoren, Zhongyuanren, Zhongzhouren masih lazim. Mungkin tidak ada bangsa lain dengan sebutan sebanyak itu. Seharusnya ini dijadikan bukti bahwa mereka tidak picik, melainkan mempunyai pandangan luas. Jadi biarlah masing-masing memilih yang mana paling pantas untuk mereka. Selama sebutan tersebut dipakai dengan pantas tanpa maksud menghina, kita harus dapat menerimanya.
***

 

ceritanet
kirim karya tulis
©listonpsiregar2000