ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 16, Rabu 4 Juli 2001
___________________________________________________


laporan Mimpi Administrasi Saya
Maya Susiyani

Saya pernah bermimpi, semua urusan administrasi, terutama yang berhubungan dengan instansi pemerintah Indonesia, bisa cepat, murah dan tidak ada calo.Saya memang bukan orang yang sangat teramat sibuk, yang terasa membuang waktu kalau terlibat urusan itu. Tapi juga bukan orang kaya raya, yang bisa membayar jasa seseorang untuk mengurus tetek bengek administrasi. Saya cuma ingin semua urusan administrasi untuk saya bisa saya tangani sendiri, dengan cepat, murah, dan tidak ada calo. Tapi seperti saya bilang, untuk Indonesia itu hanya mimpi saja.

Mungkin berlebihan jika membandingkan dengan Amerika. Ini hanya urusan praktis saja, karena kebetulan saya berkunjung satu bulan ke Amerika, dan serasa mimpi saya bisa juga jadi kenyataan di suatu tempat yang jauh. Tentu saya tidak tahu bagaimana sebenarnya sistem administrasi negara di Amerika Serikat, cuma di meja-meja yang berhubungan langsung dengan orang-per-orang --atau dalam jargon politiknya ; dengan rakyat-- maka prinsip cepat, murah, dan langsung itu benar-benar nyata.

Hari pertama tiba di Amerika, teman saya warga Amerika mengajak saya ke semacam Kantor Samsat di salah satu county, di negara bagian New Jersey. Urusannya membayar pajak mobil. Saya lihat antrian tidak panjang, sekitar 15 orang. Tapi kata teman saya, jumlah itu sudah termasuk banyak. Teman saya sudah mengisi formulir yang dikirim lewat pos ke rumahnya, dan ia membawa formulir itu untuk antri di meja yang telah ditentukan. Sekitar 10 menit dia menunggu dan selama menunggu, dia bilang pembayaran bisa pakai cek, money order, atau uang tunai. Kalaupun dia bayar pakai cek lewat pos, dijamin sampai, katanya mantap.

Saya merasa dia memberitahu dan sekaligus menyindir pos Indonesia, karena dia suatu kali pernah mengirim cek ke Indonesia untuk saya, dan tidak pernah sampai. Untunglah meja pembayaran memanggil namanya -kalau tidak mungkin kritiknya atas layanan di Indonesia bisa merembet kemana-mana. Saya hitung, tak lebih satu menit dan selesailah proses pembayaran. Kalau dihitung-hitung total, cuma butuh waktu sekitar setengah jam untuk membayar pajak mobil. Tidak perlu calo, dan tidak perlu minta ijin libur kerja.

Bayar rekening telpon, air, listrik atau tagihan lainnya lebih praktis lagi. Semuanya dilakukan lewat pos. Saya mencoba menenangkan diri, dengan mengatakan dalam hati saya sendiri kalau di Indonesia sistem pembayaran lewat bank sudah mulai berkembang. Tapi saya tak bisa menipu diri sendir kalau pembayaran lewat bank, di Indonesia, kena biaya komersial. Sedang di Amerika --saya sebenarnya sedikit terganggu dengan merujuk keunggulan Amerika-- pembayaranlewat pos nyaris tak dikenakan biaya tambahan ; cuma beberapa sen. Dan dijamin sampai.

Selama satu bulan di Amerika itu, saya sepertinya dibawa untuk mengenal layanan administrasi umum Amerika. Soalnya saya sempat-sempatnya menyaksikan teman saya itu, pada suatu hari, kaget menerima surat pemberitahuan pajak, yang menurutnya terlalu besar. Langsung dia telepon kantor pajak. Saya tidak mendenar rincian percakapan dengan pegawai di seberang sana, tapi usai telepon dia mengatakan jumlah yang besaritu terjadi karena dia salah mengisi formulir.

Saya mikir, bagaimana dalam waktu kurang dari dua menit seorang petugas langsung bisa menemukan kalau kekeliruan berawal dari kesalahan mengisi formulir. Tentu wajib pajak di Amerika Serikat, atau sebutlah di New Jersey, tidak sampai satu milyar orang, tapi saya juga yakin bukan cuma sepuluh orang. Suka atau tidak suka, mimpi atau tidak mimpi, saya mengakui kerapihan sistem administrasi Paman Sam. Untuk mencari file yang jumlahnya jutaan hanya butuh waktu menitan.

Tentu tidak ada sama sekali niat untuk membawa ukuran layanan adminsitrasi umum Amerika ke mana-mana. Ada juga kesadaran total kalau level seperti itu dicapai lewat tahapan evolusi ratusan tahun. Tapi saya apa yang dilakukan elit politik Indonesia sekarang ini -dengan jargon demi kepentingan rakyat-jauh dari mimpi saya itu. Semuanya mau serba cepat --cepat ganti presiden, cepat mengubah UUD 45, cepat mau mendapat dana IMF-- tapi hasilnya juga hanya untuk sesaat saja. Siapa yang menjamin kalau ganti presiden lantas semua masalah --oran yang bunuh-bunuhan, pengangguran, dan penegakan hukum-- akan langsung beres.

Bagaimanapun Indonesia rumah saya. Sambil berkemas-kemas pulang, saya membayangkan antrian imigrasi di Bandara Juanda Surabaya. Urusan yang cuma mencap passport itu saja, bisa saja menghasilkan antrian panjang. Saya goyangkan kepala. Pelan tapi cukup untuk menyadarkan saya untuk kembali bermimpi ; urusan adminstrasi umum yang cepat, murah, dan tidak ada calo... di Amerika Serikat.
***

 



 

ceritanet
kirim karya tulis
©listonpsiregar2000